Starbucks Tutup 250 Gerai di Amerika Utara, Ini Kriteria yang Dipakai COO-nya
Starbucks menutup sekitar 250 gerai di Amerika Utara, sekitar 1% dari total gerainya, sebagai putaran kedua pembersihan portofolio sejak Brian Niccol menjadi CEO dua tahun lalu. Perusahaan menyebutkan kriteria konkret yang dipakai untuk memutuskan lokasi mana yang tidak punya jalan ke depan.

Pada Jumat, 25 September 2026, Starbucks mengirim surat kepada karyawan yang mengumumkan penutupan sekitar 250 gerai di Amerika Utara. Angka itu setara sekitar 1% dari total lebih dari 18.000 gerai yang dimiliki perusahaan di kawasan tersebut, menurut laporan CNBC Indonesia yang mengutip CNBC International.
Ini putaran kedua sejak Brian Niccol menjabat CEO Starbucks sekitar dua tahun lalu. Di bawah kepemimpinannya, perusahaan berupaya memperbaiki pengalaman pelanggan, termasuk interaksi langsung di gerai. Pengulangan penutupan ini menandakan peninjauan portofolio sudah jadi bagian rutin dari agenda turnaround yang dijalankan Niccol sejak awal menjabat.
Yang membedakan putaran ini adalah alasan yang dinyatakan secara eksplisit oleh Chief Operating Officer (COO) Starbucks, Mike Grams, yang menandatangani surat itu. Ia menyebut dua ukuran yang dipakai perusahaan untuk menilai sebuah gerai: apakah lokasi itu masih bisa memberi pengalaman yang konsisten bagi pelanggan dan mitra, dan apakah ada jalan menuju kinerja keuangan yang bisa diterima. Kriteria itu yang jadi inti cerita ini — bukan sekadar angka penutupan, tapi bagaimana keputusan itu diambil, dan apa yang bisa dipelajari operator gerai lain darinya.
Ukuran yang Dipakai Grams: Konsistensi Pengalaman dan Jalan ke Depan
Dalam surat kepada karyawan yang dikutip CNBC International, Jumat (25/9/2026), Mike Grams menulis: "Kami telah meninjau secara cermat portofolio kedai kopi kami di Amerika Utara dan mengidentifikasi lokasi-lokasi di mana kami merasa tidak dapat secara konsisten memberikan pengalaman yang kami inginkan bagi pelanggan dan mitra, atau tidak melihat adanya jalan menuju kinerja keuangan yang dapat diterima." Dua kalimat itu sebenarnya dua kriteria terpisah, dan masing-masing cukup untuk menutup sebuah gerai sendiri-sendiri. Kriteria pertama soal pengalaman: gerai yang tetap ramai tapi standarnya tidak bisa dijaga, entah karena ruang terlalu sempit atau sulit direnovasi. Kriteria kedua soal angka: gerai yang mungkin masih nyaman dikunjungi, tapi proyeksi labanya tidak akan sampai ke titik yang bisa diterima, betapa pun lama ditunggu. Belum diketahui secara rinci lokasi mana saja yang terkena penutupan. Yang disebutkan CNBC Indonesia hanya perkiraan waktunya: sebagian besar gerai itu diperkirakan sudah berhenti beroperasi sebelum tahun fiskal 2026 Starbucks berakhir pada akhir September.
Ongkos US$300 Juta di Balik Penutupan
Penutupan ratusan gerai itu tidak gratis. Starbucks memperkirakan menanggung biaya restrukturisasi sekitar US$300 juta, atau sekitar Rp5 triliun. Sekitar US$200 juta dari jumlah itu untuk penghentian kontrak sewa lebih awal dan pesangon karyawan yang terdampak. Sisanya, sekitar US$100 juta, adalah biaya nonkas dari pelepasan dan penurunan nilai aset gerai. Bersamaan dengan itu, perusahaan memangkas target penambahan gerai baru bersih di tahun fiskal 2026, dari kisaran 600–650 gerai menjadi 440 gerai. Penambahan itu akan berasal dari pasar internasional; ekspansi domestik untuk sementara direm.
Putaran Kedua Sejak Niccol Menjabat, dan Ekspansi yang Tetap Dijanjikan
Materi yang dikutip CNBC Indonesia tidak merinci putaran pertama, tapi pengulangannya menunjukkan portofolio gerai ditinjau secara berkala, dan hasilnya bisa berupa penutupan lagi di masa depan. Untuk operator yang mengelola lebih dari satu gerai — jaringan kopi lokal, restoran cepat saji, atau ritel dengan banyak cabang — pertanyaannya jadi konkret: seberapa sering portofolio lokasi ditinjau, dan indikator apa yang dipantau sebelum kerugian di satu gerai menumpuk terlalu lama untuk ditutup dengan tenang. Meski menutup gerai di Amerika Utara, Starbucks dalam dokumen kepada regulator menyatakan masih melihat peluang pertumbuhan jangka panjang yang signifikan di kawasan itu, dan tengah menyiapkan sejumlah gerai baru untuk ekspansi berikutnya. Klaim itu perlu dibaca sebagai pernyataan perusahaan, bukan angka yang sudah dirinci — dokumen yang dikutip tidak menyebut jumlah atau lokasi gerai baru tersebut.
Kemungkinan Pola yang Lebih Luas — dan Batasan Datanya
Pemantauan redaksi terhadap pemberitaan industri restoran cepat saji AS menunjukkan pola penutupan serupa muncul di beberapa nama lain sepanjang tahun ini. Ini pengamatan pola dari pemantauan redaksi, belum dikonfirmasi lewat materi sumber artikel ini. Yang bisa dipastikan dari angka yang tersedia hanya soal Starbucks: sekitar 250 gerai ditutup dari lebih 18.000 gerai di Amerika Utara, kriteria dari Grams soal pengalaman dan kinerja keuangan, dan ongkos sekitar US$300 juta yang menyertainya.
Grams menuliskan penutupan ini sebagai hasil peninjauan berkala terhadap portofolio, bagian dari proses yang menurut suratnya sudah berjalan sejak awal kepemimpinan Niccol. Bagi operator yang memegang lebih dari satu gerai, cara membaca ini penting: menutup toko yang tidak lagi punya jalan ke depan adalah keputusan manajemen portofolio, bukan pengakuan kalah — dan kriteria yang dipakai Grams menunjukkan bedanya, karena keduanya bisa dipantau jauh sebelum kerugian menumpuk bertahun-tahun.
Yang membuat kriteria ini berguna dipakai di luar Starbucks adalah bentuknya yang sederhana: konsistensi pengalaman, dan jalan menuju kinerja keuangan yang bisa diterima. Soal ruang yang terlalu sempit untuk direnovasi, staf yang sulit dipertahankan, atau proyeksi laba yang sudah kelihatan mentok sejak tahun pertama — semuanya bisa jadi sinyal sebelum penutupan jadi satu-satunya pilihan yang tersisa.
Dugaan bahwa ini bagian dari gelombang restrukturisasi yang lebih luas di industri restoran cepat saji AS masih berupa pola dari pemantauan redaksi terhadap pemberitaan industri, belum dikonfirmasi oleh materi sumber artikel ini. Yang bisa dipastikan dari angka yang ada: Starbucks menutup sekitar 250 dari lebih 18.000 gerainya, menanggung ongkos sekitar US$300 juta untuk itu, dan tetap merencanakan penambahan 440 gerai baru — hanya saja dari luar Amerika Utara.