Setahun Jadi AZKO, Laba ACES Naik 33,3 Persen — Penjualan Cuma 6,3 Persen
Mengganti nama toko yang sudah dipakai bertahun-tahun adalah salah satu keputusan paling mahal di ritel, karena tidak ada jaminan pelanggan lama akan ikut pindah ke nama baru. Setahun setelah AZKO resmi menggantikan nama lamanya, laporan keuangan Semester I-2026 akhirnya memberi angka untuk menilainya.

PT Aspirasi Hidup Indonesia Tbk, perusahaan dengan kode saham ACES yang menaungi jaringan toko AZKO dan NEKA, melaporkan laba periode berjalan yang diatribusikan ke pemilik entitas induk sebesar Rp390,3 miliar pada Semester I-2026 — naik 33,3% dibanding periode yang sama tahun lalu. Penjualan bersihnya Rp4,5 triliun, naik 6,3%.
Angka ini muncul setahun setelah perusahaan resmi berpindah dari nama lama ke AZKO. Direktur AHI Gregory S. Widjaja menyebut kinerja ini sebagai cerminan bisnis yang bergerak ke arah yang lebih baik, sejalan dengan komitmen perusahaan membangun pertumbuhan jangka panjang secara berkelanjutan.
Yang membuat laporan ini layak dibaca lebih dalam adalah jaraknya: laba tumbuh lebih dari lima kali kecepatan penjualan. Di retail, selisih sebesar itu biasanya bercerita tentang sesuatu yang lebih spesifik daripada sekadar nama baru yang mulus diterima pasar.
Laba Tumbuh Lima Kali Lebih Cepat dari Penjualan
Penjualan bersih AHI naik 6,3% menjadi Rp4,5 triliun pada Semester I-2026. Tapi laba periode berjalannya melompat 33,3% menjadi Rp390,3 miliar pada periode yang sama. Pertumbuhan penjualan yang moderat biasanya membawa pertumbuhan laba yang sepadan, bukan lima kali lipatnya. Perusahaan mencatatkan Same Store Sales Growth (SSSG) — ukuran pertumbuhan penjualan dari toko yang sudah lama beroperasi, dipakai untuk memisahkan efek toko baru dari performa toko lama — sebesar 2,2% yoy hingga Juni 2026. Angka ini jauh lebih kecil dari pertumbuhan penjualan total 6,3%, artinya sebagian besar kenaikan penjualan datang dari toko-toko baru yang dibuka sepanjang tahun ini, ketimbang dari toko lama yang menjual lebih banyak ke pelanggan yang sama.
15 Toko Baru di Sembilan Wilayah dalam Delapan Bulan
Sampai Agustus 2026, AHI sudah membuka 15 toko AZKO baru yang menjangkau sembilan wilayah yang sebelumnya belum punya toko mereka: Berau, Pasuruan, Pekalongan, Timika, Kuningan, Tabanan, Tomohon, Baubau Buton, dan Duri Riau. Di lini bisnis satunya, NEKA, perusahaan membuka 16 toko baru di Pulau Jawa dan luar Jawa. Target akhir tahun untuk AZKO adalah 25 sampai 30 toko baru, dan untuk NEKA 40 sampai 50 toko. Untuk mendukung ekspansi ini, perusahaan mengalokasikan belanja modal Rp400-450 miliar sepanjang 2026 — sampai Semester I baru terealisasi Rp91 miliar, diutamakan untuk pembukaan toko baru dan renovasi toko yang sudah ada. Gregory menyebut porsi investasi yang lebih besar akan direalisasikan menjelang akhir tahun.
Radio Pagi, Padel, dan Aplikasi Jadi Bagian Strategi
Sepanjang Juni-Juli 2026, AZKO memperluas titik interaksi dengan pelanggan lewat partisipasi di Pekan Raya Jakarta, kegiatan live shopping, siaran pagi bersama sejumlah radio, serta keterlibatan dalam komunitas olahraga seperti padel, lari, dan yoga. Salah satu home brand di bawah AZKO, Kindla, juga membuka booth di Mom and Baby Expo untuk menjangkau pasar yang lebih spesifik. Di sisi lain, perusahaan mendorong belanja lewat platform omnichannel ruparupa — mencakup fitur Scan & Shop, Scan & Go, dan program membership ruparupa rewards yang memberi akses ke ekosistem produk Kawan Lama Group. Menurut Gregory, ke depan perusahaan akan melanjutkan strategi ini lewat penguatan supply chain dan pemanfaatan teknologi digital serta AI, di samping ekspansi jaringan toko.
Yang Belum Bisa Dijawab Angka Semester Ini
Kinerja yang solid ini terjadi setahun setelah rebranding, tapi itu tidak otomatis berarti nama baru yang menyebabkannya. Gregory menyebut hasil ini sebagai cerminan "perkembangan bisnis yang bergerak ke arah yang lebih baik" — klaim yang wajar disampaikan direktur perusahaan publik, tapi tetap klaim, bukan bukti kausal. Yang bisa dibaca dari angka ini lebih spesifik: transisi nama tidak mengganggu trafik pelanggan atau daya beli mereka, dan penjualan tetap tumbuh selama masa transisi berlangsung. Soal apakah pertumbuhan laba 33,3% berasal dari efisiensi operasional, dari toko baru yang lebih produktif, atau dari faktor lain di luar rebranding, laporan ini belum memisahkannya.
Mengganti nama sebuah jaringan toko yang sudah dikenal pelanggan selama bertahun-tahun adalah taruhan besar — ada risiko kehilangan brand recall dan kebingungan pelanggan lama, belum lagi biaya pemasaran ulang yang tidak kecil. Setahun setelah AZKO menggantikan nama lamanya, laporan Semester I-2026 setidaknya menjawab pertanyaan paling dasar: apakah bisnisnya masih berjalan. Jawabannya iya, dan penjualan bahkan tumbuh 6,3%.
Tapi angka yang lebih menarik ada di selisih antara pertumbuhan penjualan 6,3% dan pertumbuhan laba 33,3%. Selisih sebesar itu biasanya berasal dari efisiensi biaya atau dari toko-toko baru yang lebih produktif daripada rata-rata toko lama. SSSG 2,2% yang jauh di bawah pertumbuhan penjualan total menunjukkan sebagian besar pertumbuhan datang dari toko-toko baru yang dibuka tahun ini, ketimbang dari toko lama yang menjual lebih banyak ke pelanggan yang sama.
Ini bukan berarti rebranding gagal atau tidak relevan. Rebranding yang mulus, yang tidak membuat pelanggan lari, adalah prasyarat supaya ekspansi 25-30 toko baru punya fondasi yang sama untuk dibangun. Yang belum terjawab, dan mungkin baru bisa dibaca satu atau dua tahun lagi, adalah apakah toko-toko yang sudah lama beroperasi tumbuh lebih cepat sekarang dibanding saat masih memakai nama lamanya.