Udin Menolak Tawaran Kelola Restoran di Cikarang, Pilih Gerobak Bakso Keliling Jakarta
Setelah kena PHK pertengahan 2024, Udin punya pilihan mengelola restoran di Cikarang. Ia menolaknya karena ayahnya sakit di kampung dan butuh pekerjaan yang bisa ditinggal kapan saja.

Udin kena PHK pertengahan 2024. Enam bulan sesudahnya ia belum memutuskan apa pun — kembali cari kerja kantoran atau membuka usaha sendiri. Di tengah masa menimbang itu, seorang kolega menawarinya posisi mengelola restoran di Cikarang, Jawa Barat.
Ia menolak. Alasannya bukan soal gaji atau posisi, melainkan ayahnya yang sedang sakit di kampung dan tidak bisa berjalan. Mengelola restoran berarti terikat jam dan lokasi tetap, sementara Udin butuh pekerjaan yang bisa ia tinggalkan sewaktu-waktu kalau harus pulang.
Awal 2025, ia memutuskan berjualan bakso pakai gerobak motor, berkeliling kawasan perkantoran Jakarta seperti Kuningan dan Tebet. Usaha itu sekarang dikenal sebagai Bakso Bang Udin. Yang menarik dari urutan kejadian ini: keputusan model usahanya ditentukan lebih dulu oleh kebutuhan merawat orang tua, baru kemudian ia mencari cara menjualnya.
Bekal yang Sudah Ada Sebelum Gerobak Pertama Jalan
Udin bukan orang yang baru kenal dapur saat PHK itu datang. Ia sudah bekerja di industri F&B selama bertahun-tahun, dan menurut materi CNBC Indonesia, pengalaman di dapur itu dimulai sejak lulus sekolah pada 2005. Resep dasar baksonya datang dari mertuanya, yang juga berjualan bakso, lalu ia kembangkan sendiri jadi tujuh varian — mulai bakso urat, telur, daging, daging mercon, keju, sayur, hingga bakso beranak. Ini yang membedakan ceritanya dari narasi umum 'korban PHK nekat buka usaha dari nol'. Udin punya modal keahlian sebelum ia punya gerobak. Harga jualnya dipatok terjangkau untuk target pekerja kantoran, sekitar Rp20.000, dengan varian campuran keju dan urat di Rp35.000.
Diusir Berpindah-pindah Sebelum Menemukan Lokasi yang Bertahan
Jalan Udin mencari lokasi tidak mulus. Ia sempat berpindah-pindah karena ditegur satpam, Satpol PP, dan pedagang lain di kawasan yang ia singgahi. "Di situ banyak tantangan tuh, diusir security, terus kayak Satpol PP, beberapa pedagang-pedagang lain, dari situ udah tuh pindah-pindah terus," katanya kepada wartawan CNBC Indonesia. Ia akhirnya menetap di kawasan Menara Bidakara, Jakarta Selatan, berjualan bersama seorang pedagang kopi dengan pelanggan mayoritas pekerja kantor setempat. Dari kapasitas produksi 3 kilogram bakso per hari di awal usaha, jumlahnya naik jadi sekitar 20 kilogram — setara 200 sampai 220 mangkuk sehari.
Video Pelanggan yang Mengubah Skala Usahanya
Titik baliknya datang dari video yang dibuat salah satu pelanggannya sendiri, bukan dari strategi promosi Udin. Video itu viral di TikTok dan masuk ke beranda banyak pengguna, membuat nama Bakso Bang Udin dikenal lebih luas di Jakarta hingga Depok. Dari viralitas itu, ia mendapat tawaran tampil di program televisi dan dikenal publik figur seperti Shanty Cagur, juga tawaran mengikuti festival kuliner. Menurut materi sumber, Udin merasa seperti dejavu karena sebelumnya pernah bekerja di sebuah grup media di Indonesia. Setelah viral, tawaran membuka usaha di Bogor, BSD, dan Makassar pun berdatangan — tapi ia memilih tidak terburu-buru membuka cabang atau waralaba, dengan alasan menjaga rasa, pelayanan, kebersihan, dan konsistensi lebih dulu.
Omzet Rp5 Juta yang Perlu Dibaca Hati-hati
CNBC Indonesia mencatat omzet harian Bang Udin sekitar Rp4,5 juta hingga Rp5 juta dari 200-220 mangkuk terjual, dengan catatan eksplisit dari sumber bahwa angka itu omzet, bukan keuntungan. Biaya bahan baku, operasional gerobak, dan tenaga belum dikurangkan dari angka tersebut, jadi ia bukan ukuran langsung seberapa untung usaha ini. Udin mengelola usahanya hampir seorang diri, dan tantangan operasional yang disebut sumber bukan soal pemasaran melainkan hal yang lebih teknis: menyiapkan uang kembalian di tengah banyaknya transaksi tunai setiap hari. Ia kemudian memakai fitur QRIS dari Saku Bisnis Bank Raya sebagai cara mengelola pembayaran dan arus kas, termasuk pencairan dana di hari yang sama lewat empat batch pencairan.
Kisah Udin sering dibaca sebagai formula: kena PHK, lalu viral, lalu sukses. Urutan sebenarnya lebih berantakan — ia menolak tawaran yang secara konvensional lebih menjanjikan, yaitu mengelola restoran di Cikarang, karena pekerjaan itu tidak bisa ditinggal kalau ayahnya di kampung butuh dirawat. Fleksibilitas, bukan proyeksi omzet, adalah kriteria yang menentukan model usaha apa yang ia pilih.
Viralitas TikTok dan tayangan televisi adalah hal yang terjadi padanya, bukan strategi yang ia rancang. Video yang membuatnya dikenal luas dibuat oleh pelanggan, bukan oleh Udin. Pola ini sejalan dengan beberapa cerita serupa yang belakangan muncul di pemberitaan — eks CEO yang berjualan nasi lemak, lulusan S2 yang beralih memanen paprika — meski ini sebatas pola yang terlihat di pemberitaan, bukan data pasar yang bisa diverifikasi soal berapa banyak orang sebenarnya mengambil jalan serupa.
Yang luput dari narasi 'banting setir jadi pedagang' adalah bahwa Udin masuk dengan modal keahlian dapur sejak 2005 dan resep keluarga dari mertuanya. Ia bukan orang yang nekat dari nol. Pelajaran yang lebih jujur untuk pembaca yang mempertimbangkan jalur serupa: pertanyaan pertama yang menentukan bentuk usaha sering bukan 'pasar mana yang paling menjanjikan', tapi 'berapa banyak keterikatan waktu yang bisa saya tanggung sekarang'.