BOOX Media
BOOX PULSE Belajar Bisnis

Dumb.co Mewajibkan Surat Lamaran Tulis Tangan untuk Pelamar Magang

Startup penjual ponsel lipat ini menambah syarat surat lamaran tulis tangan setelah kebanjiran hampir 900 pelamar magang yang terasa seragam. Langkah kecil itu mengubah siapa yang akhirnya diterima.

IlustrasiSebuah surat lamaran tulis tangan dengan tekstur tinta yang jelas diletakkan di atas meja kayu gelap, pena tergeletak di atasnya, di latar belakang tampak tumpukan surat cetak yang seragam dan sebuah ponsel sederhana kecil di sudut frame
Ilustrasi: di antara ratusan lamaran yang seragam, satu surat tulis tangan menjadi cara Dumb.co menyaring pelamar yang benar-benar peduli pada misinya Ilustrasi konseptual: BOOX Media, dibuat dengan bantuan AI berdasarkan referensi visual Dumb.co dumb phone

Marlee Pelton-Fuentes, customer success manager di Dumb.co, membaca satu demi satu surat lamaran magang yang masuk lewat platform Handshake dan merasa ada yang salah. Kalimatnya rapi dan lancar, tapi menurutnya tidak ada yang benar-benar terhubung dengan misi dan tujuan besar perusahaan penjual ponsel lipat yang sengaja diminimalkan fiturnya ini — jenis ponsel yang biasa disebut dumb phone, dirancang untuk mengurangi screen time dan kecanduan notifikasi.

Ia mendiskusikan kejanggalan itu dengan CEO Danny Hogenkamp dan rekan-rekan lain di perusahaan. Beberapa hari setelah keempat lowongan magang — marketing, business and operations, customer success, dan tech — tayang, Dumb.co menambah satu syarat baru: surat lamaran wajib ditulis tangan, menjawab tiga pertanyaan spesifik. Kenapa pelamar tertarik pada 'dumb living', kenapa ingin bekerja di Dumb.co, dan apakah mereka sendiri memakai dumb phone.

Hasilnya tercatat rinci. Hampir 900 orang tetap melamar untuk empat posisi itu. Sekitar 70 persen di antaranya mengunggah surat tulis tangan lewat sistem, dan 200 sampai 300 pelamar lain bahkan mengirim lamaran fisik lewat pos. Dari semua itu, Dumb.co mewawancarai 60 orang dan menerima 10 magang.

Ponsel yang Menolak Layar, Dibanjiri Lamaran Buatan Layar

Ironinya terasa jelas bagi Dumb.co. Perusahaan ini menjual gaya hidup lepas dari layar, tapi saat membuka lowongan magang mereka justru kebanjiran lamaran yang terasa dibuat mesin. Fenomena ini bukan cuma dialami satu perusahaan. Judd Kessler, profesor Business Economics and Public Policy di Wharton, menyebut apa yang terjadi di pasar kerja saat ini sebagai lingkaran otomatisasi dua arah: pelamar memakai AI untuk menulis lamaran massal, perusahaan memakai AI untuk menyaringnya dengan cepat. 'Pada dasarnya AI memilih AI untuk kemudian diserahkan ke manusia untuk ditinjau,' katanya. Bagi Kessler, celah di tengah sistem itu justru jadi peluang. Cara apa pun yang bisa memecah kesetimbangan itu, yang membuat lebih banyak orang sungguhan menunjukkan diri mereka yang sebenarnya sehingga membantu perusahaan menemukan kecocokan yang tepat, menurutnya layak dicoba.

Satu Syarat Kecil, Tiga Pertanyaan Spesifik

Suratnya menjawab tiga hal spesifik: kenapa pelamar tertarik pada 'dumb living', kenapa ingin bekerja di Dumb.co, dan apakah mereka sendiri memakai dumb phone. Prompt sesempit itu membuat isi surat lebih terasa seperti refleksi pribadi daripada formalitas yang bisa disalin-tempel. Membaca ratusan surat tulis tangan jelas lebih lambat daripada memindai lamaran yang diketik. Tapi menurut Pelton-Fuentes, hasilnya justru lebih mudah dipilah karena pelamarnya lebih selaras dengan misi perusahaan. 'Kami jadi bisa tahu lebih banyak tentang orangnya, pekerjaan yang ingin mereka lakukan, sikap, dan semangat mereka,' katanya. Karena setiap surat harus ditinjau satu per satu, prosesnya juga terasa lebih personal. Pelton-Fuentes menyebut dirinya sampai ingat isi surat masing-masing pelamar yang lolos ke babak wawancara berikutnya.

