BOOX Media
BOOX PULSE Kisah Brand

Laba Pegadaian Naik 84,4 Persen, Taruhannya Ada di Harga Emas

Pegadaian membukukan laba Rp6,59 triliun pada semester I 2026, ditopang ekosistem emas dan aplikasi Tring! — tapi pertumbuhan itu kini terikat erat pada arah harga emas dunia.

IlustrasiPegawai pegadaian menimbang emas batangan nasabah di konter modern dengan grafik harga emas samar di layar latar belakang
Ilustrasi: bisnis penaksiran emas fisik Pegadaian kini menjadi fondasi ekspansi Bank Emas — sekaligus titik rentannya terhadap harga emas dunia. Ilustrasi konseptual: BOOX Media, dibuat dengan bantuan AI berdasarkan referensi visual Pegadaian (logo dan identitas visual korporat)

Di depan Sidang Tahunan MPR RI dan Sidang Bersama DPR RI-DPD RI 2026, Presiden Prabowo Subianto menyebut satu angka yang jarang muncul dalam pidato kenegaraan: laba bersih Pegadaian naik 84,4 persen. Angka itu disandingkan dengan performa tiga BUMN lain yang disebutnya sudah dibenahi — Semen Indonesia naik 408,9 persen, Pupuk Indonesia naik 252,8 persen, dan Pertamina naik 86 persen.

Di balik angka itu ada pergeseran yang sudah berjalan sejak akhir 2024, ketika Pegadaian mendapat izin usaha bullion dari Otoritas Jasa Keuangan. Izin itu membuat perusahaan yang selama lebih dari satu abad identik dengan gadai barang menjadi entitas pertama di Indonesia dengan kewenangan penuh menjalankan Bank Emas — bisnis menyimpan, mengelola, dan memperdagangkan emas dalam skala besar.

Pertanyaannya bukan apakah Pegadaian sedang tumbuh — angkanya jelas. Yang lebih layak ditelusuri adalah dari mana pertumbuhan itu berasal, dan seberapa jauh nasibnya kini terikat pada satu komoditas: harga emas.

Izin yang Mengubah Status Pegadaian

Sebelum akhir 2024, bisnis emas Pegadaian berjalan dalam batas sebagai perusahaan gadai dan penyedia tabungan emas ritel. Izin usaha bullion dari OJK mengubah itu — Pegadaian kini bisa menjalankan Layanan Bank Emas penuh lewat empat produk baru. Deposito Emas memungkinkan nasabah menyimpan emas fisik atau saldo emas dengan tenor tertentu, dan mendapat imbal hasil berupa tambahan gramasi emas tiap periode. Pinjaman Modal Kerja Emas menyasar pengrajin dan pedagang perhiasan yang butuh modal usaha; pinjaman ini diberikan dan dikembalikan dalam bentuk emas fisik, sehingga peminjam terlindung dari fluktuasi harga emas dunia selama masa pinjaman berjalan. Jasa Titipan Emas Korporasi menyediakan vault berstandar keamanan internasional bagi entitas bisnis yang tidak ingin membangun fasilitas penyimpanan sendiri. Perdagangan Emas melayani jual-beli emas batangan dan perhiasan langsung lewat anak usaha Pegadaian, Galeri 24. Gabungan lini bisnis ini, dikelola bersama Bank Syariah Indonesia dalam satu ekosistem Bank Emas, kini menampung sekitar 153 ton emas dengan nilai sekitar Rp360 triliun.

Emas yang Sudah Lama Ada di Neracanya

Izin bullion terdengar seperti lini bisnis baru, tapi materinya sudah lama ada di dalam Pegadaian. Sekitar 90 persen portofolio gadai perusahaan berbentuk emas — artinya infrastruktur untuk menaksir kadar, menyimpan fisik, dan memverifikasi keaslian emas sudah berjalan puluhan tahun sebelum izin bank emas turun. Produk ritel seperti Tabungan Emas dan Cicil Emas, yang memungkinkan masyarakat mulai investasi emas dari nominal kecil, juga sudah berjalan lebih dulu. Bank Emas menambahkan lapisan institusional di atas fondasi yang sama: penilaian, penyimpanan, dan kepercayaan yang sudah dibangun nasabah gadai selama bertahun-tahun.

