BOOX Media
BOOX PULSE Belajar Bisnis

Nama Brand yang Bertahan Bertahun-tahun Jarang Terdengar Bagus di Hari Pertama

Episode pertama seri Step Branding membedah bab soal nama brand dari buku pendiri BOOX, David Liusman — intinya, nama yang melekat bukan yang terdengar indah hari ini, melainkan yang tetap masuk akal dipakai bertahun-tahun kemudian.

Papan nama kayu kosong bergaya editorial 3D, tergantung di dinding polos, dengan lapisan-lapisan cat lama yang terkelupas di tepi menunjukkan warna navy, merah, dan emas dari waktu ke waktu, namun bentuk potongan papan tetap sama; ada serpihan cat kecil di lantai dan bayangan panjang lembut.
Nama yang bertahan bukan yang paling menarik hari pertama, melainkan yang bentuknya tetap masuk akal setelah dicat ulang berkali-kali oleh waktu. Ilustrasi konseptual: BOOX Media, dibuat dengan bantuan AI

Buku "Step Branding — Dari Nama hingga Laris Manis" karya David Liusman, salah satu pendiri BOOX (PT. Boox Ide Kreatif), membuka bab pertamanya dengan satu premis sederhana: nama adalah pintu gerbang pertama yang memperkenalkan bisnis kepada dunia, sebelum audiens tahu apa pun tentang produknya. BOOX Media menerbitkan bab itu sebagai episode pembuka dari seri Step Branding, yang mengangkat 21 langkah buku tersebut satu per satu; episode berikutnya membahas Step 2: desain logo.

Kesalahan yang paling sering terjadi, menurut bab ini, bukan soal selera yang buruk. Justru sebaliknya — banyak pendiri usaha memilih nama karena terdengar keren pada hari itu, tanpa membayangkan apakah nama yang sama masih masuk akal dipakai ketika bisnisnya sudah berkembang jauh dari rencana awal.

Pertanyaannya kemudian bukan "nama apa yang paling menarik", melainkan nama seperti apa yang cukup kuat untuk dibawa bertahun-tahun tanpa perlu diganti. Bab pertama buku ini menjawabnya lewat lima syarat, beberapa pendekatan kreatif, dan daftar do & don't yang cukup spesifik untuk langsung dipakai.

Lima Syarat yang Dipakai untuk Menguji Sebuah Nama

Bab ini menyusun lima prinsip nama brand yang efektif: mudah diucapkan dan ditulis, relevan dengan produk atau nilai brand, singkat dan ringkas, unik dan belum digunakan pihak lain, serta tahan lama. Keempat syarat pertama relatif mudah diperiksa dalam satu sesi brainstorming — orang bisa langsung merasakan apakah sebuah nama enak diucapkan atau terlalu panjang untuk ditulis di kemasan. Syarat kelima yang paling sering luput, karena tahan lama tidak bisa diuji hari itu juga. Ia baru kelihatan benar salahnya beberapa tahun kemudian, saat bisnis sudah bertumbuh dan nama yang dipilih di awal ternyata terlalu sempit untuk menampung arah baru perusahaan.

Dari Wardah sampai Gojek: Enam Cara Bukunya Mengelompokkan Nama

Buku ini membagi pendekatan penamaan ke dalam enam kategori. Nama berbasis nilai atau filosofi mencerminkan spirit brand, seperti Wardah yang merujuk pada kesucian atau Everpure pada kemurnian. Nama berbasis produk atau target pasar langsung menjelaskan apa yang dijual atau untuk siapa, dicontohkan lewat HijabChic dan Babyology. Ada pula kata buatan atau invented words, dengan Tokopedia sebagai contohnya — gabungan dari "toko" dan "ensiklopedia" yang membentuk kata baru sepenuhnya. Pendekatan lain mengadopsi istilah asing atau lokal yang kuat secara budaya, seperti Kopikalyan atau Maison Kitsuné, sementara kategori terakhir menggabungkan dua kata untuk membentuk makna baru, dengan Snapchat dan Gojek sebagai contohnya. Gojek layak diperhatikan karena siapa pun bisa memeriksanya sendiri hari ini: nama itu tetap dipakai tanpa perlu diganti, meski hanya terdiri dari dua kata yang digabung sederhana.

Uji ke Sepuluh Orang sebelum Daftar ke Notaris

Daftar do & don't di bab ini cukup konkret untuk langsung dipraktikkan. Yang perlu dilakukan: uji nama ke minimal sepuluh orang, periksa ketersediaan domain dan username, lalu pilih nama yang terasa alami saat diucapkan dalam percakapan sehari-hari. Yang perlu dihindari: meniru nama brand yang sudah terkenal, memakai nama yang bermakna negatif, dan mengandalkan perasaan semata tanpa validasi dari luar kepala sendiri. Untuk membantu proses pencarian, bab ini juga menyebut tiga alat bantu — Namelix sebagai generator AI untuk inspirasi nama pendek, Shopify Business Name Generator untuk mencari kombinasi berbasis kata kunci, dan Namechk untuk mengecek ketersediaan domain serta username media sosial sebelum nama itu benar-benar dipakai.

Nama Sudah Selesai, Bentuknya Belum

Bab pertama ini menutup dengan satu rangkuman: nama brand adalah investasi jangka panjang, dan pemilihannya perlu memperhitungkan kekuatan, relevansi, kemudahan diingat, sekaligus ruang untuk bertumbuh. Setelah nama disepakati, pertanyaan berikutnya bergeser dari kata ke bentuk — bagaimana nama itu diterjemahkan menjadi sesuatu yang bisa dilihat. Itu yang akan dibahas pada episode berikutnya dari seri ini, Step 2: desain logo.

BOOX PERSPECTIVE

Dari kelima syarat yang disebut bab ini, tahan lama adalah yang paling gampang terlewat saat sesi brainstorming sedang ramai — semua orang di ruangan lebih sibuk menilai apakah sebuah nama terdengar catchy hari itu juga, dibanding membayangkan apakah nama itu masih masuk akal setelah bisnisnya berkembang ke arah yang berbeda dari rencana awal.

Pola ini konsisten dengan alasan di balik salah satu do dalam daftar itu: uji ke minimal sepuluh orang. Langkah itu bukan formalitas administratif, melainkan cara memaksa nama keluar dari kepala pembuatnya dan diuji oleh telinga orang yang tidak tahu latar belakangnya. Nama yang hanya masuk akal bagi pendirinya sendiri biasanya gagal tepat di tahap ini.

Contoh Gojek yang disebut dalam bab ini menunjukkan pola serupa: nama gabungan dua kata yang sederhana justru bertahan karena tidak mencoba menjelaskan segalanya sekaligus. Ia cukup memberi makna untuk diingat, lalu membiarkan bisnisnya sendiri yang mengisi sisanya seiring waktu.

Sumber & transparansiBerdasarkan laporan Tip EditorFakta merujuk pada sumber tersebut; kesimpulan editorial adalah analisis BOOX.