BOOX Media
BOOX NOW Sedang Tren

Sarden Kalengan Jadi 'Skincare' di TikTok, tapi Buktinya Baru Separuh Jalan

Tren makan sarden tiap malam untuk kulit glowing menyebar di TikTok setelah kebiasaan model Anok Yai terungkap, tapi klaimnya belum didukung penelitian langsung pada manusia.

IlustrasiIlustrasi jalan setapak batu yang terputus di tengah, dengan celah kosong sebelum menyambung ke batu-batu terakhir yang mengambang menuju cermin oval bercahaya keemasan, latar navy gelap bergaya cetak risograph.
Ilustrasi: jalan bukti yang baru separuh terbangun—metafora untuk klaim kulit glowing dari sarden yang belum didukung penelitian penuh pada manusia. Ilustrasi konseptual: BOOX Media, dibuat dengan bantuan AI

Kreator konten di TikTok menyebut ikan sarden sebagai 'skincare alami' yang bisa melembapkan kulit, meredakan kemerahan, hingga mengatasi jerawat. Bukan lagi soal serum atau sunscreen, tren kecantikan minggu ini justru soal apa yang dimakan.

Tren ini melonjak setelah Inquirer, pada 3 September 2026, mengangkat kebiasaan model Anok Yai menjelang Victoria's Secret Fashion Show 2025. Anok mengaku rutin makan satu kaleng sarden setiap malam selama persiapan, dengan tujuan spesifik: kulit terlihat glowing maksimal di atas catwalk.

Pertanyaannya sederhana tapi belum banyak dijawab di tengah keramaian tren: apakah makan sarden benar-benar mengubah kondisi kulit, atau kebiasaan satu orang sedang diperlakukan seperti resep umum?

Omega-3 yang Memang Menarik Perhatian Peneliti

Sarden kaya asam lemak omega-3, khususnya EPA dan DHA. National Institutes of Health (NIH) Amerika Serikat mencatat ikan dan seafood sebagai sumber utama kedua jenis omega-3 tersebut. Kandungan ini relevan karena omega-3 berkaitan dengan peradangan, dan sebuah studi tahun 2025 meneliti kaitannya dengan kondisi peradangan kulit seperti jerawat, psoriasis, dan eksim. Peneliti dalam studi itu menemukan bahwa suplemen omega-3 berpotensi membantu mengurangi peradangan dan mendukung lapisan pelindung kulit. Bagian ini yang sering dikutip ulang di video-video TikTok, karena kedengarannya seperti dasar ilmiah yang kuat untuk klaim kulit glowing.

Jarak Antara Suplemen dan Satu Kaleng Sarden

Studi yang sama juga mencatat keterbatasannya sendiri: bukti pada manusia masih terbatas, dan sebagian besar penelitian membahas omega-3 secara umum menggunakan suplemen, bukan konsumsi sarden secara khusus. Artinya, hasil laboratorium tentang omega-3 tidak otomatis berlaku sama persis pada kebiasaan makan satu kaleng ikan tiap malam. Kondisi kulit juga dipengaruhi banyak faktor sekaligus — tidur, hormon, hidrasi, genetik, paparan sinar matahari, hingga rutinitas perawatan kulit lain yang mungkin dijalani bersamaan. Karena variabel-variabel ini bercampur, perubahan kulit yang dilaporkan pengikut tren di TikTok sulit dipastikan berasal dari sardennya saja.

Gizi yang Nyata, Tapi Bukan Jalan Pintas

Terlepas dari klaim glowing-nya, sarden tetap punya nilai gizi yang tidak perlu diragukan. Selain omega-3, ikan ini mengandung protein yang dibutuhkan tubuh untuk membentuk dan memperbaiki jaringan, termasuk kolagen yang juga tergolong protein. Sarden juga mengandung vitamin B12, vitamin D, selenium, serta kalsium jika tulang lunaknya ikut dimakan. FDA memasukkan sarden ke kategori ikan dengan kadar merkuri lebih rendah, meski konsumen tetap perlu memperhatikan kandungan natrium pada kemasan, dan orang dengan asam urat dianjurkan lebih berhati-hati karena kandungan purinnya.

BOOX NOTE

Klaim viral ini berpijak pada kebiasaan satu orang menjelang satu acara, bukan uji klinis pada orang yang mengonsumsi sarden langsung, sementara studi omega-3 yang dikutip justru memakai suplemen. Sarden tetap layak masuk pola makan karena kandungan protein dan omega-3 nya, tapi menjadikannya pengganti rutinitas skincare adalah kesimpulan yang belum sampai ke situ.

Sumber & transparansiBerdasarkan laporan Detik Food ↗BOOX Media membangun ulang tulisan ini dari fakta yang tersedia; susunan, judul, dan catatan editorial ditulis oleh BOOX.