Sebelum Punya Kedai Sendiri, Poh Kang Kerja Lima Bulan Tanpa Gaji di Dapur Orang Lain
Poh Kang, 23 tahun, meninggalkan karier IT di Malaysia dan menghabiskan empat hingga lima bulan bekerja tanpa gaji di kedai wanton mee sebelum resmi mengambil alih usaha itu. Harga masuknya bukan modal usaha, melainkan waktu dan penghasilan yang ditunda selama berbulan-bulan.

Poh Kang menghabiskan empat tahun kuliah dengan spesialisasi pengembangan gim, lalu bekerja lebih dari setahun di industri itu dengan gaji yang cukup baik dan jenjang karier yang jelas. Pekerjaannya baik-baik saja. Ia hanya merasa bosan.
Ketertarikannya pada dunia makanan sebenarnya lebih tua daripada kariernya di IT. Keluarganya berjualan bak kut teh selama sekitar 40 tahun, dan sejak sekolah dasar Poh Kang sudah membayangkan dirinya berjualan makanan sendiri. Ia sempat mengurungkan niat itu setelah melihat betapa beratnya kehidupan pedagang kaki lima, dan memilih jalur yang terlihat lebih aman: IT.
Keputusan itu berubah ketika ia mengetahui pemilik kedai wanton mee dekat rumahnya sedang mencari penerus, karena anak-anaknya sendiri tidak tertarik meneruskan usaha. Dengan dukungan ibunya, Poh Kang keluar dari pekerjaan IT dan mulai belajar langsung dari pemilik kedai itu, di Petaling Jaya, Malaysia, selama empat hingga lima bulan, tanpa gaji.
Bangun Jam Lima, Belajar Semangkuk Demi Semangkuk
Setiap hari selama masa belajar itu, Poh Kang mulai beraktivitas sejak pukul 05.00. Ia membeli bahan baku, menyiapkan kedai sebelum pelanggan pertama datang, membuat pangsit wanton dari awal, dan mempelajari cara mengolah setiap komponen dalam semangkuk wanton mee, dari kaldu sampai urutan penyajian yang membuat semuanya siap pada waktu yang sama. Salah satu bagian yang ia pertahankan sampai sekarang adalah membuat char siu menggunakan arang, bukan gas, meski gas jauh lebih mudah dikendalikan. 'Panas dari arang lebih sulit dikontrol, tetapi memberikan cita rasa yang khas. Karena itu, saya masih ingin mempertahankan cara ini,' katanya. Ia mengulang rutinitas itu, di jam yang sama, selama sekitar empat sampai lima bulan.
Tabungan Habis, Jalan Mundur Tertutup
Sekitar empat bulan setelah masa belajar itu berjalan, pemilik kedai memutuskan pensiun dan menyerahkan usahanya kepada Poh Kang. Ia sudah menghabiskan sebagian besar tabungannya untuk transisi itu, sehingga praktis tidak ada jalan untuk mundur. Ia mengaku sempat cemas apakah kedai ini bisa menghasilkan cukup untuk hidup, kekhawatiran yang wajar bagi siapa pun yang baru pertama kali memegang usaha sendiri. Namun bisnisnya perlahan mencapai titik impas — breakeven, saat pemasukan harian mulai menutup biaya bahan dan operasional — dan pelanggan lama dari era pemilik sebelumnya mulai kembali datang.
Rasa yang Konsisten, Lebih Penting dari Jumlah Mangkuk
Bagi Poh Kang, tantangan terbesarnya bukan soal berapa banyak mangkuk wanton mee yang terjual. Ia ingin memastikan setiap mangkuk yang keluar dari kedainya punya rasa yang sama dengan yang diharapkan pelanggan. 'Anda harus mau berubah dan menerima pendapat orang lain. Kalau pelanggan memberikan masukan, kita harus mendengarkannya, kecuali mereka memang sengaja membuat masalah,' katanya.
Waktu yang Didapat, Waktu yang Hilang
Menjadi pedagang memberi Poh Kang lebih banyak waktu untuk berolahraga dan memikirkan konten tentang kedainya sendiri, sesuatu yang jarang bisa ia lakukan saat masih bekerja kantoran. Kebebasan itu datang dengan harga: waktu bersosialisasinya berkurang karena ia harus bangun sejak pagi setiap hari. 'Saya tidak bisa mengatakan pekerjaan ini tidak melelahkan. Jelas sangat menguras fisik,' katanya, sambil tertawa. Ia juga tidak menyarankan orang lain langsung resign hanya karena bosan dengan pekerjaannya. 'Jangan langsung berhenti tanpa punya rencana. Anda harus memikirkan apa yang akan dilakukan selanjutnya, bagaimana menjalankannya, dan memiliki semacam strategi,' pungkasnya.
Biaya masuk ke bisnis F&B — kedai jalanan, warung rumahan, restoran kecil — biasanya dihitung dalam rupiah: sewa tempat, peralatan, bahan baku awal. Yang jarang dihitung adalah biaya dalam bentuk waktu, yaitu berapa bulan seseorang bersedia bekerja tanpa dibayar untuk memahami ritme operasional yang tidak bisa didapat dari observasi sesaat atau kursus singkat.
Poh Kang membayar biaya itu selama empat sampai lima bulan sebelum satu ringgit pun masuk ke kantongnya dari usaha ini. Polanya menunjukkan bahwa ia menukar periode tanpa penghasilan itu dengan pengetahuan operasional yang membuatnya lebih siap saat akhirnya mempertaruhkan tabungannya sendiri — meski perhitungan itu tidak pernah ia sampaikan sebagai strategi finansial yang eksplisit; ini pola yang terbaca dari urutan kejadian yang dilaporkan, bukan penjelasan langsung dari Poh Kang tentang bagaimana ia menimbang risikonya.
Bagian yang lebih mahal dari kisah 'banting setir' biasanya datang setelah keputusan berhenti bekerja diambil, bukan pada momen keputusan itu sendiri: jam kerja yang lebih panjang, penghasilan yang tertunda, dan risiko yang seluruhnya ditanggung sendiri begitu tabungan sudah terpakai. Poh Kang sendiri belum berniat membesarkan kedai ini menjadi jaringan; ia memilih tetap fokus membuat satu mangkuk wanton mee yang konsisten setiap hari.