Roemah Koffie Rilis Kopi Single Origin Cing Cangkeling dari Garut
Roemah Koffie memperkenalkan Cing Cangkeling, kopi asal Mandalagiri, Garut, lengkap dengan detail varietas, ketinggian, dan metode olah yang dicantumkan di kemasan.

Roemah Koffie mengumumkan kopi single origin—kopi yang seluruh bijinya berasal dari satu wilayah, bukan campuran beberapa daerah—bernama Cing Cangkeling dalam jumpa pers di Jakarta, Jumat, 18 September 2026.
Kopi ini berasal dari Mandalagiri, Garut, Jawa Barat, dan dikembangkan hampir satu tahun bersama petani serta sejumlah pihak dalam ekosistem kopi setempat. Cing Cangkeling menggunakan varietas Yellow Bourbon yang ditanam pada ketinggian sekitar 1.500–1.600 meter di atas permukaan laut, lalu diproses dengan metode Classic Natural.
Ketinggian 1.500 Meter dan Proses Classic Natural
Varietas Yellow Bourbon ditanam pada ketinggian sekitar 1.500 hingga 1.600 meter di atas permukaan laut, kondisi yang menurut CEO Roemah Koffie Felix TJ turut membentuk karakter biji ini. Metode olahnya, Classic Natural, berarti biji kopi dikeringkan bersama kulit buahnya tanpa dicuci terlebih dahulu—cara yang umumnya menghasilkan rasa lebih manis dan cenderung ke arah buah dibanding kopi yang diproses dengan cuci penuh. Dalam jumpa pers itu, Felix menyebut karakter kopi memang dipengaruhi banyak faktor: varietas, kondisi geografis, ketinggian lahan, hingga metode pengolahan. "Kami kembangkan bersama untuk mengangkat kopi Indonesia," katanya, Jumat, 18 September 2026.
Nama dari Lagu Sunda, Konsep Bean to Heart
Nama Cing Cangkeling diambil dari lagu tradisional Jawa Barat dan ungkapan Sunda "cing cicing, kade eling"—ajakan untuk berhenti sejenak, berpikir, dan mengingat hal-hal penting. Kemasannya menampilkan ilustrasi pegunungan Mandalagiri, air terjun, dan seorang anak yang sedang berdoa. Felix menyebut pengembangan kopi ini berpijak pada konsep yang diusung Roemah Koffie bernama Bean to Heart, yang menempatkan peran manusia dan budaya dalam proses mengenalkan kopi ke konsumen—menurutnya, informasi asal biji, varietas, ketinggian lahan, dan metode olah menjadi bagian dari pengalaman menikmati kopi ini. "Inilah cara kita menjaga warisan budaya Nusantara lewat kopi. Yang kami bilang adalah diplomasi kopi yang kami mau lahirkan dari Roemah Koffie," ujarnya.
Produksi Terbatas, Bisa Diseduh Banyak Cara
Pada tahap awal, jumlah kopi yang diterima Roemah Koffie dari Mandalagiri sekitar 300 kilogram, sehingga Cing Cangkeling dipasarkan musiman dalam jumlah terbatas. Kopi ini dijual dalam kemasan 200 gram di seluruh gerai Roemah Koffie dan kanal e-commerce resminya, sebagai bagian dari program Beans of the Month yang berlangsung 18 September hingga 31 Oktober 2026. Cing Cangkeling bisa diseduh sebagai kopi hitam, espresso, atau cold brew. Felix menyebut profil sangrainya dibuat "omni roast" agar cocok dipakai untuk espresso maupun seduh manual. Disajikan sebagai kopi hitam, kopi ini disebut berkarakter fruity dan brown sugar; sebagai espresso, teksturnya lebih creamy dengan rasa buah yang lebih samar. Roemah Koffie juga menghadirkan signature beverage Espresso Martini berbahan dasar Cing Cangkeling, dipadukan bunga sedap malam, anggur putih, dan larutan saline.
Ketersediaan Cing Cangkeling terbatas—sekitar 300 kilogram pada tahap awal—dan hanya dijual selama program Beans of the Month, 18 September sampai 31 Oktober 2026, jadi kemungkinan besar hilang dari rak begitu periode itu berakhir.