MUA Tuli Bakti BCA: Pelatihan yang Berakhir di Etalase, Bukan di Sertifikat
Program pelatihan tata rias untuk teman Tuli ini tidak berhenti di ujian sertifikasi. Booth Nail Art mereka di BCA Expo 2026 mencatat pendapatan sekitar Rp 13 juta dalam tiga hari, menurut keterangan yang dikutip Liputan6.

Deretan botol cat kuku memenuhi etalase booth Nail Art di BCA Expo 2026. Di baliknya, Nagita menata perlengkapan sambil berkoordinasi dengan rekan-rekannya lewat bahasa isyarat — rutinitas kerja yang bagi pengunjung expo terlihat biasa, tapi bagi Nagita adalah muara dari pelatihan yang ia mulai sejak 2024.
Nagita adalah satu dari 15 juru rias Tuli yang mengikuti program MUA Tuli Bakti BCA, hasil kerja sama BCA dengan Yayasan Perempuan Tangguh Mandiri Indonesia (PTI). Program ini melatih teman Tuli dari nol — tata rias, tata rambut, nail art — hingga lulus ujian sertifikasi Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP) pada Desember 2025.
Yang membedakan program ini adalah apa yang terjadi setelah peserta lulus ujian BNSP. Mereka mendapat panggung nyata: booth di ajang publik BCA Expo 2026, tempat keterampilan yang dipelajari selama pembinaan langsung diuji oleh pasar.
Selama tiga hari pameran, booth tersebut mencatat pendapatan sekitar Rp 13 juta, menurut keterangan resmi yang dikutip Liputan6 Lifestyle — angka yang jarang muncul dalam laporan program pelatihan inklusi mana pun.
Nagita, dari Ketertarikan Pribadi ke Juru Rias Profesional
Nagita sudah menyukai tata rias sejak lama, jauh sebelum tahu ketertarikan itu bisa menjadi profesi. Ketertarikan itu diuji begitu ia bergabung dengan program MUA Tuli Bakti BCA pada 2024 — pelatihan tata rias dan nail art yang dimulai dari dasar. Prosesnya tidak mulus. "Ketika mengikuti program dari Bakti BCA, saya sempat mengalami kesulitan dalam beberapa hal, seperti riasan alis yang kurang rapi atau nail art yang berantakan," katanya, dalam keterangan yang dikutip Liputan6 Lifestyle pada 17 September 2026. "Namun, saya terus berlatih dengan bantuan para guru yang mengajari sampai saya benar-benar paham dan saya bisa menjadi juru rias profesional," imbuhnya. Titik itu yang membawanya berdiri di booth Nail Art BCA Expo 2026, menata perlengkapan sekaligus berkoordinasi dengan sesama nail artist Tuli lewat bahasa isyarat — pekerjaan yang jauh dari sekadar ketertarikan pribadi yang ia mulai bertahun-tahun sebelumnya.
15 Peserta, dan Kurikulum yang Melampaui Teknik Rias
Nagita bukan satu-satunya peserta program. Ada 15 orang MUA Tuli yang mengikuti pembinaan yang digagas BCA bersama Yayasan Perempuan Tangguh Mandiri Indonesia (PTI), dan seluruhnya dinyatakan lulus pada Desember 2025 setelah menyelesaikan rangkaian pembinaan. Materi pelatihan mencakup tata rias, tata rambut, dan nail art, tapi tidak berhenti di kemampuan teknis. Peserta juga mendapat pembelajaran manajemen keuangan dan pengelolaan media sosial — dua keterampilan yang menentukan apakah kemampuan merias bisa diubah menjadi penghasilan yang bertahan lebih dari satu kali tampil. Sebagai bagian dari proses pembinaan, peserta mengikuti ujian sertifikasi Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP), pengakuan resmi bahwa kompetensi yang mereka pelajari setara dengan standar industri kecantikan pada umumnya.
Booth di BCA Expo 2026 Mencatat Rp 13 Juta dalam Tiga Hari
Alih-alih berhenti pada sertifikat, para MUA Tuli mendapat kesempatan tampil di ruang publik: booth Nail Art di BCA Expo 2026, tempat pengunjung tidak cuma melihat hasil kerja mereka, tapi menyaksikan langsung prosesnya. Selama tiga hari penyelenggaraan, booth tersebut mencatat pendapatan sekitar Rp 13 juta, menurut keterangan yang dikutip Liputan6 Lifestyle. Angka itu belum diverifikasi secara independen oleh BOOX, tapi jarang sekali laporan program pelatihan inklusi mencantumkan angka pendapatan sama sekali — kebanyakan berhenti di jumlah peserta dan foto seremoni kelulusan. EVP Corporate Communication & Social Responsibility BCA, Hera Haryn, menyebut dukungan berkelanjutan membantu individu mengembangkan potensinya. "BCA percaya bahwa setiap individu memiliki potensi untuk berkembang dan berkarya ketika mendapatkan kesempatan serta dukungan yang tepat," ujarnya.
Bahasa Isyarat di Tengah Ritme Kerja Booth
Cara booth ini bekerja memperlihatkan detail yang mudah terlewat pengunjung sekilas: koordinasi antar nail artist berjalan lewat bahasa isyarat, di tengah ritme kerja yang sama sibuknya dengan booth kecantikan lain di ajang tersebut. Publik yang datang menyaksikan langsung proses kerja para nail artist, sesuatu yang jarang terlihat di balik hasil akhir sebuah manikur. Bagi peserta program, ruang itu memindahkan ujian dari forum sertifikasi ke depan pelanggan yang membayar langsung di tempat, dengan tenggat dan ekspektasi yang berbeda dari ujian kompetensi biasa.
Memberi peserta booth di ajang publik setelah sertifikasi BNSP adalah keputusan desain program yang jarang dipilih penyelenggara pelatihan inklusi. Sertifikat menguji kompetensi di depan penguji; booth menguji kompetensi yang sama di depan orang yang membayar, dengan tekanan waktu dan ekspektasi yang berbeda.
Angka Rp 13 juta dalam tiga hari perlu dibaca dengan proporsi yang jujur. Itu keterangan yang dikutip Liputan6 dari sumber resmi program, belum diaudit secara independen, dan dibagi ke 15 peserta angkanya tidak besar per orang. Yang tetap menonjol adalah keputusan mencatat dan mempublikasikan angka pendapatan sama sekali — sesuatu yang jarang muncul dalam laporan program pelatihan keterampilan berbasis CSR, yang biasanya berhenti di jumlah peserta dan foto wisuda.
Hera Haryn menyebutnya sebagai bagian dari "pemberdayaan yang dilakukan secara berkelanjutan". Materi yang tersedia belum menjelaskan apakah booth serupa akan berlanjut untuk kelompok peserta berikutnya, atau apakah BCA Expo 2026 jadi satu-satunya panggung yang mereka dapat.