BOOX Media
BOOX PULSE Belajar Bisnis

Selisih Harga Menu di Aplikasi Itu Ongkos Trafik yang Dibebankan ke Pembeli

Seorang pembeli di Hyderabad menemukan harga tiga menu dosa yang dibelinya langsung di resto hanya separuh dari harga yang tertera di aplikasi ojek online. Selisih itu adalah biaya yang dipindahkan dari merchant ke harga menu yang akhirnya dibayar pembeli.

Satu piring hidangan gulung pipih terbelah oleh bayangan tajam, separuh duduk rata di meja kayu gelap dan separuh lagi terangkat di atas tumpukan kantong pengantaran berinsulasi polos, dengan uap tipis mengepul dari sisi yang datar.
Hidangan yang sama, dua keadaan berbeda: selisih harga di aplikasi adalah lapisan biaya yang disisipkan sebelum sampai ke piring pembeli. Ilustrasi konseptual: BOOX Media, dibuat dengan bantuan AI

Sebuah unggahan di X oleh akun @idlebrainjeevi, dilaporkan ulang oleh news18.com pada 13 September 2026, membandingkan dua struk untuk pesanan yang sama: tiga hidangan dosa dan segelas kopi, dibeli di sebuah resto di Banjara Hills, Hyderabad, lalu dipesan ulang lewat aplikasi Swiggy.

Selisihnya cukup besar untuk viral. Di resto, total tagihan tiga menu itu Rs 230, sekitar Rp42.452 sudah termasuk pajak. Di Swiggy, menu yang sama — sebelum kupon atau diskon apa pun — mencapai Rs 436, sekitar Rp80.474.

Perdebatan di kolom komentar terbelah dua: sebagian menyalahkan platform, sebagian membela ongkos yang harus ditanggung pengemudi dan merchant. Yang belum banyak dibahas adalah bagaimana selisih itu terbentuk sejak awal, jauh sebelum sampai ke tangan pembeli.

Struk yang Sama, Dua Angka yang Jauh Berbeda

Struk yang diunggah menunjukkan tiga hidangan yang sama, dipesan dua cara berbeda. Di resto Banjara Hills, pria itu membayar Rs 104 untuk Neyyi Kaaram Onion Dosa, Rs 85 untuk Neyyi Pongal, dan Rs 28 untuk Filter Coffee — total Rs 219, sekitar Rp40.420, sebelum pajak. Dengan pajak, tagihannya menjadi Rs 230, sekitar Rp42.452. Menu yang sama di Swiggy tampil dengan harga yang jauh lebih tinggi. Neyyi Kaaram Onion Dosa naik menjadi Rs 149, Neyyi Pongal menjadi Rs 115, dan Filter Coffee menjadi Rs 120. Sebelum kupon atau diskon apa pun, totalnya mencapai Rs 436, sekitar Rp80.474 — hampir dua kali lipat dari harga yang ia bayar dengan berjalan langsung ke resto.

Kenapa Merchant Tidak Menolak Saja Platformnya?

Salah satu komentar di utas itu menyentuh bagian yang sering luput dari perdebatan konsumen. 'Ya, benar, kita membayar dua kali lipat biaya cgst, pajak hotel, pajak dan biaya Swiggy serta komisi,' tulis seorang netizen. Ia benar soal susunannya, meski keliru soal siapa yang menanggung lebih dulu: pajak dan komisi itu memang ada di setiap pesanan, tapi merchant yang membayarkannya ke platform sebelum memutuskan berapa yang harus ditutup dengan menaikkan harga di daftar menu. Merchant yang bergantung pada aplikasi pesan-antar tahu bahwa trafik dari sana tidak datang gratis. Setiap pesanan yang masuk lewat aplikasi sudah melalui algoritma pencarian, iklan bersponsor, dan program diskon yang sebagian biayanya dibagi ke merchant. Menolak menaikkan harga berarti menyerap semua ongkos itu dari margin sendiri; menaikkannya berarti memindahkan sebagian ongkos itu ke pembeli.

Ketika Selisihnya Kelihatan, yang Rusak Bukan Cuma Kepercayaan pada Aplikasi

Perdebatan di bawah unggahan itu tidak berhenti di angka. Satu pengguna menghitung bahwa ongkos makan di resto ditambah transportasi pulang-pergi masih lebih murah daripada memesan lewat aplikasi. Pengguna lain membela selisih itu dengan menyebut pengemudi yang perlu dibayar, seolah menaikkan harga menu adalah satu-satunya cara memastikan mereka mendapat penghasilan. Yang tidak dibahas dalam perdebatan itu adalah efek yang lebih lambat terlihat: begitu pembeli tahu ada dua harga untuk piring yang sama, ia mulai ragu pada harga mana yang asli. Keraguan itu tidak berhenti pada satu merchant atau satu platform. Ia menempel pada kebiasaan membandingkan sebelum memesan — cek dua aplikasi sekaligus, tanya harga langsung ke resto lewat WhatsApp sebelum order di aplikasi.

Dua Kali Lipat Itu Kasus Viral, Bukan Rata-Rata

Angka dua kali lipat pada unggahan ini menjadi viral justru karena besarnya tidak lazim. Selisih harga antara membeli langsung dan lewat aplikasi memang hampir selalu ada, tapi besarnya berbeda jauh antar merchant dan kategori menu — minuman dengan margin tipis biasanya menyerap kenaikan lebih kecil dibanding makanan berat yang komponen bahannya lebih mahal. Kasus di Hyderabad ini pantas dibaca sebagai contoh ekstrem yang menunjukkan mekanismenya, bukan patokan berapa persen yang biasa ditambahkan sebuah resto. Perbedaan besar itu juga bergantung pada siapa yang menegosiasikan harga dengan platform. Merchant besar dengan daya tawar lebih kuat kadang bisa menahan selisihnya di kisaran wajar, sementara resto kecil yang baru bergabung dengan platform sering tidak punya pilihan selain menaikkan harga sesuai skema yang ditawarkan sejak awal.

BOOX PERSPECTIVE

Kasus di Hyderabad ini kebetulan terjadi di India, tapi mekanismenya berlaku di setiap ekosistem pesan-antar yang memungut komisi dari merchant, termasuk yang dipakai sehari-hari di kota-kota Indonesia. Komisi platform, biaya layanan, dan ongkos promo bukan biaya yang muncul dari udara — ia dibayar lebih dulu oleh merchant, dan merchant memilih menutupnya lewat harga jual online karena alternatifnya, keluar dari platform, berarti kehilangan seluruh trafik digital yang sudah dibangun bertahun-tahun.

Untuk pembeli, sinyal yang lebih jujur bukan persentase komisi yang diributkan di kolom komentar, melainkan kebiasaan baru yang mulai terbentuk: membandingkan struk sebelum checkout. Satu unggahan yang menunjukkan selisih Rs 206 untuk pesanan yang sama sudah cukup untuk membuat kebiasaan itu menyebar.

Sumber & transparansiBerdasarkan laporan Detik Food ↗Fakta merujuk pada sumber tersebut; kesimpulan editorial adalah analisis BOOX.