Dum Dum Paling Autentik Menurut Survei, Tapi Kalah Ramai dari Chatime dan Kopi Kenangan
Survei Jakpat terhadap 300 konsumen Thai tea menemukan brand yang paling dianggap autentik bukan yang paling banyak diminum tiga bulan terakhir.

Chatime dan Kopi Kenangan sama-sama dikonsumsi oleh 28 persen dari 300 responden survei Jakpat dalam tiga bulan terakhir, jauh di atas Dum Dum Thai Drinks yang hanya 13 persen. Angka ini dirilis 28 September 2026 lewat keterangan Lead Researcher Jakpat, Farida Hasna, kepada Lifestyle Liputan6.com.
Tapi urutan itu berbalik total begitu pertanyaannya bukan lagi "apa yang kamu minum" melainkan "mana yang rasanya paling autentik". Dum Dum melompat ke posisi teratas dengan 82 persen responden menilai rasanya autentik. Chatime menyusul di 71 persen, Kopi Kenangan 63 persen, haus! 57 persen, dan Es Teh Indonesia 52 persen.
Brand yang paling sering dibeli bukan brand yang paling dipercaya rasanya. Jarak dua tabel itulah yang menjadi pertanyaan sebenarnya: kalau autentisitas bukan yang membuat orang membeli lebih sering, apa yang membuatnya?
Dua tabel, dua pemenang berbeda
Survei ini menghasilkan dua peringkat yang tidak saling mencerminkan. Di tabel konsumsi, Chatime dan Kopi Kenangan memimpin dengan porsi lebih dari dua kali lipat dibanding Dum Dum di posisi ketiga. Di tabel persepsi rasa autentik, Dum Dum unggul jauh dari keduanya. Kopi Kenangan yang menempati posisi teratas konsumsi justru turun ke urutan ketiga soal autentisitas, di bawah Chatime. Hasna mencatat pola ini secara spesifik pada Dum Dum: "Salah satunya terlihat dari Dum Dum Thai Drinks, yang lebih menonjol pada persepsi rasa yang enak dan autentik, dan hal ini juga terlihat pada tingkat kepuasan konsumennya." Artinya persepsi autentik itu bukan angka yang berdiri sendiri — survei ini juga menangkapnya berkorelasi dengan kepuasan konsumen Dum Dum, meski keduanya tetap dua indikator yang terpisah dari volume konsumsi.
Kalau bukan rasa, apa yang menentukan siapa lebih sering dibeli?
Survei ini tidak mengukur alasan di balik gap tersebut secara langsung. Tapi ada satu petunjuk yang disebutkan Hasna sendiri: "Selain awareness dan kemudahan menemukan brand, pengalaman terhadap produknya sendiri tetap menjadi bagian penting dalam pilihan konsumen." Pengalaman produk, pengenalan brand, dan kemudahan menemukannya berjalan bersama sebagai faktor pilihan — bukan rasa autentik saja. Sebagai analisis BOOX, gap konsumsi-persepsi ini kemungkinan besar tertutup oleh faktor distribusi yang tidak diukur survei: jumlah gerai, kedekatan lokasi ke tempat konsumen beraktivitas, harga per cup, dan frekuensi promo. Ini hipotesis yang masuk akal mengingat Hasna sendiri menyebut awareness dan kemudahan menemukan brand sebagai faktor pendamping pengalaman produk — tapi survei ini tidak memverifikasinya secara langsung, jadi tetap harus dibaca sebagai dugaan, bukan temuan.
Thai tea bukan minuman harian bagi kebanyakan orang
Data konsumsi ini berlangsung di tengah pola beli yang sebenarnya tidak terlalu sering. Sebanyak 48 persen responden minum Thai tea satu sampai tiga kali sebulan, 36 persen satu sampai tiga kali seminggu, 12 persen empat sampai enam kali seminggu, dan hanya 4 persen setiap hari. Thai tea, dengan kata lain, lebih sering menjadi pilihan sesekali daripada rutinitas harian. Format konsumsinya juga beragam. Seluruh responden pernah membeli Thai tea racikan gerai dalam kemasan cup untuk dibawa pergi, lebih dari separuh juga mengonsumsi versi siap minum, dan 31 persen pernah membuat sendiri dari produk bubuk. Keragaman ini berarti persaingan lima brand yang disurvei tidak terjadi dalam satu jalur pembelian saja — gerai, siap minum, dan bubuk racikan sendiri semuanya berebut porsi yang sama.
Bagi pemilik brand F&B, temuan ini punya implikasi yang gampang terlewat: klaim autentisitas rasa terbukti bisa dipercaya konsumen tanpa otomatis mengubah frekuensi mereka membeli. Dum Dum unggul telak di persepsi tapi tertinggal jauh di volume — artinya autentisitas berfungsi sebagai aset persepsi, bukan mesin konversi dengan sendirinya.
Yang belum terjawab dari survei ini justru pertanyaan paling praktis: berapa banyak gerai yang dimiliki tiap brand, di kota mana saja, dan berapa selisih harganya. Tanpa data itu, hipotesis soal distribusi dan harga sebagai penutup gap tetap dugaan, bukan kesimpulan yang sudah teruji.
Ada satu batas yang perlu digarisbawahi: ini survei terhadap 300 responden di satu kategori minuman, bukan potret seluruh pasar minuman Indonesia. Cukup untuk melihat pola, tidak cukup untuk menjadikannya rumus umum bagi kategori F&B lain.