Surat yang Ditulis Seminggu Setelah Ganti ke Ponsel Lipat

Ian-Karlo Krockel, 21 tahun, baru lulus dari Boston University saat melamar magang marketing di Dumb.co. Sebelumnya ia sudah mencoba banyak lowongan lain tanpa hasil. 'Banyak dari mereka yang tidak pernah membalas,' katanya. Lamaran Dumb.co terasa berbeda — ia menyebutnya seperti mencari jarum dalam tumpukan jerami. Kebetulan, seminggu sebelumnya ia baru saja mengumumkan ke teman-temannya di Instagram bahwa ia pindah memakai ponsel lipat. Dalam suratnya, Krockel menulis soal koleksi ponsel lipatnya dan pengalaman magang di London, tempat ia menikmati lepas dari ponsel pintar dan menghabiskan waktu di ruang terbuka kota itu. Menulis dan memindai suratnya makan waktu sekitar satu jam. Tapi ia merasa lega karena tahu setidaknya seorang manusia yang akan membacanya. 'Rasanya seperti ada orang yang benar-benar membaca apa yang saya tulis, bukan cuma lewat semacam software penyaring,' katanya. Krockel diterima sebagai magang marketing pada Juli, dan ia ingat CEO Hogenkamp memegang suratnya sendiri saat mewawancarainya di babak kedua.

AI Mendorong Rekrutmen Kembali ke Cara Lama

Kessler memprediksi pola ini akan meluas. Menurutnya, makin banyak AI dipakai di kedua sisi pasar kerja, makin besar kemungkinan perusahaan dan pelamar mencari cara lama untuk mengukur minat, usaha, dan kompetensi. 'Ini salah satu hasil yang mungkin terasa berlawanan dengan intuisi — bangkitnya AI justru akan membuat pasar kerja dan proses rekrutmen makin bergantung pada interaksi manusia,' katanya. Ia menyebut telepon langsung dan surat rekomendasi sebagai dua contoh yang kemungkinan besar akan naik nilainya, karena keduanya bergantung pada hubungan kerja yang sungguhan. 'Kita akan makin mengandalkan orang yang mengangkat telepon, menghubungi koneksi yang mungkin bisa membantu, dan meminta bantuan untuk masuk ke perusahaan yang benar-benar mereka minati,' ujarnya. Krockel berharap lebih banyak perusahaan meniru langkah Dumb.co. 'Orang-orang seusia saya ingin bekerja. Saya cuma berharap lebih banyak perusahaan membuatnya lebih mudah untuk melakukan ini,' katanya.

BOOX PERSPECTIVE

Yang membuat surat tulis tangan Dumb.co bekerja bukan karena tulisan tangan lebih jujur daripada ketikan. Yang berubah adalah biaya melamar asal-asalan. Menulis surat dengan tangan, memindainya, atau bahkan mengirimkannya lewat pos, butuh waktu yang tidak bisa dipangkas dengan satu prompt AI — orang yang tidak benar-benar tertarik pada Dumb.co kemungkinan besar menyerah di langkah itu, sebelum sempat menekan tombol kirim.

Pola ini bisa dipakai brand lain, tapi bukan tanpa syarat. Friksi yang dipasang perlu berhubungan dengan hal yang mau diukur perusahaan. Dumb.co menguji minat pada gaya hidup offline lewat media yang paling offline — kertas dan pena. Kalau friksi yang ditambahkan cuma soal merepotkan tanpa hubungan dengan pekerjaannya, yang tersaring bisa jadi bukan lagi minat, melainkan siapa yang paling punya waktu luang, printer di rumah, atau kemampuan menulis tangan yang rapi.

Cara ini masuk akal untuk empat posisi magang dengan hampir 900 pelamar, di mana setiap surat masih bisa ditinjau satu per satu. Untuk peran yang menyaring ribuan lamaran atau posisi yang tidak mensyaratkan devosi pada misi tertentu, ongkos meninjau surat tulis tangan satu per satu bisa jadi tidak sepadan dengan manfaatnya.

Sumber & transparansiBerdasarkan laporan Business Insider ↗Fakta merujuk pada sumber tersebut; kesimpulan editorial adalah analisis BOOX.