BOOX Media
BOOX PULSE Di Balik Bisnis

JBL Hapus 500 Ribu Tautan Ilegal Setahun, Segini Ongkos Menjaga Merek di Marketplace

HARMAN menghapus lebih dari 500 ribu tautan produk JBL ilegal di marketplace Asia Pasifik sepanjang 2025, sekitar 300 ribu di antaranya barang palsu. Angka itu menunjukkan besarnya kerja rutin yang harus ditanggung sebuah merek untuk menjaga etalase digitalnya.

Ilustrasi 3D editorial: stempel besar menandai satu kotak kemasan produk generik dengan tanda silang ochre, di depan grid kotak identik tak berujung yang menghilang ke kegelapan biru tua
Ilustrasi: setiap tautan yang dihapus adalah satu tindakan dari ratusan ribu — kerja berulang yang tidak selesai dengan satu kali penghapusan. Ilustrasi konseptual: BOOX Media, dibuat dengan bantuan AI

HARMAN International, perusahaan induk JBL, menghapus lebih dari 500 ribu tautan produk ilegal di berbagai platform marketplace digital di kawasan Asia Pasifik sepanjang 2025. Sekitar 300 ribu tautan di antaranya teridentifikasi sebagai barang palsu, sisanya melanggar Hak Kekayaan Intelektual (HAKI) milik HARMAN.

Angka itu diumumkan lewat siaran pers pada Senin, 21 September 2026, bertepatan dengan tahun ke-80 berdirinya JBL sejak didirikan James B. Lansing pada 1946. Tapi 500 ribu tautan bukan hasil satu gugatan atau satu razia besar. Itu akumulasi dari kerja yang diulang ratusan kali, di negara yang berbeda-beda, melibatkan pihak yang berbeda pula di tiap kasusnya.

Pertanyaan yang layak diajukan bukan seberapa besar angkanya, melainkan seperti apa bentuk pekerjaan di baliknya — dan apakah brand yang jauh lebih kecil, yang juga menjual lewat marketplace yang sama, punya cara untuk melakukan hal serupa.

Enam Bulan, Beberapa Operasi, Dua Negara Berbeda

Pada enam bulan pertama 2026, HARMAN bersama otoritas setempat menjalankan sejumlah operasi penegakan hukum di beberapa negara Asia Pasifik. Di Korea Selatan, aparat menyita produk JBL Flip 6 dan JBL Charge 6 palsu dalam dua operasi terpisah. Otoritas bea cukai Thailand menghentikan peredaran produk yang dipasarkan secara ilegal dengan nama "JBL Max 33". Dalam operasi lain di Thailand, pihak berwenang menyita produk palsu JBL Go 4, JBL Clip, dan sejumlah headphone JBL Tune. Tiap operasi ini melibatkan otoritas yang berbeda — kepolisian di satu negara, bea cukai di negara lain — yang berarti HARMAN harus menyesuaikan pendekatan hukumnya setiap kali berpindah yurisdiksi.

Klaim HARMAN Soal Reputasi di Usia ke-80

General Manager and Vice President Consumer Audio HARMAN Asia Pacific, Grace Koh, mengaitkan langsung angka penghapusan ini dengan usia JBL. "Di saat kami merayakan tahun berdirinya JBL yang ke-80, menjaga reputasi menjadi hal yang semakin krusial. Produk palsu tidak hanya melanggar Hak Kekayaan Intelektual kami, tetapi juga merusak pengalaman yang diharapkan konsumen dari JBL," ujar Grace, dikutip dari siaran pers HARMAN. HARMAN juga menyebut produk palsu berpotensi memakai komponen berkualitas rendah dan tidak melalui proses kendali mutu, sehingga performa dan keandalannya menurun serta risiko keselamatannya naik. Ini klaim dari HARMAN sendiri, dan siaran pers tidak melampirkan hasil uji produk palsu yang disita untuk membuktikannya.

Tiga Pihak yang Harus Terus Diajak Kerja Sama

HARMAN menyatakan akan terus memperkuat pemberantasan barang palsu dengan menggandeng platform e-commerce, otoritas bea cukai, dan aparat penegak hukum secara bersamaan. Ketiganya punya peran berbeda: platform menghapus tautan, bea cukai mencegat barang masuk, aparat menyita yang sudah beredar di pasar. Di luar penindakan hukum, HARMAN juga menjalankan kampanye edukasi anti-barang palsu lewat media sosial di kawasan Asia Pasifik, mendorong konsumen membeli lewat distributor resmi dan memverifikasi keaslian produk sebelum membeli. Kombinasi tiga jalur penindakan ditambah satu jalur edukasi ini menunjukkan bahwa masalahnya tidak selesai hanya dengan menghapus tautan — barang palsu yang sudah terlanjur beredar tetap harus ditangani terpisah.

Yang Tidak Disebutkan dalam Siaran Pers

Siaran pers HARMAN tidak merinci berapa biaya yang dikeluarkan untuk menjalankan operasi sebesar ini, berapa orang yang bekerja di tim brand protection-nya, atau metode apa yang dipakai untuk mendeteksi 500 ribu tautan itu di awal. Tidak ada juga data soal berapa persen dari tautan yang dihapus benar-benar tidak muncul lagi, atau platform mana yang paling banyak menjadi tempat barang palsu beredar. Untuk brand yang skalanya jauh di bawah HARMAN, jenis pekerjaan ini tetap sama: memantau listing yang memakai nama produknya, mendokumentasikan HAKI supaya laporan takedown punya dasar hukum, lalu mengajukan laporan itu satu per satu ke tiap platform tempat brand itu berjualan. Bedanya, brand kecil biasanya tidak punya tim internal atau anggaran khusus untuk mengerjakannya seperti yang dilakukan HARMAN sepanjang 2025.

BOOX PERSPECTIVE

Angka 500 ribu tautan ini paling tepat dibaca sebagai indikator volume kerja, bukan sebagai prestasi tunggal. HARMAN tidak sedang memenangkan satu kasus besar; ia sedang menjalankan proses yang berulang sepanjang tahun, di banyak negara, dengan hasil yang harus terus dipantau karena tautan baru bisa muncul lagi kapan saja.

Pola ini kemungkinan berlaku untuk semua brand yang bergantung pada marketplace pihak ketiga sebagai etalase utamanya, hanya saja jarang ada yang mempublikasikan angkanya sebesar ini. Brand skala menengah dan kecil menghadapi jenis pekerjaan yang sama — memantau listing, mengurus dokumentasi HAKI, melapor ke platform — tanpa sumber daya sebesar tim brand protection HARMAN.

Yang belum terjawab dari siaran pers ini justru pertanyaan yang paling praktis: berapa biaya nyata untuk menjaga 500 ribu tautan tetap terhapus, dan siapa di dalam struktur HARMAN yang mengerjakannya setiap hari.

Sumber & transparansiBerdasarkan laporan Katadata ↗Fakta merujuk pada sumber tersebut; kesimpulan editorial adalah analisis BOOX.