Business Plan Rp35,5 Juta: Begini Cara Menghitung Modal Awal di Buku Step Branding
Episode 9 seri Step Branding membahas cara menyusun business plan sederhana, lengkap dengan simulasi modal dan proyeksi laba tiga bulan pertama.

Rp35.500.000. Itu angka total modal awal dalam simulasi business plan yang ditulis David Liusman, salah satu pendiri BOOX, di episode kesembilan buku Step Branding — Dari Nama hingga Laris Manis.
Rinciannya spesifik: Rp15 juta untuk produksi 100 pcs produk, Rp5 juta untuk desain dan kemasan, Rp2,5 juta untuk legalitas seperti HAKI atau PIRT/BPOM, Rp3 juta untuk foto produk dan konten awal, dan Rp10 juta untuk operasional tiga bulan termasuk sewa, internet, dan gaji admin.
Yang menarik bukan besaran angkanya — tiap usaha punya kebutuhan modal berbeda — melainkan cara menyusunnya. Buku ini menolak anggapan bahwa business plan harus tebal dan penuh istilah teknis. Episode 9 ini masuk ke Bab III, Perhitungan Cuan, tepat setelah episode sebelumnya membahas cara menghitung HPP, margin, dan harga jual.
Enam Bagian yang Wajib Ada Sebelum Mulai Jualan
Menurut buku ini, business plan awal cukup berisi enam bagian. Pertama, ringkasan brand: nama, produk utama, target pasar, dan positioning singkat. Kedua, daftar produk atau SKU beserta keunikan dan harga jualnya. Ketiga, analisa pasar singkat yang mencakup target audiens, tren yang relevan, dan dua sampai tiga kompetitor utama. Bagian keempat adalah perencanaan keuangan awal — modal, biaya tetap, biaya variabel, dan proyeksi omset untuk enam sampai dua belas bulan. Kelima, strategi distribusi: lewat marketplace, website, reseller, atau toko offline. Keenam, strategi pemasaran awal yang mencakup media sosial, konten, iklan digital, dan kolaborasi influencer. Buku ini menyusunnya dalam bentuk tabel, bukan esai panjang — sesuai dengan prinsip yang ditekankan di awal bab: jelas dan langsung bisa dieksekusi.
Memisahkan Biaya Tetap dari Biaya Variabel
Setelah modal awal dihitung, langkah berikutnya menurut buku ini adalah memisahkan dua jenis biaya yang sering tercampur di kepala pemilik usaha baru. Biaya tetap adalah biaya yang tetap keluar setiap bulan meskipun tidak ada penjualan sama sekali — contohnya sewa kantor atau gudang, gaji karyawan, internet, dan software berlangganan. Biaya variabel sebaliknya, muncul mengikuti volume penjualan: bahan baku, ongkos produksi, komisi reseller, dan biaya pengiriman. Pemisahan ini yang nantinya dipakai untuk menyusun proyeksi laba — karena biaya tetap tidak berubah walau penjualan naik, sementara biaya variabel ikut membesar.
Simulasi Tiga Bulan: Dari Rugi ke Untung
Buku ini memberi contoh proyeksi bisnis selama tiga bulan pertama. Bulan pertama, estimasi penjualan 100 pcs dengan harga jual rata-rata Rp30.000, menghasilkan omzet Rp3.000.000. Setelah dikurangi biaya tetap Rp2.000.000 dan biaya variabel Rp1.200.000, hasilnya rugi Rp200.000. Bulan kedua, penjualan naik ke 150 pcs, omzet Rp4.500.000, biaya tetap tetap Rp2.000.000, biaya variabel naik ke Rp1.800.000 — labanya menjadi Rp700.000. Bulan ketiga, penjualan 200 pcs, omzet Rp6.000.000, biaya variabel Rp2.400.000, laba naik ke Rp1.600.000. Buku ini menandai pola ini sebagai pertumbuhan bertahap, bukan ekspektasi instan — rugi di bulan pertama bukan tanda gagal, selama proyeksinya memang disusun dari awal.
Kanal Distribusi dan Budget Pemasaran yang Disebutkan
Untuk distribusi, buku ini menyebut empat kanal: marketplace seperti Tokopedia, Shopee, dan TikTok Shop; media sosial seperti Instagram, TikTok, dan Facebook; reseller melalui komunitas kecil dengan komisi menarik; dan offline lewat event bazaar atau pop-up store kecil. Untuk pemasaran awal, angkanya juga disebutkan konkret: kolaborasi dengan micro-influencer dengan budget Rp500.000 sampai Rp2.000.000 per influencer, serta iklan digital ringan di Meta Ads dan TikTok Ads dengan budget awal Rp1 juta sampai Rp2 juta. Strategi lain yang disebut adalah soft launching lewat promo pre-order dan bundling produk.
Hal yang paling mudah dilewatkan dari simulasi ini: bulan pertama dirancang rugi. Buku ini tidak menyembunyikan angka minus Rp200.000 itu — justru menjadikannya bagian dari proyeksi, bukan kegagalan yang harus dihindari. Bagi pemilik usaha baru, ini berbeda dari kebiasaan menyusun rencana keuangan yang hanya menampilkan skenario optimis.
Buku ini juga tidak menjelaskan bagaimana menyesuaikan angka-angka tersebut untuk jenis usaha yang berbeda — simulasinya spesifik untuk produk fisik dengan skema produksi 100 pcs pertama. Pembaca dengan model bisnis jasa atau makanan siap saji perlu menerjemahkan kerangkanya sendiri, karena materi ini tidak merinci variasi itu.