BOOX Media
BOOX PULSE Intelijen Pasar

The New Creator Premium: Proof You Actually Lived It

Sejumlah brand di Amerika Serikat mulai memilih creator berdasarkan konsistensi cerita hidup mereka bertahun-tahun, bukan sekadar usia audiens atau jumlah followers. Pergeseran ini membuka ruang bagi creator dengan followers lebih kecil tapi kredibilitas tinggi untuk menyusun ulang tarif dan kontrak.

Potongan batang pohon dengan cincin tahun yang jelas bersanding dengan kubus kaca presisi yang berkilau, di atas permukaan navy dengan cahaya hangat menyinari lapisan kayu terluar.
Waktu yang terekam dalam lapisan, berhadapan dengan kesempurnaan yang dibuat sekali jadi. Ilustrasi konseptual: BOOX Media, dibuat dengan bantuan AI

Alex Madison dan Jon Bouffard mulai memposting konten berdua di TikTok dan Instagram pada Agustus 2020, dengan nama akun sederhana: Alex and Jon. Dalam sebulan mereka sudah viral, membawakan skit tentang gaya hidup DINK—singkatan dari Double Income No Kids, sebutan untuk pasangan berpenghasilan ganda tanpa anak—lengkap dengan begadang nonton serial, liburan yang tak pernah putus, dan perayaan ulang tahun di usia tiga puluhan. Followers mereka kini lebih dari 10 juta, tersebar di TikTok, Instagram, dan YouTube.

Lalu Madison hamil. Sebagian fans bereaksi buruk. "Orang-orang bilang, Unfollow! Ini bukan yang aku ikuti," kata Madison. Mereka mengira pasangan ini akan berubah jadi akun family vlog. Madison kemudian kehilangan bayinya pada usia kandungan 27 minggu. Ia dan Bouffard belakangan menyambut kelahiran anak perempuan mereka, dan menurut Madison, audiens mereka perlahan menerima babak baru ini.

Konten mereka pun berubah. Skit masih ada, tapi kini Bouffard sering memerankan tokoh anak mereka sendiri, memperlihatkan sisi kurang glamor dari mengasuh anak. Perubahan nada inilah yang mengubah cara brand mendekati mereka—dan membuka pertanyaan yang lebih besar tentang apa sebenarnya yang sedang dibeli brand ketika mereka membayar seorang creator.

Ketika Permintaan Brand Berubah dari Testimoni ke Percakapan

Menurut Nilou Ajdari, co-founder sekaligus head of talent di Currents Management yang menaungi Alex and Jon, RFP—request for proposal, dokumen ajakan brand untuk sebuah campaign—yang masuk berubah bentuk. "Lebih dalam, mereka ingin orang berpikir, mereka ingin memancing percakapan," kata Ajdari. Salah satu contohnya adalah kerja sama dengan Similac, brand susu formula, dalam kampanye yang menurut Ajdari bicara soal bagaimana peran ibu terlihat sempurna secara online padahal bisa sangat mengisolasi secara emosional. Sebuah studio kebugaran—Ajdari enggan menyebut namanya karena negosiasi masih berjalan—menghubungi Madison setelah menonton film pendek yang ia buat tentang kehilangan bayinya, berharap bisa masuk secara alami ke dalam ceritanya soal pemulihan fisik dan emosional. Lauren Lyster, vice president dan head of social media di agensi Go Fish Digital, melihat pola yang sama pada generasi creator elder millennial dan Gen X secara umum: topik yang mereka bawa—kesuburan, merawat orang tua, menua—sudah dewasa seiring usia mereka sendiri, dan topik semacam itu tidak selesai dalam satu unggahan. Brand meresponsnya dengan membangun hubungan jangka panjang alih-alih kampanye satu momen.

Followers 36 Ribu, Tapi Brand Kesehatan Perempuan yang Mendekat

Ellie Fletcher punya followers jauh lebih kecil: 36 ribu di TikTok, dengan 3,5 juta likes terkumpul. Awalnya seorang hairdresser yang memakai media sosial untuk membangun basis klien setelah pindah negara bagian, ia mengunggah konten kecantikan seperti kebanyakan creator lain. Setelah bergulat dengan infertilitas dan didiagnosis endometriosis, pada 2025 ia mulai membicarakan masalah kesehatannya di sela-sela unggahan kecantikan biasa. Fletcher tidak bersedia membagikan detail kontrak, tapi mengatakan ia kini bekerja sama dengan brand yang menjual produk seputar kesehatan perempuan—kerja sama yang menurutnya terasa lebih berarti dibanding kemitraan produk kecantikan yang sifatnya lebih permukaan. Follower count-nya tidak sebanding dengan Alex and Jon, tapi posisinya dalam satu topik yang konsisten membuat brand tertentu memilih dia dibanding creator dengan reach jauh lebih besar namun ceritanya berpindah-pindah tema tiap minggu.

