Rajata Hakim Memajang 150 Wajah di Darmawangsa, Lalu Memisahkan Suaranya dari Wajahnya
Pameran Terlihat/Terasa karya Rajata Hakim menampilkan 150 potret di The Darmawangsa Square, masing-masing dipasangkan dengan rekaman suara anonim yang sengaja dijauhkan dari wajah pemiliknya.

Di lantai dua The Darmawangsa Square, Unit 66, Kebayoran Baru, 150 wajah tergantung di atas kertas kalkir A4, dilukis dengan cat akrilik dan sengaja dibiarkan berongga di beberapa bagian sehingga cahaya tembus dari belakang. Pameran bertajuk Terlihat/Terasa karya seniman multidisiplin Rajata Hakim ini dibuka sejak 29 Agustus dan berlangsung hingga 27 September 2026.
Setiap wajah punya pasangan rekaman suara, tapi pengunjung tidak pernah tahu suara siapa menempel pada wajah siapa. Subjeknya bukan model, melainkan orang asing yang didekati Hakim di jalan atau ruang publik, dan setiap Jumat ia menggelar sesi live-painting terbuka untuk umum di lokasi pameran.
Melukis Sampai Ekspresi Pertama Luntur
Hakim tidak meminta pose atau ekspresi tertentu, dan tidak memakai riwayat hidup subjeknya sebagai panduan. Ia melukis langsung dari hasil pengamatan, menunggu sampai ekspresi yang pertama kali ditunjukkan subjek mulai longgar dengan sendirinya. Setelah lukisan selesai, subjek ditinggal sendirian untuk menjawab satu instruksi: "Describe yourself to me. I cannot see." Rekaman jawaban itu disimpan anonim dan dipisahkan dari potretnya. "Semakin cermat aku mengamati orang lain, semakin sadar aku bahwa perhatian tidak selalu menghasilkan pemahaman," kata Hakim menjelaskan titik tolak pameran ini.
Diponegoro, Nyi Ageng Serang, dan Arsip yang Tidak Adil
Terlihat/Terasa adalah bagian dari 1830 Project yang lebih besar, dikuratori oleh seniman visual Melissa Sunjaya dan sejarawan Peter Carey, mengangkat kembali Perang Jawa 1825-1830 lewat riset budaya material dan karya visual kontemporer. Tiga tokoh sejarah muncul sebagai perbandingan konkret: Pangeran Diponegoro meninggalkan Babad Diponegoro yang ditulisnya sendiri dalam pengasingan, Nyi Ageng Serang tercatat lewat peran militernya tapi nyaris tanpa jejak pemikiran pribadinya, sementara Johan Jacob Roeps, perwira Belanda yang fasih berbahasa Jawa dan dipercaya keluarga Diponegoro sebagai penasihat, meninggalkan catatannya sendiri. Ketimpangan itulah yang menurut Sunjaya menjadi arah gerak pameran: "Kami mulai dengan pertanyaan yang muncul dari dalam diri. Lalu kami mengamati orang lain untuk lebih memahami diri sendiri."
Sesi live-painting digelar tiap Jumat di lokasi pameran, jadi pengunjung berpeluang melihat proses melukisnya berlangsung, bukan cuma karya yang sudah jadi. Jam buka harian belum tercantum di materi yang tersedia, jadi ada baiknya dikonfirmasi langsung ke pengelola The Darmawangsa Square sebelum datang.