ASICS x atmos Pakai Pandan, Bukan Batik, untuk Kolaborasi Pertama di Indonesia
GEL-KAYANO 12.1 "ARCHIPELAGO" mengambil hijau pandan sebagai warna utama, lengkap dengan aroma pandan di pop-up Plaza Senayan.

ASICS dan atmos memperkenalkan kolaborasi pertama mereka di Indonesia pada Kamis, 8 Oktober 2026, di atmos Pop Up, Plaza Senayan, Jakarta. Produknya bernama GEL-KAYANO 12.1 "ARCHIPELAGO", dan warna yang mendominasi sepatu ini bukan merah putih atau motif batik, melainkan hijau pandan.
Pilihan itu datang dari President Director atmos Indonesia, Marcel Lukman. Ia menyebut hijau sebagai warna yang ia temukan berulang di keseharian Indonesia — bukan di kain tradisional, tapi di arsitektur dan warung kaki lima.
"Ketika melihat banyak warna hijau yang sebenarnya sering digunakan dalam arsitektur Indonesia, pada elemen grafis arsitektur, hingga berbagai makanan kaki lima seperti warung pecel lele, warteg, dan lainnya, warna hijau memang banyak ditemukan di Indonesia," kata Marcel di acara peluncuran, menurut keterangan yang diterima Liputan6.
Hijau Pandan, Merah, dan Gradasi dari Warna Makanan
Hijau pandan jadi warna dominan pada upper sepatu, dipadukan dengan aksen merah, off-white, dan warna netral hangat. Bagian upper memakai open mesh dengan silver synthetic overlays, ditambah detail TPU cutting-welder yang mempertegas kesan teknis tanpa mengubah siluet khas seri GEL-KAYANO 12. Bagian insole mengolah referensi pola secara minimal, sementara gradasi pada bagian bawah sepatu mengambil inspirasi dari warna makanan dan minuman — detail yang tidak dijabarkan lebih lanjut oleh kedua brand, tapi mengarah pada palet kuliner yang sama dengan tema pandan.
Nama Archipelago dan Alasan di Baliknya
Nama "ARCHIPELAGO" merujuk pada Indonesia yang terdiri dari lebih dari 17.000 pulau. Menurut materi peluncuran, bentang geografis ini menjadi dasar gagasan tentang masyarakat yang tetap terhubung lewat budaya, tradisi, dan pengalaman bersama — dan pandan dipakai sebagai penghubung antara gagasan besar soal kepulauan itu dengan sesuatu yang dekat dengan keseharian orang Indonesia, yaitu aroma dapur dan kue tradisional. President Director ASICS Indonesia, Yuya Sugiyama, menjelaskan filosofi di balik kolaborasi ini. "ASICS x ATMOS GEL-KAYANO 12.1 'ARCHIPELAGO' merupakan wujud komitmen kami untuk menciptakan sneaker yang menghadirkan kenyamanan khas ASICS, sekaligus memadukan estetika stylish yang merepresentasikan identitas budaya lokal," ujarnya.
Pop-up dengan Aroma Pandan dan Film dari Edwin
Pop-up di Plaza Senayan berlangsung 8 sampai 12 Oktober 2026. Di dalamnya, pengunjung bisa mengenali konsep di balik produk lewat instalasi storytelling dan elemen sensorik, termasuk aroma pandan yang dihadirkan langsung di ruang presentasi. Bagi Marcel, pilihan pandan juga personal. "Ketika saya bepergian ke luar negeri lalu kembali ke Indonesia, saya selalu merindukan beberapa makanan Indonesia. Salah satunya berkaitan dengan pandan atau gula merah, seperti berbagai hidangan penutup yang kita punya, misalnya kue lapis dan sebagainya," tuturnya. Aktivasi ini juga dilengkapi kampanye visual yang dikembangkan bersama sineas Indonesia Edwin.
Teknologi di Baliknya dan Jadwal Rilis
Di luar cerita warna dan aroma, GEL-KAYANO 12.1 memakai tooling dari GEL-NIMBUS 17 pada bagian sole unit, dipadukan dengan teknologi FLUIDRIDE, bantalan GEL di bagian depan dan belakang kaki, serta kombinasi FlyteFoam dan FF BLAST. Kombinasi ini dirancang untuk mendukung bantalan, respons, stabilitas, dan kenyamanan saat dipakai sehari-hari. Sneaker ini resmi dirilis pada 9 Oktober 2026 melalui gerai atmos di Indonesia, Jepang, Malaysia, dan Filipina, serta kanal resmi ASICS Indonesia. Harga produk belum disebutkan dalam materi yang kami baca.
Yang membedakan ARCHIPELAGO dari kolaborasi lokal kebanyakan bukan soal rilis globalnya yang serentak di empat negara, tapi pilihan referensinya: alih-alih menempelkan motif batik atau wayang sebagai jalan pintas ke "identitas lokal", ASICS dan atmos memilih pandan — sesuatu yang tidak pernah masuk kategori warisan budaya resmi, tapi lebih dekat ke memori sehari-hari orang Indonesia.
Apakah pendekatan ini akan konsisten dipakai pada kolaborasi berikutnya atau hanya eksperimen sekali jalan, materi yang kami baca tidak menjelaskan. Yang jelas tercatat: harga produk dan tanggal berakhirnya pop-up di luar 8-12 Oktober belum dikonfirmasi di sumber manapun yang tersedia saat artikel ini ditulis.