BOOX Media
BOOX PULSE Kisah Brand

Ripuji Lontaratta Menjahit Aksara Lontara ke Totebag, Bukan ke Suvenir

As'ad Fadli membangun Ripuji Lontaratta sejak 2019 bukan dengan menjual aksara Lontara apa adanya, tapi menempelkannya ke tas dan topi yang anak muda Makassar sudah mau beli.

IlustrasiTotebag kanvas dengan motif geometris separuh tersulam separuh masih sketsa, benang dan jarum ochre di tepinya, bucket hat bermotif serupa di sebelahnya, di atas meja kerja kerajinan.
Ilustrasi: motif aksara Lontara dijahit ke totebag dan bucket hat — menumpang pada kategori fesyen yang permintaannya sudah ada, bukan diciptakan demi misi pelestarian. Ilustrasi konseptual: BOOX Media, dibuat dengan bantuan AI berdasarkan referensi visual Ripuji Lontaratta - Malebbi Totebag dan Maraja Bucket Hat bermotif aksara Lontara

As'ad Fadli punya masalah yang spesifik, bukan kekhawatiran umum soal budaya hilang: anak muda di Makassar, kampung halamannya sendiri, mulai tidak mengenal aksara Lontara. Ini aksara tradisional Sulawesi Selatan, yang dulu dipakai menulis bahasa Bugis dan Makassar.

Dari keresahan itu, pada 2019 ia mendirikan Ripuji Lontaratta, usaha fesyen dan craft yang menaruh motif aksara Lontara pada tas dan topi. Dua produknya, Malebbi Totebag dan Maraja Bucket Hat, disebut sebagai yang paling diminati pelanggan.

Yang menarik bukan motifnya, tapi kategorinya. As'ad tidak membuat kain tenun, ukiran, atau suvenir khas daerah — barang yang biasanya jadi wadah pelestarian budaya. Ia memilih totebag dan bucket hat, dua barang yang sudah dibeli anak muda tanpa perlu diingatkan soal warisan apa pun.

"Kami melihat anak muda sekarang, khususnya di Kota Makassar, sudah mulai tidak mengenal lagi aksara Lontara. Di sisi lain, mereka memiliki minat terhadap tas dan topi yang bisa menunjang fesyen. Karena itu, kami membuat usaha ini dengan tujuan menjaga warisan budaya masyarakat Makassar namun tetap bisa tampil keren," ujar As'ad, dikutip CNBC Indonesia, Rabu (7/10/2026).

Kategori yang Sudah Punya Pembeli

Kutipan As'ad di atas sebenarnya menjelaskan urutan berpikirnya. Ia tidak mulai dari pertanyaan "bagaimana melestarikan aksara Lontara", lalu mencari produk yang cocok. Ia mulai dari fakta bahwa anak muda sudah mau beli tas dan topi untuk menunjang fesyen, lalu menaruh persoalan budayanya di situ. Bedanya kelihatan kalau dibandingkan dengan cara pelestarian budaya yang lebih umum: museum, replika aksara di dinding, atau merchandise yang dijual karena alasan budaya semata. Barang semacam itu butuh orang yang sudah peduli lebih dulu sebelum mau membeli. Totebag dan bucket hat tidak butuh itu — orang membelinya karena ingin barangnya, motifnya ikut menumpang.

Lima Orang, Pasar Antarpulau

Ripuji Lontaratta kini mempekerjakan lima orang dan memasarkan produknya lewat gerai offline, media sosial, business to business atau B2B (penjualan ke pelaku usaha lain, bukan langsung ke konsumen akhir), serta pameran dan event. Pasarnya menurut As'ad sudah menjangkau konsumen antarkota hingga antarpulau, bukan hanya Makassar. Sumber tidak merinci jumlah outlet atau angka penjualan, jadi pertumbuhan itu baru bisa dibaca dari sebaran kanalnya, bukan skalanya. Yang tercatat jelas adalah As'ad menambahkan QRIS BRI sebagai salah satu metode transaksi, yang menurutnya memudahkan pelanggan membayar.

Bukan Hanya Soal Produk

As'ad sendiri menyebut ada misi di balik setiap barang yang dijual. "Dalam setiap produk kami ada sebuah misi untuk melestarikan budaya aksara Lontara yang sudah mulai dilupakan anak muda. Kami bukan hanya menghadirkan tas dan topi untuk menunjang selera fesyen pelanggan, tetapi juga bercerita melalui motif aksara Lontara bahwa inilah identitas kita yang harus kita lestarikan dan banggakan," katanya. Ini menunjukkan misi pelestariannya memang ada dan diakui As'ad sendiri — bukan sekadar hasil baca orang luar atas keputusan bisnisnya. Tapi urutannya tetap sama: misi itu dibangun di atas kategori yang permintaannya sudah hidup, bukan kategori yang diciptakan demi misi.

Bukan Perjalanan Tanpa Hambatan

As'ad mengaku pernah menghadapi pesanan custom yang dibatalkan secara tiba-tiba dan persaingan usaha yang kurang sehat, tanpa merinci lebih jauh bentuknya. Untuk memperkuat sisi manajemen usahanya, ia bergabung dengan linkumkm by BRI setelah mengenalnya lewat kunjungan ke Rumah BUMN Makassar. As'ad menyebut program pelatihan dari platform itu membantu perkembangan Ripuji Lontaratta terutama di bagian legalitas dan manajemen sumber daya manusia. Materi sumber tidak merinci bentuk pembiayaan atau pendampingan BRI secara spesifik terhadap Ripuji Lontaratta, sehingga kontribusinya terhadap pertumbuhan usaha ini belum bisa dipastikan sejauh mana.

BOOX PERSPECTIVE

Diferensiasi budaya sering dijual sebagai misi dulu, produk belakangan — dan hasilnya biasanya suvenir yang dibeli sekali sebagai simbol dukungan, bukan dipakai ulang. Ripuji Lontaratta membalik urutan itu: totebag dan bucket hat adalah kategori yang sudah punya alasan dibeli di luar isu budaya, aksara Lontara menumpang di atasnya.

Ini membuat posisi bisnisnya lebih kuat daripada brand budaya yang bergantung pada rasa bersalah atau nostalgia pembeli, karena permintaan dasarnya tidak hilang kalau momentum pelestarian meredup. Tapi itu juga berarti moat budayanya rapuh di sisi lain: begitu kompetitor menempelkan motif lokal lain ke kategori aksesori fesyen yang sama, pembeda utamanya cuma soal mana motif yang lebih disukai, bukan lagi soal siapa yang lebih dulu punya misi.

Angka konkret seperti jumlah gerai, nilai penjualan, atau detail dukungan BRI tidak disebut dalam materi yang kami baca, jadi besarnya skala usaha ini belum bisa dipastikan dari sumber yang tersedia.

Sumber & transparansiBerdasarkan laporan CNBC Indonesia Entrepreneur ↗Fakta merujuk pada sumber tersebut; kesimpulan editorial adalah analisis BOOX.