Step Branding: Kenapa Usaha Kecil Disarankan Menahan Jumlah SKU di Awal
Step 6 dari seri Step Branding menjelaskan cara membuat kode SKU untuk tiap varian produk, lengkap dengan contoh tabel dan saran soal berapa banyak varian yang sebaiknya dirilis di awal usaha.

Dalam buku Step Branding, David Liusman memberi contoh sesederhana sabun mandi. Sabun herbal ukuran 100 mililiter diberi kode SKU001, versi 250 mililiter jadi SKU002, dan varian aroma lemon berukuran 100 mililiter menjadi SKU003. Tiga produk punya tiga kode berbeda, dan itulah cara kerja SKU: singkatan dari Stock Keeping Unit, kode unik yang dipasang pada setiap variasi produk yang dijual, baik dari segi ukuran, warna, rasa, maupun kemasan.
Menurut buku ini, produk yang berantakan bisa membingungkan pembeli, menyulitkan pencatatan stok, dan membuat bisnis sulit tumbuh. SKU jadi jawabannya, dan langkah ini datang setelah legalitas usaha selesai diurus — episode sebelumnya dalam seri Step Branding membahas HAKI, BPOM, dan izin usaha lain, sebelum masuk ke penyusunan produk secara rapi.
Episode keenam ini menjelaskan bagaimana menyusun struktur produk lewat SKU, sekaligus satu saran yang menurut buku ini penting dipegang usaha kecil sejak awal: jangan buru-buru menambah terlalu banyak varian.
Satu Varian, Satu Kode
SKU berfungsi sebagai sistem pencatatan untuk tiap varian produk. Buku ini menyebut empat manfaat langsung kalau SKU disusun rapi: mengelola stok barang, menganalisis performa tiap varian, mempercepat proses input di marketplace atau aplikasi POS — sistem kasir yang mencatat penjualan dan stok sekaligus, dan menyusun laporan keuangan berdasarkan kategori produk. Dalam praktiknya, satu SKU mewakili satu kombinasi ukuran, warna, rasa, atau kemasan dari produk yang sama. Sabun herbal 100 ml dan sabun herbal 250 ml, meski satu jenis produk, tetap dicatat sebagai dua SKU terpisah.
Tabel yang Membuat Semua Varian Kelihatan Sekaligus
Buku ini menyarankan dua langkah sebelum kode dibuat. Pertama, memetakan semua produk yang akan dijual, mulai dari kategori utama seperti skincare, F&B (makanan dan minuman), atau pakaian, lalu dirinci sampai ke variasi terkecil seperti warna dan ukuran. Kedua, mengelompokkan hasil pemetaan itu dalam satu tabel berisi kolom kode SKU, nama produk, kategori, ukuran, warna atau rasa, dan harga. Contohnya begini: sabun herbal natural 100 ml masuk kategori bodycare dengan kode SKU001 seharga Rp25.000, versi 250 ml-nya SKU002 seharga Rp45.000, dan varian lemon fresh 100 ml SKU003 seharga Rp25.000. Format tabel semacam ini, menurut buku, berguna saat produk mulai dimasukkan ke marketplace atau aplikasi pencatatan stok.
Kode yang Bisa Dibaca, Bukan Kode Acak
Langkah berikutnya soal penamaan kode itu sendiri. Buku ini secara spesifik meminta pemilik usaha menghindari kode acak seperti X2R48Z, dan menggantinya dengan singkatan brand atau kategori ditambah angka. Dua contoh yang diberikan: SKN100 untuk skincare natural ukuran 100 ml, dan DRK02 untuk dress katun nomor dua.
Kenapa Jumlah SKU Sebaiknya Ditahan Dulu?
Yang paling ditekankan di bagian ini adalah soal waktu: kapan sebaiknya jumlah SKU ditambah, bukan sekadar bagaimana kodenya ditulis. Buku ini menyarankan pemilik usaha untuk tidak membuat terlalu banyak SKU saat baru memulai, dan fokus dulu pada produk best-seller atau core product — produk inti yang paling laku, sebelum menambahkan variasi lain. Untuk portofolio produk yang sehat, buku ini menyebut tiga hal yang perlu ada: produk utama atau produk andalan (hero product), produk pelengkap untuk cross-selling seperti toner sebagai pelengkap serum atau teh sebagai pelengkap madu, dan variasi harga dari kelas low, mid, sampai premium.
Bagian dari Seri Step Branding
Artikel ini adalah episode keenam dari seri Step Branding di BOOX PULSE, diambil dari buku "Step Branding — Dari Nama hingga Laris Manis" karya David Liusman, salah satu pendiri BOOX (PT BOOX Ide Kreatif). Step 6 masuk Bab II buku tersebut, tentang legalitas dan produk, tepat setelah episode sebelumnya yang membahas HAKI, BPOM, dan izin usaha lain. Episode berikutnya akan membahas desain kemasan yang bisa membuat calon pembeli tertarik membeli produk.
Buku ini tidak memberi angka pasti soal berapa jumlah SKU yang ideal untuk memulai usaha, dan itu wajar karena kompleksitas produk berbeda-beda antar kategori. Yang ditawarkan bukan patokan angka, melainkan urutan prioritas: pastikan produk andalan terbukti laku dulu, baru menambah varian. Prinsip itu berguna terutama bagi usaha yang baru merintis, karena menambah SKU berarti menambah beban pencatatan, foto produk, dan pengelolaan stok pada saat yang sama.
Yang belum dijawab buku ini adalah kapan tepatnya sebuah produk dianggap 'sudah terbukti laku' dan layak ditambah variasinya. Bagi pemilik usaha sabun herbal dalam contoh buku ini, itu berarti menunggu sampai varian 100 ml benar-benar laku sebelum menambah versi 250 ml atau varian lemon.