Satu Aplikasi untuk Dua Jalur Layanan

Ekspansi kategori ini dibarengi ekspansi kanal. Pada 8 Oktober 2025 di Jakarta, Pegadaian resmi meluncurkan Tring!, hasil rebranding dari Pegadaian Digital. Aplikasi ini menggabungkan layanan Pegadaian konvensional dan Pegadaian Syariah dalam satu platform, dengan konsep "1 User ID, Semua Kebutuhan" — nasabah cukup registrasi dan verifikasi data sekali untuk mengakses seluruh layanan, termasuk transaksi emas tanpa perlu datang ke outlet. Direktur Utama Pegadaian Damar Latri Setiawan menyebut keamanan sebagai prioritas dalam aplikasi ini. "Aplikasi Tring! memastikan keamanan data nasabah terjamin dan aset emas yang dimiliki nasabah dijamin fisiknya serta tersimpan dengan standar keamanan terbaik," katanya. Digitalisasi ini yang membuat lini bank emas bisa diakses ritel, bukan cuma korporasi atau pemilik modal besar — poin yang relevan mengingat sebagian produk barunya, seperti Titipan Emas Korporasi, sebenarnya menyasar segmen bisnis.

Angka di Balik Klaim Pertumbuhan

Klaim pertumbuhan Pegadaian bukan cuma dari pidato kenegaraan. Sepanjang semester I 2026, perusahaan membukukan laba bersih Rp6,59 triliun, naik 84,4 persen dari Rp3,58 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya. Total aset tercatat Rp186,33 triliun, naik 53,9 persen dari Rp121,1 triliun. Outstanding Loan gross — total pinjaman yang masih beredar — melesat ke Rp155,1 triliun, naik 52,7 persen dari Rp101,5 triliun. Kualitas pembiayaan ikut membaik: rasio kredit bermasalah atau NPL turun dari 0,81 persen pada 30 Juni 2025 menjadi 0,71 persen pada 30 Juni 2026. Damar mengaitkan capaian ini dengan kepercayaan nasabah di tengah "tantangan ekonomi dan geopolitik global," dan menyebut emas sebagai aset aman atau safe haven — instrumen yang diminati orang justru ketika ketidakpastian ekonomi meningkat.

BOOX PERSPECTIVE

Pegadaian tidak membangun kategori emas dari nol. Izin bullion OJK akhir 2024 pada dasarnya melegalkan skala penuh dari sesuatu yang sudah dikerjakan perusahaan ini selama puluhan tahun lewat gadai — menaksir, menyimpan, dan mempercayakan emas fisik ke tangan pihak lain. Itu yang membuat ekspansi ini terasa masuk akal dibanding BUMN yang mencoba kategori benar-benar asing bagi bisnis intinya.

Cara Damar membingkai pertumbuhannya juga menyingkap kerentanannya. Ia menyebut emas diminati karena berfungsi sebagai safe haven di tengah ketidakpastian global — sinyal bahwa sebagian lonjakan Outstanding Loan dan aset Pegadaian mengikuti siklus kecemasan pasar terhadap emas, bukan permintaan yang stabil sepanjang waktu. Materi yang tersedia tidak memuat data harga emas historis untuk memastikan seberapa besar porsi itu, tapi komposisi bisnisnya — 90 persen portofolio gadai berbentuk emas, ditambah 153 ton emas yang dikelola lewat ekosistem Bank Emas — menunjukkan konsentrasi ke satu komoditas yang jauh lebih tinggi dibanding era ketika gadai mencakup elektronik, kendaraan, dan properti.

Pelajarannya untuk builder di luar sektor keuangan: ekspansi kategori paling murah risikonya ketika memakai aset operasional yang sudah dimiliki, seperti infrastruktur penilaian, penyimpanan, dan kepercayaan nasabah, dibanding menyuntik modal segar ke kategori yang asing bagi bisnis inti. Yang belum diuji adalah bagaimana Outstanding Loan Rp155,1 triliun dan aset Rp186,33 triliun itu bergerak kalau harga emas dunia berbalik turun — skenario yang belum tertulis dalam laporan performa semester I 2026.

Sumber & transparansiBerdasarkan laporan Detik Finance ↗Fakta merujuk pada sumber tersebut; kesimpulan editorial adalah analisis BOOX.