BOOX Media
BOOX PULSE Suara Pendiri

Andy Dunn Menjual Bonobos ke Walmart, Setahun Setelah Sebuah Episode Bipolar Membawanya ke Rumah Sakit

Setahun setelah episode bipolar membawanya ke ruang gawat darurat, Andy Dunn menjual Bonobos ke Walmart senilai $310 juta. Ia kini mengakui bahwa keberhasilan perusahaan itu pernah menjadi ukuran harga dirinya sendiri.

Kemeja putih terlipat rapi di atas meja kayu gelap, dengan satu utas benang tertarik dari jahitan lengan yang naik dan membentuk simpul longgar mengambang di udara di atasnya, disorot cahaya hangat dari atas.
Satu utas yang tertarik lepas dari jahitannya sendiri — jarak antara 'referendum atas diri' dan 'itu bukan saya'. Ilustrasi konseptual: BOOX Media, dibuat dengan bantuan AI

Pada suatu malam di Maret 2016, di apartemennya di New York, Andy Dunn mengalami episode manik yang membuatnya yakin dirinya adalah presiden Amerika Serikat sekaligus Batman. Dalam kondisi itu ia membenturkan kepalanya ke pintu; Manuela, kekasihnya saat itu dan kini istrinya, bergegas menghentikan pendarahan, tapi dalam keadaan yang berubah Dunn balas memukulnya. Ketika ibu Manuela datang membantu, Dunn juga melawannya. Delapan petugas polisi akhirnya datang untuk melumpuhkannya, dan ia menghabiskan satu minggu di bangsal psikiatri Rumah Sakit Bellevue, Manhattan.

Dunn adalah salah satu pendiri Bonobos, brand pakaian pria yang ia bangun bersama Brian Spaly dengan modal awal $60.000 dari kantong sendiri, dijual lewat trunk show dan mulut ke mulut. Dalam setahun, bisnis itu mencapai run rate pendapatan tahunan $2 juta—istilah untuk memproyeksikan pendapatan setahun berdasarkan performa bulan-bulan terakhir. Accel dan Lightspeed menyuntik $18,5 juta pada 2010, Nordstrom ikut berinvestasi $16,4 juta pada 2012 sekaligus memajang Bonobos di rak tokonya, dan dua tahun berikutnya Bonobos mengumpulkan $85 juta lagi. Pada 2017, dengan pendapatan tahunan sekitar $120 juta, Walmart mengakuisisi Bonobos senilai $310 juta.

Jarak antara kedua peristiwa itu hanya satu tahun. Dari luar, lintasannya terlihat seperti kisah startup sukses biasa: modal kecil, pertumbuhan cepat, exit besar—istilah untuk momen founder atau investor menjual kepemilikannya di sebuah perusahaan. Tapi sembilan tahun kemudian, Dunn menyebut periode itu dengan cara berbeda: sebagai masa ketika, dalam kata-katanya sendiri, Bonobos "wrapped up in my ego and my identity", dan berhasil-tidaknya perusahaan itu menjadi "a direct referendum on me as a person". Pertanyaan yang lebih menarik bukan pada angka $310 juta itu, melainkan pada apa yang terjadi begitu ukuran keberhasilan bisnis berpindah menjadi ukuran keberhasilan pribadi. Artikel ini menelusuri urutan kejadian yang membawanya ke titik itu, dan bagaimana ia mencoba menariknya kembali.

Sifat yang Membangun Bonobos, Kriteria yang Mendiagnosis Dunn

Dunn didiagnosis dengan Bipolar I—kondisi kesehatan mental yang ditandai pergeseran mood dan energi yang ekstrem, dari episode manik penuh hingga periode depresi berat—pada tahun terakhirnya kuliah di Northwestern University, 1999. Seperti banyak mahasiswa lain, ia menghabiskan malam-malamnya berpesta tanpa terlalu memperhatikan naik-turun suasana hatinya. Selama sekitar lima tahun setelah diagnosis itu, ia nyaris tidak menunjukkan gejala. Lalu pada usia 28, bersama Brian Spaly, ia mendirikan Bonobos. Dunn menyebut kehidupan sebagai founder—pendiri yang juga menjalankan operasional harian perusahaannya—sebagai sesuatu yang sempat 'menutupi' kondisinya, sebelum keduanya akhirnya saling memperkuat. Ia menjelaskan kaitan itu lewat kriteria klinis untuk hipomania, periode energi dan mood yang meningkat berkepanjangan yang belum sampai pada episode manik penuh: "The characteristics of an entrepreneur are really convergent with the diagnostic criteria for what's called hypomania," katanya kepada Fortune. "The flight of ideas, elevated speech patterns, decreased need for sleep, huge amounts of energy for work, bursts of creativity, a feeling that the universe is conspiring on your behalf, delusions of grandeur, risk-seeking behavior…It's more or less an entrepreneur having a good day."

