BOOX Media
BOOX PULSE Belajar Bisnis

25 Merek Beras Fortifikasi Diduga Menyalahi Standar, dan Bentuknya Tidak Bisa Membuktikan Apa-apa

Pemerintah menemukan 25 merek beras berlabel fortifikasi yang diduga tidak memenuhi standar, sementara kandungan gizinya sendiri mustahil dinilai dari warna atau bentuk butiran.

IlustrasiTangan memegang kaca pembesar memeriksa segenggam beras putih di atas meja dapur gelap, memperbesar beberapa butir yang teksturnya nyaris tak terbedakan satu sama lain.
Ilustrasi: kandungan gizi beras fortifikasi tidak bisa diperiksa lewat mata atau kaca pembesar—hanya label, izin edar, dan uji laboratorium yang bisa memastikannya. Ilustrasi konseptual: BOOX Media, dibuat dengan bantuan AI

Menteri Pertanian sekaligus Kepala Badan Pangan Nasional (Bapanas) Andi Amran Sulaiman mengumumkan temuan 25 merek beras yang dipasarkan dengan klaim fortifikasi, tetapi diduga tidak memenuhi ketentuan yang tercantum di labelnya. Pemerintah menindaklanjuti dengan menarik produk-produk itu dari peredaran, mencabut izin, dan memproses hukum pihak yang diduga terlibat.

Masalahnya, beras fortifikasi memang dirancang supaya sulit dibedakan dari beras biasa. Produk ini adalah beras sosoh — beras yang sudah digiling dan dibersihkan dari kulit arinya — yang dicampur dengan kernel beras fortifikan, yaitu butiran buatan yang dibentuk menyerupai butiran beras asli namun membawa vitamin dan mineral tambahan.

Pemerintah, bukan konsumen, yang menemukan 25 merek itu bermasalah. Pertanyaannya: apa yang sebenarnya bisa diandalkan pembeli untuk memastikan beras yang mereka bawa pulang sesuai dengan klaim di labelnya?

Kernel yang Dibuat Menyerupai Beras Asli

Dua dokumen mengatur produk ini: SNI 9314:2024 untuk kernel fortifikan, dan SNI 9372:2025 untuk beras fortifikasi dalam bentuk campuran akhir. Pemeriksaan yang menemukan 25 merek bermasalah dilakukan berdasarkan kesesuaian dengan kedua standar ini. Berdasarkan SNI 9372:2025, setiap 100 gram beras fortifikasi harus mengandung vitamin B1 minimal 0,25 miligram, asam folat 0,25 sampai 0,38 miligram, vitamin B12 1,0 sampai 1,5 mikrogram, zat besi 3,50 sampai 5,25 miligram, dan seng 3,0 sampai 4,5 miligram. Fortifikasi pangan adalah strategi untuk membantu memenuhi kebutuhan zat gizi mikro masyarakat lewat bahan pangan yang sudah biasa dikonsumsi. Orang tidak perlu mengubah pola makan; nilai gizinya yang ditambahkan ke beras yang sudah mereka beli setiap hari.

Merendam atau Membakar Beras Tidak Membuktikan Apa-apa

Di media sosial beredar cara-cara sederhana untuk mengecek beras: merendamnya dalam air lalu melihat mana yang mengapung dan mana yang tenggelam, atau membakar dan menyangrainya untuk memperhatikan perubahan warna dan aromanya. Kedua metode itu tidak bisa mengukur kandungan vitamin B1, asam folat, vitamin B12, zat besi, atau seng di dalam beras. Warna, aroma, dan tekstur setelah dipanaskan sama sekali tidak berkorelasi dengan kadar zat gizi mikro yang diklaim di kemasan. Anggapan bahwa beras bermasalah bisa dikenali dari warnanya yang terlalu putih atau terlalu mengilap juga tidak berdasar. Cara memastikan kandungan gizi beras fortifikasi secara akurat hanya lewat pengujian di laboratorium terakreditasi, bukan eksperimen dapur.

Yang Bisa Dicek Konsumen di Rak Toko

Karena mata tidak bisa memverifikasi kandungan gizi, satu-satunya alat yang tersisa untuk konsumen ada di kemasan. Cek nama produk, identitas produsen, informasi nilai gizi, dan klaim kandungan vitamin serta mineral yang tercantum — jangan berhenti di tulisan besar "fortifikasi" atau "diperkaya vitamin" di bagian depan kemasan. Produsen beras fortifikasi wajib memiliki izin edar sesuai ketentuan, dan produknya harus melalui pengujian laboratorium terakreditasi sebelum beredar. Izin inilah yang membedakan klaim di kemasan dari klaim yang sudah diverifikasi pihak ketiga. Butiran kernel fortifikan memang kadang terlihat sedikit berbeda dari butiran beras lain dalam kemasan yang sama. Perbedaan itu bukan patokan kepatuhan: beras yang seluruh butirannya tampak seragam pun tidak otomatis lolos standar, dan sebaliknya, tidak perlu langsung curiga saat menemukan butiran yang tampilannya berbeda.

Toleransi yang Diatur Sampai Persentase

SNI 9372:2025 mengatur lebih dari sekadar angka minimum kandungan gizi. Standar ini menetapkan toleransi penyimpangan dari apa yang tertulis di label: Bapanas menyebut kandungan vitamin dan mineral setidaknya harus mencapai 80% dari nilai yang dicantumkan, sementara zat besi dan seng tidak boleh melebihi 120% dari nilai yang tertera. Bagi produk yang terbukti melenceng dari ambang itu, konsekuensinya bukan sekadar teguran. Pemerintah sudah menjalankan penarikan produk dari peredaran, pencabutan izin edar, hingga proses hukum terhadap pihak yang diduga terlibat pada 25 merek yang ditemukan Andi Amran Sulaiman.

BOOX PERSPECTIVE

Sebagian besar produk pangan masih bisa diuji lewat indra: rasa yang aneh, warna yang berubah, atau aroma yang tidak biasa biasanya jadi sinyal awal ada yang salah. Beras fortifikasi dirancang untuk lolos dari uji semacam itu — kernel fortifikan sengaja dibuat menyerupai butiran beras asli, sehingga produk yang kandungannya kosong pun bisa terlihat identik dengan yang memenuhi standar.

Itu yang membuat temuan 25 merek versi Andi Amran Sulaiman berbeda dari kasus pangan bermasalah pada umumnya. Konsumen di sini tidak punya cara mandiri untuk menguji sendiri, bahkan metode populer seperti merendam atau membakar beras tidak berkorelasi sama sekali dengan kandungan vitamin dan mineralnya. Yang tersisa hanya kepercayaan pada sistem: label yang jujur, izin edar yang benar-benar diverifikasi, dan lembaga yang mau menindak saat ada yang menyimpang.

Ambang toleransi 80 sampai 120 persen dalam SNI 9372:2025 mengakui bahwa produksi pangan tidak pernah presisi sempurna. Tapi begitu 25 merek ditarik dari peredaran, izinnya dicabut, dan sebagian diproses hukum, angka toleransi itu berhenti jadi sekadar dokumen standar — ia jadi alasan sebuah produk boleh atau tidak boleh ada di rak toko.

Sumber & transparansiBerdasarkan laporan CNBC Indonesia ↗Fakta merujuk pada sumber tersebut; kesimpulan editorial adalah analisis BOOX.