Kenapa Followers Muda Berhenti Jadi Jaminan?

Data di sekitar pergeseran ini menjelaskan kenapa brand tidak lagi puas hanya menyasar audiens muda. Survei WordPress VIP terhadap konsumen AS menemukan 60 persen menganggap penggunaan AI dalam pesan brand sebagai turnoff—hal yang membuat mereka enggan melanjutkan interaksi dengan brand tersebut. Emarketer melaporkan 34 persen pengguna media sosial lebih mungkin membeli produk setelah membaca ulasan dari creator yang mereka anggap otentik. Sementara itu, data Harris Poll yang dibagikan ke Emarketer menunjukkan hampir dua pertiga Gen Z mengaku berhenti membeli lewat TikTok Shop, meski platform itu tetap yang paling populer untuk social commerce, transaksi jual beli yang terjadi langsung di dalam aplikasi media sosial. Itu membuat angka dari Edison Research terasa lebih penting: 47 persen pengguna TikTok berusia 25 hingga 44 tahun mengaku membeli produk yang mereka kenal lewat platform itu. Jo Wong, chief revenue officer di POP.STORE, platform commerce berbasis agentic AI untuk creator, menyimpulkan bahwa brand kini sadar mereka harus mengambil peran di dalam cerita creator, bukan menempelkan produk di atasnya begitu saja. "Reach, suara, dan otentisitas creator sangat penting untuk strategi marketing kalian... kalian harus memasukkan cerita mereka ke dalam narasi yang lebih besar," kata Wong.

Ukuran yang Bisa Dites Tanpa Jargon

Lily Comba, founder dan CEO agensi influencer Superbloom, melihat definisi otentisitas sendiri sedang bergeser—atau lebih tepatnya, cara brand menerapkannya berubah. "Dulu otentisitas soal siapa yang paling meyakinkan menyampaikan talking points dengan gaya bicaranya sendiri... sekarang lebih ke bagaimana kehadiran creator ini, bagaimana ia bicara, bagaimana topik yang ia bawa membuat orang merasa," kata Comba. Ia menyebut creator yang lebih matang membawa otentisitas yang terasa aman—alasan orang bertahan mengikuti cerita mereka, alasan engagement-nya tinggi, dan alasan mereka bisa memasang fee lebih mahal sekaligus mendapat retensi follower sebagai pembeli yang jauh lebih panjang. Comba juga mencatat creator seperti Alex and Jon cenderung mengambil lebih sedikit kemitraan dibanding creator muda yang menerima hampir semua tawaran; orang tua baru punya waktu lebih sedikit untuk membuat konten, jadi kemitraan mereka lebih jarang tapi dirancang untuk jangka panjang. Pola inilah yang bisa dipakai sebagai ukuran praktis: lihat apakah topik yang dibawa seorang creator konsisten dalam beberapa tahun terakhir—seperti perjalanan Alex and Jon dari konten DINK sejak 2020 ke parenting hari ini, atau Fletcher yang terus bicara kesehatan perempuan sejak 2025—bukan berpindah tema mengikuti tren tiap bulan. Comba memperkirakan tren brand merangkul creator yang lebih tua ini akan makin besar pada kuartal keempat 2026.

BOOX PERSPECTIVE

Data ini datang dari pasar Amerika Serikat, dan perilaku belanja lewat social commerce di sana—termasuk pola TikTok Shop yang disebut dalam laporan Digiday—tidak otomatis berlaku sama di Indonesia, tempat dinamika platform serupa tumbuh lewat mekanisme yang berbeda. Yang tetap relevan untuk brand mana pun tanpa peduli pasarnya: ongkos membuat konten AI yang rapi terus turun, sementara ongkos menemukan seseorang yang benar-benar melewati apa yang ia ceritakan tidak ikut turun.

Untuk tim yang menyusun budget influencer di Indonesia, pelajaran paling langsung bukan soal umur creator, melainkan soal cara membaca timeline mereka sebelum menandatangani kontrak. Followers boleh kecil, tapi kalau seorang creator konsisten membicarakan satu isu selama bertahun-tahun—bukan sekali viral lalu berganti niche—kemungkinan besar audiensnya lebih siap percaya pada apa pun yang ia rekomendasikan berikutnya. Uji ini murah dan tidak butuh riset pihak ketiga: buka arsip unggahan dua sampai tiga tahun ke belakang, dan lihat apakah ceritanya benar-benar tumbuh atau cuma berganti kostum mengikuti tren.

Yang perlu diuji ulang per kategori adalah seberapa besar audiens Indonesia rela membayar premium untuk kredibilitas semacam ini dibanding sekadar reach—sesuatu yang belum terjawab oleh data AS manapun yang dikutip di atas.

Sumber & transparansiBerdasarkan laporan Digiday ↗Fakta merujuk pada sumber tersebut; kesimpulan editorial adalah analisis BOOX.