Digugat Groupe SEB dan Meyer, Caraway Pilih Melawan di Billboard
Februari 2026, dua konglomerat pemilik T-fal dan KitchenAid menggugat Caraway soal klaim iklan non-tongkat anti lengket mereka. Caraway tidak diam — mereka memasang petisi, billboard, dan menjadikan gugatan itu bahan kampanye sepanjang tahun.

Februari 2026, Groupe SEB dan Meyer mengajukan gugatan terhadap Caraway, startup peralatan masak asal Amerika Serikat. Keduanya menuduh Caraway membuat klaim iklan yang salah dan menyesatkan. Groupe SEB menaungi merek seperti T-fal dan All-Clad, sementara Meyer menaungi KitchenAid dan Rachael Ray — merek-merek yang akrab di dapur banyak orang.
Inti masalahnya adalah cara Caraway membicarakan PFAS, singkatan untuk sekelompok bahan kimia sintetis yang dipakai luas di berbagai produk industri dan dikenal sulit terurai. Menurut Badan Perlindungan Lingkungan Amerika Serikat (EPA), ada ribuan jenis PFAS, dan keberadaannya kini ditemukan dalam darah manusia maupun lingkungan — membuat konsumen dan regulator negara bagian makin mengawasi isu ini.
Jordan Nathan, pendiri dan CEO Caraway, menyebut target internal timnya tahun ini adalah membuat Caraway "impossible to ignore" — mustahil diabaikan. Rencana awalnya berpusat pada kampanye luar ruang pertama perusahaan. Gugatan dari dua raksasa industri itu datang di luar rencana, tapi Caraway tidak memilih diam.
Sejak gugatan diajukan, Caraway menjadikannya pusat strategi marketing sepanjang tahun. Di halaman utama situs mereka kini ada tab berjudul "Join the Fight", lengkap dengan tautan ke dokumen gugatan asli dan mosi pembatalan yang diajukan Caraway sendiri.
Petisi, Billboard, dan Judul LinkedIn yang Diubah
Tak lama setelah gugatan masuk, Nathan mengumpulkan seluruh timnya dalam rapat gabungan. "Lawsuits can be scary, but we really mobilized the team," katanya kepada Modern Retail. Langkah pertama Caraway adalah merilis petisi yang mengajak pelanggan menandatangani seruan "Tell Big Cookware: We Don't Want Forever Chemicals in our Homes" — hingga kini terkumpul lebih dari 50.000 tanda tangan. Caraway lalu memasang billboard dekat kantor Groupe SEB di New Jersey, bertuliskan "Groupe SEB, go pick on someone your own size." Dari Mei hingga Juni, puluhan materi promosi serupa — baik cetak maupun digital — terpasang di New York City dengan pesan senada: "big cookware is suing us." Nathan sendiri untuk sementara mengganti titelnya di LinkedIn menjadi "sued by big cookware", dan sejak itu rutin memposting perkembangan kasus hampir setiap minggu di akun pribadinya.
Somasi Balik dari Groupe SEB dan Meyer
Taktik ini tidak lewat tanpa reaksi. Pada 27 Juli, Caraway menerima surat cease and desist dari Groupe SEB dan Meyer yang menuntut Caraway berhenti memakai logo dan merek dagang kedua perusahaan dalam materi iklannya tanpa izin. Caraway merespons dengan merilis video berisi disclaimer bahwa mereka tidak berafiliasi dengan "big cookware", termasuk memasang kuis "klarifikasi" di salah satu landing page mereka. Carmine Zarlenga, pengacara yang mewakili Groupe SEB dan Meyer, menyatakan kepada Modern Retail bahwa gugatan ini murni soal iklan yang jujur. "Caraway launched an aggressive advertising campaign making unsubstantiated claims about an entire category of products that federal regulators, including the FDA and the Consumer Product Safety Commission, have consistently found to be safe," katanya. Ia juga menyinggung bahwa National Advertising Division (NAD) — badan self-regulasi periklanan di bawah Better Business Bureau — sudah merekomendasikan Caraway menghentikan sejumlah klaim tersebut tahun lalu, namun menurut Zarlenga rekomendasi itu tidak dipatuhi sepenuhnya.
Apa yang Sebenarnya Dipersoalkan dalam Gugatan?
