The Afternoon Slot Restaurants Wrote Off Is Where Drink-Only Visits Show Up
Laporan National Restaurant Association menemukan kunjungan yang tujuannya murni membeli minuman justru terkonsentrasi di sore hari, jam yang selama ini dianggap operator sebagai jeda sepi. Permintaan naik untuk variasi kopi, tapi melemah untuk dirty soda.

National Restaurant Association mencatat pola kunjungan yang selama ini jarang dihitung terpisah oleh operator restoran: konsumen datang bukan untuk makan, melainkan khusus membeli minuman. Restaurant Dive, yang melaporkan temuan ini, menyebutnya beverage-only occasions — kunjungan yang tujuannya semata minuman, tanpa makanan yang menyertainya. Gen Z dan milenial disebut sebagai kelompok yang paling banyak mendorong pola kunjungan seperti ini.
Yang membuat temuan ini punya konsekuensi operasional adalah waktunya: kunjungan minuman-saja itu terkonsentrasi di sore hari, bukan tersebar merata sepanjang jam buka. Di dalam kategori minuman itu sendiri ada pembelahan preferensi yang jelas — permintaan terhadap variasi kopi terus naik, sementara antusiasme terhadap dirty soda, tren minuman soda yang dicampur sirup atau krim dan sempat ramai di media sosial, cenderung melemah.
Pertanyaannya bukan lagi apakah pola ini nyata, tapi apa yang berubah kalau sore hari — jam yang selama ini diperlakukan sebagai jeda antara makan siang dan makan malam — ternyata punya permintaannya sendiri, dengan preferensi produk yang juga berbeda dari jam makan utama.
Jam Sepi yang Ternyata Tidak Sepi
Selama ini banyak operator menghitung sore sebagai biaya tetap: staf tetap harus ada, lampu tetap menyala, sewa tetap berjalan, tapi pendapatan dianggap minim karena bukan jam makan. Temuan NRA membalik asumsi itu. Kalau kunjungan minuman-saja justru terkonsentrasi di jam ini, sore bukan lagi periode menunggu jam ramai berikutnya — ia adalah daypart dengan permintaannya sendiri, dengan alasan kedatangan yang berbeda dari alasan orang datang saat makan siang atau makan malam. Konsekuensi praktisnya menyentuh hal-hal yang selama ini dianggap sudah final: jadwal staf sore mungkin perlu disusun ulang bukan sebagai jaga toko, melainkan sebagai layanan aktif; dan menu sore tidak harus jadi versi mini dari menu utama, melainkan bisa dirancang berdiri sendiri di sekitar minuman.
Kopi Bertahan, Dirty Soda Melambat
Di dalam kategori minuman, tidak semua tren mendapat sambutan yang sama. Variasi kopi — rasa, metode seduh, format penyajian yang lebih beragam — terus menunjukkan permintaan yang naik. Dirty soda, sebaliknya, tampak kehilangan momentum meski sempat viral. Pembelahan ini penting karena artinya operator tidak bisa memperlakukan 'kunjungan minuman' sebagai satu kategori seragam yang cukup diisi dengan tren apa pun yang sedang ramai di media sosial. Kopi menunjukkan daya tahan sebagai kategori yang terus bisa dikembangkan variasinya; dirty soda menunjukkan pola yang lebih umum pada tren viral — antusiasme awal yang tidak selalu berlanjut menjadi permintaan yang stabil.
Tiket Kecil, tapi Datang Lebih Sering
Kunjungan minuman-saja secara alami menghasilkan nilai transaksi yang lebih kecil dibanding kunjungan makan lengkap. Kalau operator mulai menganggap serius sore sebagai daypart tersendiri, konsekuensinya ada pada dua hal sekaligus: margin per transaksi dan kecepatan layanan. Tiket kecil dengan frekuensi tinggi menuntut alur kerja yang berbeda dari alur menyiapkan satu piring makanan lengkap — antrean harus bergerak cepat, dan operasional dapur atau bar harus dirancang untuk throughput, bukan untuk plating yang memakan waktu. Ini bukan sekadar soal menambah menu minuman, melainkan soal apakah sistem operasional sore sanggup melayani volume transaksi kecil tanpa membuat antrean menumpuk atau margin tergerus oleh biaya layanan yang tidak proporsional dengan nilai transaksinya.
Data ini datang dari konteks konsumen Amerika Serikat, dan pola kunjungan minuman-saja di jam sore sangat mungkin dibentuk oleh kebiasaan lokal — jam kerja, budaya kopi sore, atau struktur menu QSR (restoran cepat saji dengan model layanan cepat dan menu terbatas) yang berbeda dari pasar Indonesia. Sebelum operator lokal menata ulang jadwal staf atau menu sore berdasarkan temuan ini, langkah yang lebih aman adalah menguji dalam skala kecil: lihat apakah transaksi minuman-saja di toko sendiri memang terkonsentrasi di jam tertentu, dan apakah preferensi pelanggan lokal terhadap kopi versus minuman berbasis tren memang mengikuti pola yang sama.
Yang tetap relevan lintas pasar adalah cara berpikirnya, bukan angkanya: daypart yang selama ini dianggap biaya tetap bisa jadi menyimpan permintaan yang belum dihitung terpisah, dan tren viral pada satu kategori minuman tidak otomatis berarti permintaan yang bertahan. Operator yang memisahkan data kunjungan minuman-saja dari data kunjungan makan lengkap akan lebih cepat melihat pola ini muncul di tokonya sendiri, ketimbang menunggu laporan dari pasar lain.