Malam di Maret 2016

Menjelang malam itu, tekanan sudah menumpuk dari beberapa arah sekaligus. Spaly, rekan pendirinya, sudah keluar dari perusahaan. Eksekutif silih berganti masuk dan keluar. Dunn sendiri membakar uang untuk gaya hidup di New York City, dan selama itu ia mengaku 'dalam penyangkalan' terhadap diagnosisnya sendiri. Semuanya pecah pada satu malam di Maret 2016, di apartemennya, ketika pikirannya dipenuhi keyakinan bahwa ia adalah presiden Amerika Serikat sekaligus Batman. Ia membenturkan kepalanya ke pintu; Manuela bergegas menghentikan pendarahan, tapi dalam kondisi berubah itu Dunn balas memukulnya, dan ketika ibu Manuela datang membantu, ia melawannya juga. Delapan petugas polisi datang untuk melumpuhkannya. Dunn menghabiskan satu minggu di bangsal psikiatri Rumah Sakit Bellevue, Manhattan. Butuh enam bulan sesudah malam itu untuk menemukan kombinasi obat yang membuatnya kembali merasa seperti dirinya sendiri. Kasusnya disegel dan dihapus dari catatan. Bonobos tetap mempertahankannya sebagai CEO hingga perusahaan itu terjual setahun kemudian. Manuela tetap di sampingnya sepanjang proses itu, termasuk menjenguknya di rumah sakit, dan keduanya menikah tak lama setelahnya.

Referendum atas Diri Sendiri

Dalam wawancara dengan Fortune, Dunn mengucapkan kalimat yang menjadi inti dari bagaimana ia sekarang membaca ulang tahun-tahun membangun Bonobos: "[Bonobos] was very much wrapped up in my ego and my identity…Whether it succeeded or not was a direct referendum on me as a person." Setiap keputusan produk, setiap putaran pendanaan, setiap angka penjualan bulanan berubah menjadi bukti tentang siapa dirinya. Ia membandingkannya secara langsung dengan cara ia memperlakukan Pie, perusahaan yang ia dirikan setelah Bonobos: "And now, with Pie, it's so important to me that we win, and I have so much belief this is going to be a big and important and enduring company. And I know that it's a company—it's not me." Jarak antara dua kalimat itu adalah jarak yang ia tempuh sejak malam di Bellevue: dari perusahaan sebagai cermin diri, menjadi perusahaan sebagai sesuatu yang berdiri terpisah darinya. Ia menandai akhir babak Bonobos dengan lebih ringan: "You know what? Like, I think I'm done working on making men's butts look good in their pants."

Dari Mencarikan Jodoh untuk Ibu Mertua ke 310.000 Pengguna

Setelah Bonobos, Dunn awalnya mencoba mencarikan jodoh untuk ibu mertuanya, dan dari situ muncul ide aplikasi kencan untuk lansia. Ide itu gagal di pasar, lalu ia mengubah arah platform tersebut menjadi ruang untuk membangun hubungan platonis. Pie resmi berdiri pada 2020, tepat ketika lockdown pandemi membuat wabah kesepian semakin terasa, dengan misi menciptakan "a deeper spirit of belonging, community, in friendship." Dua tahun pertama, aplikasi itu nyaris tidak bergerak. Titik baliknya datang ketika Dunn pindah dari New York ke Chicago dan mendapati kota itu sebagai pasar yang, dalam kata-katanya, terabaikan. Pengguna muda mulai bergabung, memakai Pie untuk menemukan atau membuat acara lokal, melihat aktivitas teman dan komunitas, mengobrol, dan membangun hubungan berulang lewat grup minat. Generasi Z, yang sering distereotipkan antisosial, justru jadi pendorong utamanya: "I started to notice that Gen Z was getting good at this, running clubs and art markets and watch parties," kata Dunn. Enam tahun sejak berdiri, Pie sudah menjangkau 50 negara bagian dan 100 kota di Amerika Serikat, dengan basis pengguna terbesar di New York, Los Angeles, Austin, Boston, dan San Francisco. Perusahaan ini telah mengumpulkan $24 juta dari investor termasuk Ev Williams, Forerunner, Renegade Partners, dan Origin Ventures. Pada Juli tahun ini, Nadya Okamoto—pendiri klub lari Zoomies di New York, pencipta brand perawatan menstruasi August, dan kreator dengan 4,4 juta pengikut TikTok—bergabung sebagai co-founder. Pie kini mencatat lebih dari 310.000 pengguna.

BOOX PERSPECTIVE

Dunn sendiri yang menyusun kaitan antara malam di Bellevue dan cara ia sekarang menjalankan Pie—bahwa krisis itulah yang mengubah filosofinya. Itu narasinya sendiri, dituturkan ulang di TED talk dan bukunya, Burn Rate. Fortune tidak punya cara independen untuk memverifikasi bahwa satu peristiwa menyebabkan yang lain, dan kami juga tidak.

Yang bisa diverifikasi adalah kontrasnya, karena kontras itu ada dalam kata-katanya sendiri: "a direct referendum on me as a person" versus "it's not me." Fusi antara diri dan brand semacam ini bukan gejala eksklusif Dunn. Ia muncul lebih mudah ketika seorang founder membangun perusahaan yang identik dengan wajah atau ceritanya sendiri, sesuatu yang lazim terjadi di ekosistem startup mana pun, termasuk di Indonesia, tempat media dan investor sering menagih founder untuk tampil sebagai personal brand sejak hari pertama. Masalahnya bukan pada tampil di depan; masalahnya muncul ketika setiap metrik bisnis mulai dibaca sebagai skor pribadi.

Yang lebih meyakinkan justru rutinitas yang menopangnya sesudah malam itu: satu dekade pemeriksaan mingguan dengan dokter, dan sepuluh tahun tanpa absen satu hari pun dari jadwal obat.

Sumber & transparansiBerdasarkan laporan Fortune ↗Fakta merujuk pada sumber tersebut; kesimpulan editorial adalah analisis BOOX.