Audrey Finocchiaro Merintis The Nitro Bar dari Gerobak Kayu Basement dan Kartu Kredit yang Habis Limitnya
The Nitro Bar bermula dari gerobak kopi kayu bekas yang dibiayai kartu kredit $1.500 pada 2017. Menurut pendirinya, Audrey Finocchiaro, dorongan awalnya datang dari pengalaman buruk bekerja di industri restoran, bukan dari peluang pasar kopi yang sedang naik daun.

Musim panas 2016, Audrey Finocchiaro baru lulus dari Marymount Manhattan College dan pulang ke Rhode Island. Ia kembali bekerja di restoran bersama pacarnya, Sam, sambil mengambil kerja sampingan memantau akun media sosial di malam hari.
Keduanya sering mengeluhkan hal yang sama: manajemen restoran yang menurut mereka terlalu keras terhadap staf, padahal anggaran yang mereka punya sendiri juga terbatas. Audrey dan Sam yakin sebuah bisnis bisa dijalankan dengan baik ke orangnya sekaligus tetap untung — gagasan yang belakangan menuntun keputusan mereka lebih jauh daripada resep kopi apa pun.
Di waktu luang, mereka menyusun gerobak kopi tiga sisi dari kayu bekas yang ditemukan di basement rumah Audrey, dibantu ayahnya untuk sketsa desainnya. Gerobak itu dipasangi roda sepeda, dilipat agar muat di bagasi Subaru Outback milik Audrey, dan mulai beroperasi pada 2017 — dibiayai kartu kredit senilai $1.500 yang saat itu sudah maxed out, limitnya sudah habis terpakai.
Delapan tahun kemudian, bisnis kecil bernama The Nitro Bar itu punya 145 karyawan, ratusan ribu pengikut media sosial, dan menurut pengakuan Audrey ke Business Insider, pendapatan tujuh digit dolar tahun lalu dengan target delapan digit tahun ini. Pertanyaannya bukan cuma bagaimana gerobak reyot itu bisa sampai sejauh ini, tapi apa yang sebenarnya berubah dan apa yang sengaja dijaga tetap sama.
Gerobak yang Nyaris Tidak Berfungsi
Untuk berjualan di jalanan Providence, Audrey dan Sam mengurus peddler's permit, izin resmi untuk berdagang keliling di ruang publik. Mereka biasa mampir dulu membeli donat dari Allie's Donuts sebelum membuka lapak, lalu menawarkannya ke pelanggan yang awalnya cuma datang untuk kopi. Di awal, gerobak itu nyaris tidak laku. Salah satu dari mereka kadang berpura-pura jadi pembeli di depan gerobak supaya orang lain merasa lebih wajar untuk mendekat, lalu diam-diam bertukar tempat dengan yang lain. Audrey menyebut cara ini sangat memalukan baginya sendiri. Pendapatan harian gerobak waktu itu $40 sampai $60, kadang tembus lebih dari $100. Ketika mereka membawa gerobak ke rumah sakit tempat ibu Audrey bekerja, angkanya bisa naik sampai sekitar $400, cukup untuk menutup kebutuhan sehari-hari, meski keduanya mengaku kerja setiap hari itu melelahkan.
Satu Panggilan Telepon dari Brown University
Titik baliknya datang saat Sam membawa gerobak ke kampus Brown University. Satu jam kemudian ia menelepon Audrey: semua stok kopi mereka habis terjual, sesuatu yang belum pernah terjadi sebelumnya. Mereka lantas membawa gerobak ke Brown setiap hari, dan basis pelanggan mereka mulai tumbuh. Di kampus itu dan di pasar petani setempat, mereka bertemu banyak orang, termasuk satu keluarga lokal yang rutin mengikuti mereka dari satu acara ke acara lain. Suatu hari keluarga itu mengundang Audrey dan Sam ke rumah mereka, dan menyatakan ingin berinvestasi. Keesokan harinya, $100.000 masuk ke rekening The Nitro Bar. Materi yang tersedia tidak menyebutkan syarat investasi ini, berapa persen kepemilikan yang dilepas, atau bentuk kesepakatannya. Yang jelas, modal awal The Nitro Bar datang dari relasi personal, sebuah keluarga yang mengenal mereka dari gerobak keliling, bukan dari lembaga keuangan formal. Delapan bulan setelah gerobak itu pertama kali beroperasi, Audrey dan Sam akhirnya berani berhenti dari pekerjaan restoran mereka; sumbernya tidak merinci apakah keputusan itu terjadi tepat setelah investasi cair atau karena akumulasi penjualan gerobak selama itu. Sebelum investasi itu, The Nitro Bar punya 15 akun wholesale, sebutan untuk kafe atau toko lain yang membeli biji kopi mereka untuk dijual ulang. Setelah dana cair, jumlahnya naik ke lebih dari 60 akun, dan mereka membeli fasilitas produksi sendiri untuk memenuhi permintaan itu. Audrey mengatakan banyak orang salah paham bahwa begitu dapat investasi, urusan keuangan otomatis selesai. Kenyataannya, biaya terus bertambah seiring bisnis membesar, dari membangun fasilitas produksi sampai merekrut lebih banyak orang. Untuk mendanai dua toko pertama mereka, di Newport dan Providence, Audrey dan Sam mengambil empat pinjaman terpisah selama masa konstruksi.
