Garuda Kencana Batik Ubah Pahlawan Nasional Jadi Jaket dan Jas Batik Tulis
Di Hari Batik Nasional, Garuda Kencana Batik merilis kampanye Heroes Interpreted — batik tulis dalam potongan jaket, jas, dan outer yang terinspirasi pahlawan nasional.

Garuda Kencana Batik merilis kampanye bertajuk "Heroes Interpreted" bertepatan dengan Hari Batik Nasional, 2 Oktober. Lewat kampanye ini, brand tersebut menghadirkan rancangan batik tulis dalam bentuk jaket, jas, dan outer — bukan kemeja atau bawahan kebaya seperti yang selama ini identik dengan batik tulis.
Owner Garuda Kencana Batik, Yos Christian Addyputra, mengatakan kepada Lifestyle Liputan6.com pada 30 September 2026 bahwa upaya ini sudah lama ingin dilakukan. "Sebenarnya sudah lama kami ingin memberikan gambaran bahwa batik tulis itu tidak harus melulu cuttingan tradisional, tidak harus jadi bawahan kebaya, beskap, atau kemeja kantor," katanya.
Kampanye ini mengambil sosok pahlawan nasional dan ikon sejarah Indonesia sebagai inspirasi desain, lalu menempatkan figur-figur itu dalam siluet batik tulis yang lebih modern.
Pahlawan Nasional Jadi Jembatan Desain
Yos menjelaskan alasan memilih figur sejarah untuk kampanye ini: karakter mereka selama ini lekat dengan tampilan formal. "Ketika kami reimagined national heroes dengan cuttingan batik tulis yang modern, menurut kami itu menjadi bridge antara masa lalu dan masa sekarang. Ketika bisa dilakukan dengan baik, secara langsung mengabarkan bahwa batik itu tidak lekang oleh waktu," ujarnya. Reimagined di sini berarti menafsirkan ulang sosok pahlawan itu lewat potongan pakaian yang berbeda dari citra formal yang biasa melekat pada mereka.
Material Berubah, Potongan Jadi Mungkin
Yos mengaitkan perubahan potongan ini dengan perkembangan material batik tulis. Ia mencontohkan tren slim fit yang mulai marak sekitar 2010, saat material batik tulis belum banyak memakai bahan berkarakter stretch atau elastis. "Pada saat itu memang batik tulis itu materialnya tidak stretch, sehingga slim fit belum menjadi sesuatu yang umum. Sekarang material dan teknologinya sudah berkembang," jelasnya. Perkembangan itu, menurutnya, membuka ruang bagi potongan yang sebelumnya lebih sulit diterapkan pada batik tulis — termasuk jaket dan jas yang dirilis dalam kampanye ini.
Menjawab Perdebatan Soal Cara Pakai Batik
Yos menyebut cutting dan cara pakai batik masih jadi perdebatan di tengah masyarakat. "Di sinilah kami hadir untuk menunjukkan bahwa batik dapat dikreasikan bergaya modern, namun tetap menghormati nilai-nilai budaya dan pakem yang selama ini sudah tertanam di dalamnya," katanya. Ia juga mendorong pemakaian batik di luar hari Jumat atau acara resmi, membandingkannya dengan kebiasaan memakai kemeja bermotif floral saat berlibur di negara bermusim panas. "Kenapa tidak dengan batik?" ujarnya.
Garuda Kencana Batik belum merinci harga, titik penjualan, atau tanggal rilis koleksi untuk publik — jadi yang bisa dinilai dari materi ini baru soal arah desain, bukan seberapa luas koleksi ini akan beredar. Yos sendiri menyinggung ambisi yang lebih jauh dari sekadar daily wear: kemungkinan kolaborasi dengan brand fashion global. Itu klaim arah bisnis yang baru berupa wacana, belum ada kesepakatan atau nama brand yang disebut.