BOOX Media
BOOX PULSE Suara Pendiri

Resign dari Industri IT, Benny Gratha Kini Menjaga 2.500 Potong Wastra Indonesia

Dari kunjungan museum yang mengubah arah hidupnya, Benny Gratha membangun profesi sebagai kurator kain tradisional Indonesia — kini ia menjaga lebih dari 2.500 helai koleksi wastra di Sarirasa Origin.

Ilustrasi digital satu lembar kain kuno terbentang di meja kerja bercahaya hangat, dengan kaca pembesar di sampingnya, sementara rak-rak logam tinggi berisi gulungan kain terbungkus menghilang ke dalam kegelapan di latar belakang.
Satu kain diperiksa di bawah cahaya, ribuan lainnya menunggu di kegelapan rak — begitulah kerja kurator wastra berjalan setiap hari. Ilustrasi konseptual: BOOX Media, dibuat dengan bantuan AI

Benny Gratha duduk di ruangannya yang rapi, tangannya menggeser mouse komputer mencari nomor seri di database. Beberapa saat kemudian ia melangkah membawa setumpuk dokumen menuju ruangan lain — di baliknya berdiri rak-rak logam tinggi berisi gulungan kain, masing-masing dibungkus kain kasa pelindung. Bagi mata yang belum terlatih, gulungan itu tampak seperti tumpukan kain biasa. Bagi Benny, tiap gulungan menyimpan cerita yang menunggu untuk ditemukan.

Setelah menemukan nomor seri yang dicari, ia mengambil salah satu gulungan, memeriksa suhu dan kelembapan ruang penyimpanan sebelum membawanya ke meja kerja. Kain itu dibentangkan, kasa dan kertas putih pelindungnya dibuka perlahan — memperlihatkan benang emas yang membingkai warna merah bata yang mulai memudar. "Ini adalah songket Limar dari Palembang, Sumatra Selatan. Usianya lebih dari 100 tahun, diperkirakan dibuat pada awal abad ke-20," katanya kepada tim NOW! Jakarta.

Pekerjaan seperti ini terjadi setiap hari di kantor Sarirasa Origin, tempat Benny bekerja sebagai kurator wastra — sebutan untuk kain tradisional Indonesia yang mencakup songket, ikat, batik, dan berbagai teknik tenun daerah. Tugasnya menjaga, meneliti, dan mendokumentasikan koleksi agar setiap helai bisa dipahami konteksnya, bukan sekadar disimpan. Di bawah tanggung jawabnya kini ada lebih dari 2.500 potong wastra Indonesia.

Yang membuat jalur karier ini menarik untuk dibaca bukan hanya kain-kainnya, melainkan bagaimana Benny sampai di titik itu. Ia lulusan Ilmu dan Teknologi Kelautan dari IPB, sempat bekerja di industri IT nasional, dan mengaku dulu bahkan tidak terlalu menyukai batik — pola-polanya yang padat dan rumit justru terasa membingungkan baginya.

Resign Tanpa Tahu Akan ke Mana

Pada 2005, Benny mengundurkan diri dari pekerjaannya di industri IT setelah menyadari kehidupan kantor bukan hal yang cocok untuknya. Ia menjadi blogger dan bergabung dengan komunitas yang rutin mengadakan kegiatan di Museum Tekstil Jakarta. Apa yang mulanya sekadar pertemuan santai untuk bertukar cerita dan foto perlahan berkembang menjadi hubungan yang lebih dalam dengan museum tersebut. Rasa ingin tahunya tumbuh, dan ia mulai menelusuri proses pembuatan batik. Semakin sering ia berkunjung, semakin akrab pula ia dengan staf museum, hingga akhirnya ditunjuk sebagai asisten kurator. Ketekunannya cepat terlihat, terutama dalam menyiapkan pameran dan memandu pengunjung. Peran itu membawanya lebih dekat dengan koleksi museum dan memberinya ruang untuk mempelajari wastra secara lebih mendalam. Di sinilah rasa penasarannya berubah menjadi kecintaan — ia mendalami sejarah, filosofi, dan teknik pembuatan kain, sambil terus mencari kesempatan untuk meneliti dan memperluas pengetahuannya.

Suhu Ruangan, Kaca Pembesar, dan Catatan Tangan

Pekerjaan kurator wastra tidak berhenti pada mengenali motif atau menyebut asal daerah. Benny menjelaskan bahwa usia sehelai kain bisa ditentukan lewat carbon dating, metode yang menganalisis sampel kecil kain menggunakan Accelerator Mass Spectrometer untuk memperkirakan umurnya. Setelah itu ia meraih alat pembesar, memeriksa berbagai bagian kain, mempelajari kondisi seratnya, lalu mencatat semua temuan dalam buku catatan. Ruang penyimpanan dibagi berdasarkan kondisi kain: gulungan disimpan untuk kain yang masih baik agar tidak kusut, sementara kotak berisi bantalan disiapkan khusus untuk kain rapuh yang tidak boleh terlalu sering dipindahkan. "Kain-kain berharga ini perlu 'beristirahat' dengan baik. Saya juga menghindari menyentuhnya dengan tangan telanjang untuk meminimalkan kontaminasi," kata Benny. Tingkat kehati-hatian ini berlaku sama baik untuk songket Limar dari Palembang maupun tiga kain lain yang ia periksa hari itu, diyakini berasal dari Timor dan wilayah timur Indonesia lainnya, dengan warna-warna mencolok yang menjadi ciri khas kain dari kawasan tersebut.