Antrean yang Muncul Setelah TikTok
Sekitar dua setengah tahun sebelum wawancara ini terbit, The Nitro Bar mulai memposting lebih agresif di TikTok. Menurut Audrey, konten itu mulai menyebar luas dengan sendirinya. Musim panas itu, antrean mengular di depan toko mereka setiap hari, dan Audrey merasa ada sesuatu yang berbeda. Di pop-up, lapak sementara, mereka di Little Compton, kota kecil di Rhode Island, lebih dari 75 orang datang, jumlah yang menurut Audrey membuat mereka yakin strategi itu benar-benar berhasil. Ia juga menyebut video-video ayahnya, seorang pelanggan setia Dunkin' Donuts, mencoba racikan mereka seperti black raspberry chip latte sebagai salah satu konten yang paling ia sukai untuk dibuat. Ia juga rutin bicara soal kesehatan mental di akun-akun itu, topik yang menurutnya masih kurang dibahas dan ingin ia angkat supaya orang lain merasa tidak sendirian. Saat ulasan negatif pertama muncul, Audrey mengaku rasanya seperti diputuskan pacar. Ia belajar menerimanya dan tetap jalan. Sekarang The Nitro Bar punya 227.000 pengikut Instagram dan 648.000 pengikut TikTok, dengan video yang menurut Audrey ditonton jutaan kali.
Sam Mengurus Operasional, Audrey Mengurus Budaya
Di balik ekspansi ke lokasi kelima yang kini sedang mengurus izin di New York City, pembagian kerja Audrey dan Sam cukup jelas. Sam memegang hampir semua sisi operasional bisnis, sementara Audrey berfokus pada budaya kerja, branding, pemasaran, dan ekspansi. Bagi Audrey, itu bukan sekadar pembagian tugas administratif. Ide awal mendirikan The Nitro Bar datang dari rasa lelah diperlakukan buruk saat bekerja di restoran orang lain, dan keinginan membuktikan bisnis bisa dijalankan baik ke orangnya sekaligus tetap untung. Tujuannya sekarang, katanya, adalah berbuat baik, membuat orang lain merasa senang, dan membuat semua orang merasa diterima di dalamnya. Materi yang tersedia tidak merinci bagaimana filosofi itu diterjemahkan ke kebijakan konkret bagi 145 karyawan yang kini bekerja di The Nitro Bar, soal gaji, jam kerja, atau cara menegur kesalahan misalnya. Yang bisa dipastikan dari ceritanya sendiri: keputusan yang paling ia ingat bukan soal resep kopi mana yang paling laku, melainkan soal siapa yang dipercaya memegang operasional harian. Itu jauh lebih dekat dengan pengalamannya sebagai karyawan restoran, jauh sebelum penjualan The Nitro Bar disebut tembus tujuh digit dolar tahun lalu, klaim yang disampaikan Audrey ke Business Insider dan belum diverifikasi secara independen.
Detail yang paling gampang diabaikan dari cerita ini adalah urutannya: keputusan soal bagaimana memperlakukan karyawan datang sebelum ada karyawan untuk diperlakukan. Audrey dan Sam merumuskannya saat masih bekerja untuk restoran orang lain, jauh sebelum The Nitro Bar punya satu pegawai pun. Modal $1.500 yang sudah habis terpakai membuat mereka tidak punya ruang untuk menunda keputusan itu ke nanti kalau sudah besar, sesuatu yang lebih mudah dijanjikan ketika ada modal ventura menunggu return.
Investasi $100.000 dari satu keluarga di Rhode Island juga pola yang jarang bisa direplikasi lewat proposal atau pitch deck. Materi yang tersedia tidak menyebutkan berapa persen kepemilikan yang dilepas Audrey dan Sam untuk dana itu, celah yang membuat cerita ini terdengar lebih mulus daripada kemungkinan sebenarnya, sebab modal berbasis relasi personal biasanya datang dengan ekspektasi informal yang sama nyata dengan kontrak formal.
Pola followers-jadi-kunjungan yang dialami The Nitro Bar di TikTok butuh dua setengah tahun konsisten sebelum antrean benar-benar mengular, dan basis 227.000 pengikut Instagram serta 648.000 pengikut TikTok itu terbangun bertahun-tahun. Operator kecil di Indonesia yang ingin meniru format kontennya, video keluarga, cerita personal soal kesehatan mental, perlu memperhitungkan horizon waktu itu, sesuatu yang sulit dipercepat hanya dengan mengubah format video.