BOOX Media
BOOX PULSE Belajar Bisnis

Skin Booster 'Kulit Mayat' Viral, tapi Asal Bahannya Belum Bisa Dipastikan

Skin booster asal Korea Selatan yang diklaim memakai jaringan kulit manusia sedang ramai dibicarakan, tapi Ketua Umum PERDOSKI dr. Hanny Nilasari mengatakan asal donornya sendiri belum bisa dipastikan.

Ilustrasi vial skin booster tergeletak di meja klinis dengan bayangan berbentuk tanda tanya besar, di samping dokumen donor yang kolom asalnya diredaksi hitam
Vial cairan bening itu nyata; kolom asal donornya yang belum bisa diisi itulah yang jadi soal Ilustrasi konseptual: BOOX Media, dibuat dengan bantuan AI

Rabu, 16 September 2026, Ketua Umum PERDOSKI Pusat dokter Hanny Nilasari menanggapi ramainya perbincangan soal skin booster asal Korea Selatan yang disebut memakai bahan dari 'kulit mayat'. Skin booster adalah suntikan cairan ke lapisan kulit untuk menambah kelembapan dan kekenyalan, dan versi yang viral ini menggunakan bahan bernama human acellular dermal matrix atau hADM — matriks jaringan kulit yang sudah dihilangkan selnya, diambil dari donor manusia.

Menurut Hanny, bahan itu memang berasal dari donor jaringan kulit manusia. Tapi ia sendiri belum bisa memastikan satu hal yang paling banyak ditanyakan publik: apakah donornya masih hidup saat jaringan diambil, atau sudah meninggal.

"Jadi, [terbuat dari] matriks jaringan kulit yang berasal dari donor. Tapi, donornya memang donor yang kita enggak tahu apakah itu donor hidup, apakah donor mati," kata Hanny, dikutip dari detikhealth, Rabu (16/9).

Ketidakpastian itu justru berdampingan dengan sebuah julukan yang sudah lebih dulu menyebar ke linimasa. Pertanyaannya: bagaimana bahan yang selama ini dipakai untuk keperluan medis bisa berpindah ke meja kecantikan, sementara penjelasan soal asal dan keamanannya sendiri belum selesai?

Bahan yang Lahir untuk Bedah Rekonstruksi

Menurut Hanny, penggunaan jaringan hADM selama ini lebih banyak dipakai dalam tindakan medis rekonstruksi, bukan perawatan estetika. Konteks ini menempatkan bahan yang kini viral sebagai skin booster pada jalur yang berbeda dari asalnya: dari ruang tindakan medis yang menangani kerusakan jaringan, berpindah ke klinik kecantikan yang menawarkan hasil kulit lebih kenyal. Perpindahan penggunaan semacam ini yang membuat Hanny menekankan perlunya kajian komprehensif dan bukti ilmiah yang kuat sebelum hADM dipakai sebagai skin booster. Ia menyebut, di Indonesia, selain bukti ilmiah, faktor keamanan pasien dan legalitas juga menjadi syarat yang menurutnya belum terpenuhi.

Publikasi Ilmiah yang Belum Ada

Hingga pernyataan Hanny disampaikan, belum ada publikasi ilmiah yang secara terbuka menjelaskan prosedur dan teknik pengambilan jaringan kulit manusia yang dipakai dalam produk skin booster ini. Bukan cuma asal donor yang belum jelas — cara jaringan itu diambil, diproses, dan diuji sebelum masuk kemasan produk juga belum bisa diverifikasi lewat jalur yang biasa dipakai dunia medis untuk mengecek klaim semacam ini, yaitu jurnal yang ditinjau sejawat atau peer-reviewed. Tanpa publikasi semacam itu, klaim keamanan atau efektivitas produk ini pada dasarnya berdiri di atas pernyataan pemasar, bukan bukti yang bisa diperiksa ulang oleh pihak lain.

Nama Dramatis Menyebar Lebih Cepat daripada Penjelasannya

Julukan 'kulit mayat' punya semua yang dibutuhkan sebuah unggahan untuk cepat dibagikan: singkat, mengejutkan, dan bisa dipahami tanpa perlu tahu istilah medisnya sama sekali. Penjelasan yang sebenarnya jauh lebih berlapis — matriks jaringan yang sudah dihilangkan selnya, donor yang belum terverifikasi asalnya, prosedur pengambilan yang belum pernah dipublikasikan di jurnal ilmiah. Kerumitan itu yang membuat penjelasan Hanny kalah cepat dibanding frasa yang sudah telanjur menyebar duluan. Viralnya sebuah nama tidak membuktikan apa pun soal keamanan atau bahaya bahan yang dibawanya. Ia hanya menjelaskan kenapa perbincangan bergerak lebih cepat daripada fakta yang menyertainya.

Tiga Pertanyaan Sebelum Coba Treatment Baru

Dari penjelasan Hanny, setidaknya tiga hal bisa dijadikan pegangan sebelum mencoba treatment yang sedang ramai dibicarakan: status izin edarnya di Indonesia, sumber dan proses pengolahan bahan bakunya, dan ada tidaknya bukti klinis yang sudah melalui kajian ilmiah. Untuk skin booster berbahan hADM ini, ketiganya belum terpenuhi — bukan berarti pasti berbahaya, tapi juga belum ada dasar untuk menyebutnya aman. Hanny sendiri menyebut proses itu masih panjang. "Mungkin kalau misalnya itu semuanya sudah dilalui, mungkin bisa kita lihat apa kita ACC untuk [skin booster 'kulit mayat'] masuk di Indonesia," katanya.

BOOX PERSPECTIVE

Kasus ini memperlihatkan pola yang lebih luas di industri kecantikan: nama yang dramatis punya daya sebarnya sendiri, lepas dari sudah selesai atau belum kajian ilmiah di baliknya. 'Kulit mayat' menyebar bukan karena orang paham hADM, justru karena mereka tidak perlu paham istilah itu untuk merasa penasaran atau ngeri.

Bagi brand kecantikan, ini juga pengingat bahwa framing sebuah bahan bisa lepas kendali dari niat pemasarannya. Skin booster berbahan hADM kemungkinan besar tidak pernah dipasarkan dengan nama 'kulit mayat' oleh pihak yang menjualnya — nama itu lahir dari publik yang membaca komposisinya lalu menerjemahkannya sendiri, dan penjelasan resmi seperti dari PERDOSKI baru menyusul setelah julukan itu menempel duluan.

Satu fakta belum berubah sejak Hanny menjelaskannya pada 16 September lalu: bahkan PERDOSKI sendiri belum tahu apakah donor jaringan itu berasal dari orang yang masih hidup atau sudah meninggal.

Sumber & transparansiBerdasarkan laporan CNN Indonesia Gaya Hidup ↗Fakta merujuk pada sumber tersebut; kesimpulan editorial adalah analisis BOOX.