Sepuluh Tahun di Museum, Lalu Memilih Jalan Sendiri

Benny meninggalkan posisinya sebagai asisten kurator di Museum Tekstil pada 2015 dan memilih menjadi kurator wastra independen. Sejak itu ia kerap diundang membagikan pengetahuan dan cerita tentang kain tradisional Indonesia dalam pameran, seminar, dan lokakarya. Keahliannya juga menjadikannya nama yang dipercaya di kalangan kolektor wastra, sosialita, hingga pejabat pemerintah, yang secara rutin meminta pendapatnya saat membeli, menjual, atau meneliti koleksi berharga. Pada 2021 langkahnya berlanjut ke babak baru: ia mulai bekerja sama dengan pendiri Sarirasa Group, Benny Hadisurjo, mengembangkan Sarirasa Origin, ruang pelestarian dan pengembangan budaya yang didirikan grup tersebut sebagai bentuk komitmen menjaga warisan budaya Indonesia. Di sana, warisan budaya Nusantara dikumpulkan, dilestarikan, didokumentasikan, dan diteliti, dengan tujuan menjembatani masa lalu dan masa kini agar warisan itu tetap dipahami dan dihargai. Di ruang inilah Benny kini dipercaya menjaga lebih dari 2.500 potong wastra Indonesia.

Dari Songket Pandai Sikek sampai Teknik Buna dari Timor

Sepanjang perjalanannya, Benny menyaksikan sendiri betapa kayanya wastra Indonesia, mulai dari bahan, motif, hingga teknik pembuatannya. Ia mengagumi perajin Pandai Sikek di Sumatra Barat yang dikenal dengan tradisi songketnya, serta pembuat kain gringsing di Bali yang terkenal dengan teknik tenun rumit dan pewarna alaminya. Ia juga terpesona dengan tradisi tenun di Indonesia timur, termasuk teknik buna dari Pulau Timor, Nusa Tenggara Timur — teknik yang memasukkan benang pakan tambahan secara manual ke dalam benang lungsi sehingga menghasilkan tekstur timbul yang terlihat di kedua sisi kain. Bagi Benny, memahami filosofi, sejarah, dan budaya di balik tiap kain mempermudah pemilihan potongan yang tepat untuk dipamerkan. Keragaman itu terlihat jelas hanya dari sekadar menyebut nama tekniknya: ikat ganda atau double ikat, ikat lungsi, dan ikat pakan.

Kain yang Hilang Sebelum Sempat Dicatat

Yang paling mengkhawatirkan Benny sebagai kurator tekstil adalah banyaknya daerah di Indonesia yang praktik menenun dan membuat kainnya perlahan ditinggalkan komunitasnya sendiri. Ia menyebut Pasemah di Sumatra Selatan mengalami hal serupa, sementara di Lampung tradisi tenun bergeser ke arah sulaman tapis. Di Sangir Talaud, Sulawesi Utara, tradisi membuat kain koffo dari serat pisang yang dulu berkembang pesat kini telah hilang — praktik itu punah setelah pohon pisang ditebang untuk ditanami komoditas lain pada masa tanam paksa, dan upaya menghidupkannya kembali belum sepenuhnya berhasil. Benny berharap bisa mendokumentasikan wastra dari setiap wilayah di Indonesia timur, tempat banyak tradisi tekstil masih minim dokumentasi dan literatur. Dorongannya berakar pada rasa tanggung jawab sebagai orang Indonesia yang mencintai warisan budaya sendiri — sekaligus pada catatan yang belum lengkap: banyak wilayah di timur Nusantara yang praktik tenunnya belum pernah didokumentasikan sama sekali.

BOOX PERSPECTIVE

Keahlian yang dijalani Benny sulit dipelajari lewat kursus singkat. Mengenali usia sehelai songket dari kondisi seratnya, atau membedakan teknik buna dan ikat ganda hanya dengan melihat tekstur benang, adalah keterampilan yang terbentuk lewat bertahun-tahun jam terbang — sebagian besar dihabiskan sendirian di ruang penyimpanan, bukan di panggung pameran. Kekhususan semacam itu sulit digantikan, dan itu berbeda dari model karier generalis yang lebih sering dipuji di industri kreatif belakangan ini.

Nilai keahlian ini terasa lebih besar sekarang karena konsumen mulai mencari alasan untuk memercayai klaim "asli" atau "warisan" pada produk yang mereka beli. Klaim semacam itu gampang ditulis di kemasan, tapi sulit dipertahankan tanpa orang yang benar-benar bisa membuktikannya — menyebut asal daerah, memperkirakan usia, mengenali teknik tenun yang dipakai. Pekerjaan Benny memberi bobot pada klaim semacam itu dengan cara yang tidak bisa ditiru copywriting.

Materi yang tersedia tidak menyebutkan bagaimana kurator wastra independen membiayai hidupnya sebelum bergabung dengan Sarirasa Origin, atau seperti apa struktur honorarium untuk pekerjaan semacam ini — jadi klaim soal keberlanjutan model kariernya berhenti di titik itu. Yang tercatat jelas hanya jumlah koleksi yang kini ia jaga: lebih dari 2.500 potong wastra Indonesia.

Sumber & transparansiBerdasarkan laporan NOW! Jakarta ↗Fakta merujuk pada sumber tersebut; kesimpulan editorial adalah analisis BOOX.