Gugatan Groupe SEB dan Meyer berpusat pada beberapa hal spesifik. Pertama, cara Caraway membicarakan PTFE, polimer yang digunakan dalam lapisan anti lengket banyak produk Groupe SEB dan Meyer. Gugatan menyebut penggunaan PTFE dalam kondisi normal "has never been proven to pose any health risks", dan menuduh Caraway memanfaatkan ketakutan konsumen terhadap PFAS secara umum untuk membuat produk yang sebenarnya aman tampak berbahaya. Kedua, soal kepatuhan terhadap rekomendasi NAD. Tahun lalu, atas permintaan Cookware Sustainability Alliance — organisasi nirlaba yang beranggotakan Groupe SEB dan Meyer — NAD menginvestigasi klaim iklan Caraway. NAD merekomendasikan Caraway berhenti membicarakan "Teflon flu" dengan cara yang menyiratkan produk kompetitor beracun. NAD juga menyatakan Caraway punya dasar yang cukup untuk mengklaim produknya bebas PFAS dan non-toksik, tapi tidak punya cukup bukti untuk klaim komparatif bahwa produk kompetitor tidak aman. Nathan membalas lewat email ke Modern Retail bahwa rekomendasi NAD itu soal konteks penyampaian cerita asal-usul Teflon flu-nya, bukan larangan menceritakannya sama sekali. "We adjusted our marketing accordingly," tulisnya. Dalam mosi pembatalan gugatan, Caraway juga menunjukkan bahwa Groupe SEB dan Meyer sendiri menjual produk cookware keramik yang mereka promosikan sebagai "toxin-free" dan bebas PFAS, PFOA, serta PTFE.
Cerita Asal Caraway dan Riset tentang Klaim "Non-Toksik"
Nathan bercerita ia mendapat ide Caraway setelah mengalami yang ia sebut "Teflon flu" — meninggalkan panci anti lengket di atas kompor terlalu lama lalu merasa sakit. "A call to Poison Control brought shocking clarity," tulis situs Caraway, menyebut itu reaksi terhadap "forever chemicals" dalam cookware non-stick. Caraway berdiri tahun 2019 dengan set cookware keramik, lalu meluas ke food storage dan bakeware, dan pekan sebelum artikel ini terbit meluncurkan coffee maker bebas plastik. Pola semacam ini, menurut riset Anita Rao, associate professor di Georgetown University, tidak unik pada cookware. Dalam eksperimen 2022 yang dipublikasikan di Journal of Marketing Research, Rao dan rekannya meneliti klaim toksisitas pada tiga kategori produk — aluminium dalam deodoran, fluoride dalam pasta gigi, dan GMO dalam minuman nutrisi. Mereka menemukan bahwa upaya membantah klaim semacam ini hanya efektif secara signifikan bila datang dari regulator, bukan dari kompetitor atau media. Riset itu juga menyarankan perusahaan lebih diuntungkan dengan meluncurkan produk alternatif ketimbang membantah langsung klaim pesaing — pola yang menurut Rao sudah terjadi di industri deodoran (Speed Stick dan Dove kini menjual varian bebas aluminium) dan pasta gigi (Tom's of Maine merilis varian bebas fluoride sejak 2012). Soal tuduhan Caraway memanfaatkan ketakutan konsumen terhadap PFAS, Nathan tidak menyangkalnya secara langsung. Ia mengakui bahwa ilmuwan menghindari klaim bahwa semua jenis PFAS punya risiko yang sama, tapi menambahkan bahwa banyak ilmuwan dan regulator memperlakukan PFAS sebagai satu kelas atau subkelas yang perlu diwaspadai, sambil merujuk laporan seorang ahli yang ditunjuk Dewan Hak Asasi Manusia PBB soal potensi ancaman PFAS.
Rao sendiri menandai dua sisi dari taktik Caraway: strategi ini bisa efektif menarik perhatian dan dipandang positif oleh basis konsumennya, tapi berisiko kalau gugatan berakhir dengan kemenangan Groupe SEB dan Meyer — kredibilitas pesan Caraway bisa runtuh bersamaan dengan hasil pengadilan. Risiko itu belum terjawab di materi yang tersedia: kasus Groupe SEB dan Meyer masih berjalan saat artikel ini ditulis, dan Caraway sudah menghadapi gugatan class-action kedua dari seorang warga California dengan tuduhan serupa.
Yang membuat taktik ini punya ruang untuk berhasil bukan keberanian Caraway semata, melainkan posisi isu PFAS yang sudah dipedulikan publik sebelum gugatan ini ada — Nathan sendiri menyebut dirinya merasa satu dari lima Reels di Instagram-nya membahas "forever chemicals". Kalau isu yang dipersoalkan dalam gugatan itu sesuatu yang konsumen belum peduli, memasang billboard dan mengganti judul LinkedIn kemungkinan besar hanya terbaca sebagai manuver PR, bukan pembelaan yang relevan.