Hotel Anyer Kehilangan 30% Pemesanan Saat Krakatau Bergetar, dan Pemulihannya Tidak Sesederhana Menunggu Gunung Tenang
Aktivitas Gunung Anak Krakatau membuat pemesanan hotel di pesisir Banten dan Lampung anjlok hingga 30% dalam hitungan hari. Yang membuatnya berbahaya bukan angkanya, tapi kenapa satu destinasi bisa jatuh bersamaan seperti itu.

Erwin Surya Winata mengelola Hotel Lippo Carita di Pantai Carita, Anyer, Pandeglang. Awal September 2026, ia mulai menghitung pembatalan yang masuk lebih cepat dari biasanya, dipicu oleh peningkatan aktivitas Gunung Anak Krakatau yang terpantau di kawasan itu. Angkanya, menurut catatan yang beredar di kalangan pelaku usaha setempat, mencapai 30% dari total pemesanan.
Erwin sudah pernah melihat angka yang lebih buruk. Pada 2018, longsoran di tubuh Gunung Anak Krakatau memicu tsunami yang menghantam pesisir Banten dan Lampung, disusul banjir dan gempa susulan. "Kalau tahun-tahun sebelumnya yang kejadian itu parah, hampir tiga tahun pulihnya," katanya kepada CNBC Indonesia. Pemulihan itu tumpang tindih dengan pandemi, dua tekanan yang datang berurutan tanpa jeda.
Kali ini karakternya berbeda. Erwin menyebut aktivitas saat ini sebagai proses pembentukan gunung, bukan longsoran besar seperti 2018 — tapi getarannya, ia akui, terasa lebih kencang, karena bentuk gunung yang sudah datar sejak longsoran itu meneruskan guncangan secara berbeda. Wisatawan tidak selalu bisa membedakan dua jenis risiko itu. Yang mereka ingat adalah pengalaman traumatis tujuh tahun lalu, dan itu cukup untuk membatalkan reservasi minggu ini juga.
Pertanyaannya bukan apakah gunung ini akan mereda. Pertanyaannya adalah kenapa satu peningkatan aktivitas gunung bisa menggerakkan seluruh baris pemesanan hotel di satu koridor wisata secara bersamaan, dan apa yang membuat sebagian operator lebih rentan menanggung itu dibanding yang lain.
Ketika satu daya tarik menggerakkan seluruh okupansi
Anyer dan Carita menjual satu hal utama: pemandangan laut dan kedekatan dengan Selat Sunda, tempat Gunung Anak Krakatau berdiri. Itu alasan wisatawan datang, dan itu pula yang membuat tamu pergi bersamaan ketika gunung itu bergerak. Destinasi yang bergantung pada satu tarikan alam tidak punya segmen tamu lain yang berjalan dengan ritme berbeda — semua reservasi terikat pada kalender yang sama, kalender gunung. Bandingkan dengan kota yang menampung tamu bisnis, tamu event, dan tamu leisure sekaligus: guncangan pada satu segmen biasanya diserap oleh dua segmen lainnya. Di Anyer, tidak ada segmen kedua untuk menyerap. Pembatalan 30% bukan angka acak; ia adalah ukuran dari seberapa seragam basis tamu bergerak ketika satu variabel eksternal berubah.
Trauma 2018 masih menentukan reaksi 2026
Erwin membedakan dua peristiwa dengan jelas: longsoran 2018 yang memicu tsunami dan aktivitas sekarang yang ia sebut proses pembentukan gunung, jenis erupsi yang menurutnya jauh lebih ringan. Tapi pembedaan teknis itu tidak otomatis sampai ke calon tamu yang membaca berita getaran gunung dan langsung membatalkan kamar. Ingatan tentang pemulihan yang memakan hampir tiga tahun, ditambah pandemi yang datang di tengah masa itu, membentuk refleks kehati-hatian yang bertahan jauh lebih lama daripada risiko aktualnya. Getaran kali ini memang lebih terasa dibanding tahun-tahun sebelumnya — Erwin mengaitkannya dengan bentuk gunung yang sudah datar sejak longsoran 2018 — tapi yang menggerakkan keputusan wisatawan bukan pengukuran seismik, melainkan asosiasi dengan kejadian yang mereka ingat.
Yang menanggung paling berat adalah operator dengan napas paling pendek
Laporan ini berbicara dari sudut satu pengelola hotel, tapi polanya kemungkinan besar tidak berhenti di satu properti. Hotel kecil dan menengah di kawasan wisata alam biasanya menjalankan cash flow mingguan — pendapatan minggu ini membiayai operasional minggu depan, bukan cadangan bulanan. Ketika 30% pemesanan hilang dalam hitungan hari, dampaknya bukan sekadar kehilangan pendapatan yang bisa ditutup nanti; ia langsung memotong kas yang sudah dialokasikan untuk gaji staf, pasokan, dan cicilan. Hotel berjaringan dengan cadangan lintas cabang punya ruang menyerap guncangan semacam ini. Operator independen di Anyer dan Carita, yang sebagian besar berskala kecil-menengah, tidak punya cabang lain untuk menutupi selisihnya.
Diversifikasi tamu sebagai bantalan, bukan sebagai ekspansi
Destinasi yang menjual pemandangan alam tidak bisa memilih kapan alam itu tenang. Yang bisa dikendalikan operator adalah dari mana tamu mereka datang. Segmen MICE — singkatan dari meetings, incentives, conferences, exhibitions, yaitu tamu yang datang untuk acara korporat atau kegiatan organisasi, bukan liburan — bergerak dengan kalender bisnis, bukan kalender gunung. Staycation dari kota terdekat dan kontrak korporat jangka menengah punya logika permintaan yang berbeda pula. Ketiganya tidak menggantikan daya tarik alam sebagai alasan utama wisatawan datang, tapi mereka memberi baris pemesanan yang tidak ikut goyang ketika satu berita soal gunung tersebar. Bagi operator di destinasi one-attraction — istilah untuk destinasi yang bergantung pada satu daya tarik tunggal — bantalan semacam ini bukan strategi pertumbuhan, melainkan syarat bertahan di tahun ketika alam tidak kooperatif.
Yang terjadi di Anyer bukan kegagalan pengusaha membaca risiko. Erwin dan pelaku usaha sekitarnya sudah tahu persis apa yang mereka jual dan apa yang mengancamnya — pengalaman 2018 mengajarkan itu dengan cara paling mahal. Yang mereka hadapi adalah struktur pasar yang tidak menyisakan banyak pilihan: destinasi yang lahir dari satu keajaiban geografis akan selalu mewarisi jadwal keajaiban itu, termasuk jadwal ketika ia sedang tidak nyaman dikunjungi.
Angka 30% penting bukan karena besar, tapi karena ia bergerak serentak. Pasar yang sehat biasanya menyebar guncangan ke beberapa segmen sehingga satu berita tidak memukul seluruh baris pemesanan pada minggu yang sama. Ketika satu variabel — getaran gunung, dalam kasus ini — bisa menjelaskan hampir sepertiga penurunan permintaan di satu koridor wisata, itu tanda bahwa koridor tersebut belum punya segmen kedua yang cukup besar untuk menahan.
Polanya kemungkinan berulang di destinasi alam lain yang punya profil serupa: satu ikon, satu musim, satu jenis tamu dominan. Diversifikasi sumber tamu tidak menghilangkan risiko force majeure — force majeure di sini berarti kejadian di luar kendali pelaku usaha, seperti bencana alam — tapi ia menentukan apakah operator masih punya kas untuk bertahan sampai gunung itu, sekali lagi, tenang.