Turis Bayar QRIS dari Ponsel Sendiri, Uangnya Rp4,6 Triliun Masuk ke Merchant Indonesia
Bank Indonesia mencatat net inbound QRIS Antarnegara Rp4,6 triliun sejak Agustus 2022, dan uang itu masuk lewat kode QR yang sama yang dipakai warung, kafe, dan toko untuk pelanggan lokal setiap hari.

Rabu, 23 September 2026, dalam konferensi pers Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia, Deputi Gubernur Filianingsih Hendarta menyebut satu angka yang jarang muncul di laporan pembayaran digital: net inbound QRIS Antarnegara sebesar Rp4,6 triliun. Angka ini terkumpul dari 17,8 juta transaksi, dihitung sejak QRIS Antarnegara pertama kali berlaku pada 29 Agustus 2022 hingga akhir Agustus 2026.
Fili menjelaskan net inbound berarti nilai belanja turis mancanegara di Indonesia lebih besar daripada nilai belanja warga Indonesia di negara-negara mitra. Nominal transaksi wisatawan asing sendiri tercatat Rp6,2 triliun, jauh di atas arus yang mengalir ke arah sebaliknya.
Uang itu tidak masuk lewat mesin baru atau kanal khusus turis. Ia masuk lewat kode QR yang sama yang sudah terpasang di kasir warung, kafe, dan toko sejak QRIS diwajibkan — kode yang selama ini kebanyakan pemilik usaha anggap cuma dipakai pelanggan yang bicara bahasa Indonesia.
Apa yang Diukur BI, dan Kenapa Angkanya Berbeda dengan yang Beredar Sebelumnya?
Angka Rp4,6 triliun yang disebut Fili bukan satu-satunya angka QRIS Antarnegara yang beredar tahun ini. Kontan sebelumnya melaporkan, hingga Juli 2026, sistem ini sudah mencatat 25,67 juta transaksi senilai Rp7,63 triliun, terkoneksi ke enam negara: Thailand, Malaysia, Singapura, Jepang, Korea Selatan, dan China. Dua angka itu tidak bertentangan, tapi mengukur hal yang berbeda. Punya BI adalah angka bersih (net) khusus arah masuk — belanja turis asing di Indonesia dikurangi belanja orang Indonesia di negara mitra. Punya Kontan kemungkinan mencakup transaksi dua arah sekaligus, termasuk warga RI yang memakai QRIS saat belanja di luar negeri. Selisih metrik ini yang membuat jumlah transaksi Kontan tampak lebih tinggi meski periode datanya lebih pendek.
Kode QR yang Sama, Pembeli yang Berbeda
Mekanismenya sederhana secara teknis, meski dampaknya tidak kecil bagi pemilik usaha. QRIS Antarnegara memungkinkan turis asing membuka aplikasi pembayaran dari negaranya sendiri, memindai kode QR yang terpasang di merchant Indonesia, lalu membayar seperti biasa. Sebaliknya, orang Indonesia bisa memakai aplikasi yang biasa mereka pakai di dalam negeri untuk membayar di merchant enam negara mitra tadi. Bagi pemilik warung, kafe, atau toko di kawasan wisata, ini berarti kode QR yang sudah tertempel di meja kasir sekarang berpotensi menerima pembayaran dari turis Thailand, Jepang, atau Korea Selatan tanpa perlu memasang alat baru. Tidak ada EDC (mesin gesek kartu) tambahan, tidak ada aplikasi kedua yang harus diinstal di ponsel kasir.
Yang Tidak Disebut BI: Biaya, Waktu Cair, dan Kurs
Materi yang disampaikan BI tidak menyebut satu hal yang paling praktis bagi pemilik usaha: apakah merchant discount rate (MDR) — potongan biaya yang diambil penyedia layanan dari setiap transaksi — untuk pembayaran QRIS Antarnegara sama dengan MDR transaksi QRIS domestik. Tidak disebutkan pula berapa lama dana dari transaksi lintas negara ini butuh waktu untuk cair ke rekening merchant, atau bagaimana selisih kurs dihitung saat turis membayar dalam mata uang asing tapi merchant menerima rupiah. Ketiga hal ini bukan detail kecil. MDR yang berbeda mengubah margin bersih di setiap transaksi turis, dan waktu cair yang lebih lama mengganggu cash flow harian, terutama bagi usaha kecil yang mengandalkan perputaran uang setiap hari. Pemilik usaha di kawasan wisata yang mulai menerima transaksi lintas negara sebaiknya menanyakan tiga hal ini langsung ke penyedia QRIS mereka, bukan berasumsi angkanya sama dengan transaksi domestik.
Pengakuan di New York, Prakteknya di Meja Kasir
Dua hari sebelum konferensi pers RDG, tepatnya Senin 21 September 2026, QRIS Antarnegara menerima penghargaan "50-in-5 Awards 2026" kategori Kolaborasi dari Digital Public Goods Alliance dan Co-Develop, diserahkan di sela Sidang Majelis Umum PBB ke-81 di New York. Chief Investment Officer Co-Develop, Lindsey Crumbaugh, menyerahkan penghargaan itu kepada Fili yang mewakili Indonesia. BI menyebut penghargaan ini sebagai pengakuan global atas konektivitas pembayaran lintas negara yang dibangun bersama enam negara mitra. Terlepas dari nilai simbolisnya, jarak antara panggung penghargaan di New York dan meja kasir warung di Bali atau Yogyakarta tetap harus ditempuh oleh sesuatu yang lebih membosankan: siapa yang menanggung biaya transaksi, dan berapa lama uangnya benar-benar sampai.
Angka Rp4,6 triliun net inbound gampang dibaca sebagai berita makro yang jauh dari meja kasir. Padahal mekanismenya menunjuk langsung ke kode QR yang sudah tertempel di warung, kafe, dan toko — kode yang sama, dipakai pembeli yang berbeda. Uang itu tidak butuh alat baru untuk masuk, ia hanya butuh pembeli baru yang tahu cara memakainya.
Konsentrasi manfaatnya kemungkinan tidak merata. Enam negara mitra yang terkoneksi — Thailand, Malaysia, Singapura, Jepang, Korea Selatan, dan China — adalah negara asal turis yang paling sering ditemui di Bali, Yogyakarta, dan pusat wisata urban lain, jadi dampak Rp4,6 triliun ini kemungkinan besar terasa lebih dulu di sana daripada di kota tanpa arus turis asing.
Yang belum terjawab tetap soal operasional, bukan soal makro: kalau sebagian pembeli tidak berbahasa Indonesia dan membayar dari aplikasi yang namanya baru terdengar minggu ini, apa yang perlu diubah di menu, di papan harga, dan di pelatihan kasir sebelum transaksi pertama itu benar-benar terjadi?