NIOD Menomori Serumnya Seperti Apple Menomori iPhone
Serum andalan NIOD, Copper Amino Isolate 3 1:1, sudah masuk versi ketiga — bukan produk baru, tapi iterasi dari formula yang sama. VP Global Brand Deciem menyebutnya meniru cara Apple merilis iPhone.

Pada Agustus 2026, NIOD masuk ke rak Sephora dengan cara yang tidak lazim untuk brand kecantikan: produk andalannya, serum Copper Amino Isolate 3 1:1 (CAIS), dijual dengan angka "3" menempel di namanya. Bukan produk baru. Ini generasi ketiga dari formula yang sama.
Amy Bi, vice president of global brand di Deciem — perusahaan yang menaungi NIOD sekaligus The Ordinary — menjelaskan logikanya dalam Glossy Beauty Podcast. Menurutnya, pendekatan ini sengaja dipinjam dari dunia teknologi, bukan dari kebiasaan industri kecantikan.
"Ini sangat mirip dengan iPhone," kata Bi. "Seiring teknologi dalam skincare berkembang, seiring riset berkembang, kami cukup meng-upgrade produk kami." NIOD, menurutnya, tidak terus-menerus berada dalam siklus peluncuran produk baru seperti kebanyakan brand kecantikan lain.
Upgrade, Bukan Peluncuran
Bi menyamakan proses ini dengan update sistem operasi ponsel. "Kami hanya meng-upgrade produk, mirip seperti iOS kamu yang melalui upgrade semalam, lalu satu bug diperbaiki atau sesuatu disederhanakan untukmu," ujarnya. "Pendekatannya persis sama." Dalam praktiknya, itu berarti NIOD tidak mengganti nama produk atau meluncurkannya sebagai SKU (stock keeping unit, kode unik untuk setiap varian produk yang dijual) yang terpisah setiap kali formula diperbarui. Nama produk tetap, angka versinya yang berubah — sama seperti publik tidak menyebut iPhone generasi baru sebagai produk yang sama sekali berbeda dari pendahulunya.
Tidak Semua Orang Ikut Mencatat Nomor Versi
Bi mengakui, informasi soal versi terbaru disebarkan lewat kanal marketing standar seperti email dan media sosial. Sebagian konsumen mengikuti perubahan ini dengan cermat. Sebagian besar lainnya, menurut Bi, hanya menghargai bahwa brand terus menyempurnakan formulanya tanpa perlu tahu detail iterasinya. Ada juga yang menurutnya tidak pernah menyadari prosesnya sama sekali. NIOD sendiri masih meluncurkan produk baru — hanya saja temponya lebih lambat dari ritme industri pada umumnya. "Kami tidak terus-menerus berada dalam siklus peluncuran produk baru yang begitu banyak diikuti industri," kata Bi. "Kami justru fokus menjaga SKU utama, produk kunci kami, lalu meng-upgradenya ketika kami melihat ada teknologi menarik yang melayani manfaat yang sama, atau ada cara untuk memperbaiki tekstur, efikasi, apa pun yang berkaitan dengan produk itu sendiri."
Versi Lama Tidak Langsung Hilang
Trade-off dari pendekatan ini: brand harus mengelola transisi pelanggan yang telanjur menyukai formula lama, bukan hanya merilis yang baru dan berharap semua orang pindah. Bi memberi contoh konkret dengan produk Superoxide Dismutase 3 Enzyme (SDEM3) — versi sebelumnya masih sengaja dijual di situs NIOD, karena menurut Bi banyak pelanggan masih menyukai formula lama itu. "Kami ingin memberi orang kesempatan untuk bertransisi, tanpa benar-benar menghilangkan sesuatu yang sudah mereka lekat dan sukai," kata Bi. Keputusan menyimpan versi lama, menurutnya, bergantung pada feedback pelanggan dan pertimbangan formulasi — termasuk apakah perubahan harga atau pengalaman konsumen terasa terlalu besar. Bi menyamakan ini dengan toko Apple yang tetap menjual model iPhone lama berdampingan dengan yang baru: pembeli yang paham perbedaannya akan memilih versi terbaru, tapi versi sebelumnya tetap tersedia untuk sementara waktu.
Latar Belakang di Nike
Bi sudah lima tahun di Deciem, dengan pengalaman sebelumnya hampir tujuh tahun di Nike — posisi terakhirnya global brand director untuk women's lifestyle. Ia menyebut pelajaran dari Nike yang masih dipakainya di NIOD: bagaimana menerjemahkan teknologi rumit menjadi sesuatu yang terasa dekat bagi konsumen awam. "Nike adalah storyteller ulung. Itu hal terbesar yang diajarkan ketika kamu kerja di marketing sana," kata Bi. "Ini sangat mirip dengan NIOD, di mana kami punya sesuatu yang sangat canggih yang rata-rata konsumen mungkin tidak ingin pelajari semuanya, tapi bagaimana kamu menerjemahkannya menjadi storytelling dan pendekatan yang mudah dicerna dan relatable?"
Analogi iPhone yang dipakai Bi rapi secara marketing, tapi ia menyembunyikan satu hal yang berbeda betul dari Apple: iPhone baru selalu jadi berita, sementara CAIS 3 kemungkinan besar tidak pernah jadi headline di luar kanal email dan media sosial NIOD sendiri — menurut pengakuan Bi sendiri, banyak pelanggan "tidak pernah menyadari" ada pergantian versi. Itu konsekuensi logis dari strategi ini: ketika sebuah brand memilih mengurangi kebisingan peluncuran demi efisiensi riset dan desain produk (NPD, new product development), ia juga mengurangi momen yang biasanya jadi mesin pemasaran gratis di industri kecantikan.
Materi yang tersedia tidak menyebut bagaimana penomoran versi ini berdampak pada penjualan NIOD, retensi pelanggan, atau seberapa lama versi lama seperti SDEM3 sebelumnya tetap laku sebelum benar-benar ditarik. Yang bisa dipastikan hanya niatnya: Bi menyebut keputusan menyimpan versi lama sebagai respons terhadap feedback pelanggan, bukan kebijakan tetap dengan jadwal pasti. Masuknya NIOD ke Sephora pada Agustus 2026 akan jadi ujian nyata untuk model ini — bukan lagi di hadapan penggemar lama yang sudah paham sejarah formulanya, tapi di hadapan pembeli ritel yang baru pertama kali melihat angka "3" menempel di nama serum tanpa konteks apa pun.