Gen Z Kini Memilih Tempat Tinggal Karena Ada Gym di Dekatnya
Riset The Gym Group di Inggris menemukan tujuh dari sepuluh Gen Z mempertimbangkan keberadaan gym saat memilih tempat tinggal, mengalahkan pertimbangan atas restoran dan kafe. Pergeseran ini mengubah apa yang sebenarnya dijual oleh sebuah pusat kebugaran.

Pure Gym mencatat 47 persen anggota baru mereka pada Januari berusia 25 tahun ke bawah. Angka serupa muncul di The Gym Group: sekitar 40 persen dari 360 ribu anggotanya adalah Gen Z, dan 51 persen di antaranya mengaku telah menjalin pertemanan baru lewat gym.
Syd Grows, kreator digital dan penggemar kebugaran berusia 28 tahun, menyebut gym sebagai tempat utamanya bertemu orang baru dan menjalin pertemanan lewat sesi latihan. "Meningkatnya konten tentang gym di media sosial setelah pandemi COVID-19 membuat semakin banyak orang melihat tempat latihan sebagai ruang berkumpul yang menawarkan rasa kebersamaan," ungkapnya, seperti dikutip BBC.
Pergeseran ini rupanya tidak berhenti di soal pertemanan. CEO The Gym Group, Will Orr, mengatakan 72 persen Gen Z mengaku keberadaan gym turut memengaruhi pemilihan tempat tinggal mereka — angka itu naik menjadi 82 persen untuk Gen Z yang tinggal di London. Di kalangan usia 16 hingga 29 tahun secara umum, 31 persen mengutamakan keberadaan pusat kebugaran saat memilih tempat tinggal, jauh di atas 14 persen yang mengutamakan restoran, bar, atau kafe.
Angka-angka itu mengarah ke pertanyaan yang lebih besar dari sekadar tren kebugaran: kalau orang memilih tempat tinggal karena ada gym di dekatnya, apa sebenarnya yang sedang dijual sebuah gym, dan bagaimana operator mengukur apakah itu berhasil?
Rute Pulang yang Melewati Gym
Kemudahan akses menjadi salah satu alasan gym mudah masuk ke rutinitas harian Gen Z. Pusat kebugaran yang bisa dijangkau dengan berjalan kaki dari rumah, atau yang berada di sepanjang rute perjalanan sehari-hari, membuat kebiasaan berolahraga lebih mudah dipertahankan dibanding gym yang menuntut perjalanan khusus. Data itu sejalan dengan temuan bahwa 31 persen Gen Z berusia 16 hingga 29 tahun menempatkan keberadaan pusat kebugaran sebagai pertimbangan utama saat memilih tempat tinggal, jauh di atas 14 persen yang mengutamakan restoran, bar, atau kafe. Perlu dicatat, label 'healing' yang melekat pada tren ini datang dari pembacaan laporan BBC atas komentar penggemar kebugaran seperti Syd Grows, bukan dari angka survei formal. Angka-angka konkret yang tersedia — dari Pure Gym, The Gym Group, dan Fitness Pulse — bicara soal pertemanan, lokasi tinggal, dan alokasi anggaran; kata 'healing' sendiri adalah interpretasi media atas pola itu.
Kelas yang Menjaring Pertemanan
Jenni Tardiff, pelatih utama The Gym Group, mengatakan alasan Gen Z berolahraga sudah bergeser. Generasi ini disebutnya mulai meninggalkan tujuan semata mengejar penampilan fisik, menuju upaya menjaga kesejahteraan mental, mengelola stres, dan membangun rutinitas yang bertahan lama. Pilihan aktivitasnya pun melebar: lari dan angkat beban tetap ada, tapi kelas hot yoga dan sesi pemulihan ikut masuk jadwal mingguan.
Anggaran yang Bertahan Meski Kantong Menipis
Di tengah tekanan finansial yang lazim dihadapi anak muda, biaya tetap jadi pertimbangan nyata. Laporan Fitness Pulse dari The Gym Group mencatat 43 persen responden Gen Z menempatkan biaya sebagai salah satu dari tiga faktor utama saat memilih gym. Tapi anggaran untuk kebugaran justru tumbuh: 55 persen responden memasukkan kesehatan dan kebugaran sebagai salah satu dari dua prioritas utama pengeluaran diskresioner mereka — uang yang dibelanjakan di luar kebutuhan pokok — naik dari 44 persen pada 2025, dan 42 persen bahkan menjadikannya prioritas pengeluaran diskresioner terbesar. Sebanyak 39 persen responden mengaitkan olahraga teratur dengan peningkatan kesejahteraan mental mereka.
Ruang Duduk yang Menagih Ongkos Sendiri
Untuk operator gym, pergeseran ini mengubah metrik yang pantas dikejar. Kalau alasan orang datang bukan cuma untuk mengangkat beban tapi juga untuk bertemu orang dan menghabiskan waktu, jumlah pendaftar baru jadi angka yang kurang menceritakan apa-apa dibanding lama waktu member itu betah di dalam gedung. Peluang itu sudah kelihatan lewat data yang sama: 51 persen anggota The Gym Group mengaku menjalin pertemanan baru, dan itu ruang yang bisa dimonetisasi lewat F&B, merchandise, atau kelas komunitas berbayar. Tapi ruang yang dipakai untuk duduk dan mengobrol juga ruang yang tidak menghasilkan pendapatan langsung dari alat olahraga. Kalau komunitas yang terbentuk di dalamnya tidak dikonversi jadi retention atau pembelian tambahan, biaya per meter persegi gedung itu naik tanpa ada yang menutupnya.
Yang menarik dari data The Gym Group dan Pure Gym bukan soal Gen Z menyukai olahraga — itu sudah lama diketahui — melainkan soal ukuran keberhasilan yang diam-diam bergeser dari jumlah pendaftar ke lama waktu member bertahan di dalam gedung. Gym yang dulu dihargai dari harga per sesi kini mulai dihargai dari berapa lama seseorang betah duduk di sana sebelum atau sesudah latihan.
Pola ini bukan cuma soal gym. Setiap bisnis yang mulai berfungsi sebagai 'tempat ketiga' — istilah untuk ruang selain rumah dan kantor yang jadi tujuan rutin orang berkumpul, seperti kedai kopi yang jadi ruang kerja atau coworking space yang jadi ruang sosial — menghadapi soal yang sama: ruang yang dipakai untuk berlama-lama tidak otomatis menghasilkan uang dari aktivitas utamanya. Operator yang hanya menghitung harga per transaksi akan salah baca biayanya, karena ruang komunal punya biaya sewa dan perawatan yang berjalan terus, terlepas dari apakah pengunjung yang duduk di sana membeli sesuatu atau tidak.
Data yang sama bisa dibaca sebagai peringatan dini: kalau 82 persen Gen Z London mempertimbangkan gym saat memilih tempat tinggal, permintaan atas ruang itu nyata, tapi permintaan yang sama juga berarti gedung itu perlu menyerap lebih banyak orang yang berlama-lama tanpa selalu membayar lebih. Operator yang menekan biaya ruang non-produktif adalah yang bisa membedakan komunitas mana cukup diberi ruang duduk gratis, dan mana yang siap membayar lebih untuk kelas tambahan seperti hot yoga.