BOOX Media
BOOX PULSE Di Balik Bisnis

Kenapa Indomie Bisa Rp132.000 di F1 Malaysia, Tapi Tidak di Semua Booth

Satu booth di sirkuit F1 Malaysia bisa menyewa hampir Rp131 juta untuk tiga hari, sementara 40 UMKM di area lain hanya membayar sekitar Rp787 ribu. Selisih itu yang menentukan kenapa harga makanan di event besar bisa berjarak jauh dalam satu lokasi yang sama.

Ilustrasi dua booth makanan berukuran sangat berbeda berdiri berdampingan di tepi sirkuit balap, satu besar bertingkat dengan panggung tinggi, satu kecil berupa meja lipat sederhana, masing-masing menyajikan semangkuk mi
Ilustrasi: skala booth yang timpang di satu sirkuit yang sama menggambarkan jarak biaya sewa antara area komersial dan area UMKM bersubsidi Ilustrasi konseptual: BOOX Media, dibuat dengan bantuan AI

Formula 1 Malaysia Grand Prix kembali digelar awal Oktober 2026, dan seperti tahun-tahun sebelumnya, keluhan soal harga makanan di sekitar sirkuit Sepang ikut ramai dibicarakan. Dilansir Weird Kaya dan dikutip ulang detikFood pada 7 Oktober 2026, seporsi Indomie di area komersial dilaporkan dijual Rp132.000.

Tapi tidak semua booth di sirkuit itu menjual dengan harga setinggi itu. Di area bernama G Hillstand, 40 pelaku usaha mikro kecil menengah (UMKM) berjualan dengan harga yang jauh lebih murah — dan mereka tidak membayar sewa tempat maupun komisi penjualan sama sekali.

Yang membedakan dua kelompok pedagang ini bukan lokasi di peta, tapi struktur biaya yang mereka tanggung sebelum dagangan pertama terjual. Satu kelompok menyewa booth hingga RM30.000, sekitar Rp131 juta, untuk tiga hari balapan. Kelompok lain membayar RM180, sekitar Rp787 ribu, sebagai lisensi usaha ke pemerintah daerah setempat.

Dua Skema Sewa, Satu Sirkuit

Menurut laporan yang dikutip detikFood, pedagang komersial di sirkuit F1 Malaysia dikenakan tarif sewa booth yang bervariasi sesuai lokasi. Tarif tertinggi mencapai hampir RM30.000 atau sekitar Rp131 juta untuk periode tiga hari selama balapan berlangsung. Tarif termurah untuk kategori ini berada di RM6.250, sekitar Rp27,3 juta — masih jauh di atas apa yang dibayar UMKM di G Hillstand. Selain sewa, pedagang komersial juga dikenakan komisi 15 persen dari total penjualan, belum termasuk pajak penjualan dan layanan (SST). Artinya biaya yang harus ditutup pedagang bukan cuma angka sewa di depan, tapi juga potongan yang baru dihitung setelah dagangan terjual. Sementara itu, 40 UMKM di G Hillstand mendapat skema berbeda dari pemerintah Malaysia: bebas biaya sewa, bebas komisi penjualan, dan hanya membayar RM180 sebagai lisensi usaha kepada Majlis Perbandaran Sepang. Namun area ini, menurut laporan yang sama, tidak dapat diakses oleh penonton internasional — hanya warga lokal yang bisa menikmati harga murah dari 40 UMKM tersebut.

Kenapa Sewa Rp131 Juta Berujung ke Indomie Rp132.000?

Materi yang tersedia tidak merinci bagaimana pedagang di area komersial menghitung harga jual dari biaya sewa mereka — tidak ada rincian soal estimasi jumlah pengunjung per hari, berapa hari dibutuhkan untuk menutup biaya tetap, atau berapa persen dari sewa yang akhirnya dibebankan ke tiap porsi. Tapi arah hubungannya jelas dari angka yang ada: sewa sampai Rp131 juta untuk tiga hari, ditambah komisi 15 persen dari penjualan dan pajak SST, berarti setiap porsi yang terjual menanggung bagian dari biaya tetap itu sebelum pedagang mulai untung. Ini yang membuat harga seperti Indomie Rp132.000 — angka yang dilaporkan Weird Kaya dan dikutip detikFood, bukan hasil verifikasi langsung BOOX — masuk akal dari sisi struktur biaya, meski tetap terasa mahal dari sisi pengunjung yang membayarnya. Pedagang di area ini menjual ke penonton yang jumlahnya terbatas pada tiga hari balapan, dengan sewa yang harus lunas terlepas dari berapa porsi yang akhirnya terjual.

Subsidi untuk UMKM, Tapi Siapa yang Menanggung Selisihnya?

Program bebas sewa dan bebas komisi untuk 40 UMKM di G Hillstand disebut dirancang agar lebih banyak warga Malaysia bisa merasakan pengalaman menonton F1, sekaligus memberi UMKM lokal kesempatan berjualan di ajang internasional. Itu klaim tujuan programnya, berdasarkan laporan yang dikutip detikFood — bukan temuan independen BOOX. Yang tidak dijelaskan sumber: siapa yang menanggung selisih antara biaya yang seharusnya dibayar UMKM itu — setara dengan tarif komersial yang sampai Rp131 juta — dan yang benar-benar mereka bayar, yaitu Rp787 ribu. Apakah ditanggung penyelenggara, pemerintah daerah, atau justru dikompensasi dari pendapatan sewa komersial yang lebih tinggi, tidak disebutkan dalam materi yang tersedia. Ini pertanyaan terbuka yang relevan buat siapa pun yang ingin memahami bagaimana subsidi semacam ini benar-benar dibiayai, bukan cuma diumumkan.

BOOX PERSPECTIVE

Struktur dua tingkat di sirkuit Sepang ini pola yang juga relevan buat penyelenggara event di Indonesia yang mengandalkan booth F&B sebagai sumber pendapatan: sewa booth yang tinggi hampir selalu diteruskan ke harga jual, dan pengunjung menanggung konsekuensinya tanpa tahu berapa persen dari harga itu sebenarnya sewa tempat.

Untuk vendor yang mempertimbangkan ikut event besar, angka dari Sepang ini kasus konkret kenapa menghitung break-even per hari event — bukan per porsi yang terjual — jadi langkah yang tidak bisa dilewatkan. Sewa Rp131 juta untuk tiga hari berarti vendor harus tahu persis berapa porsi per hari yang dibutuhkan untuk sekadar menutup biaya tetap, sebelum satu rupiah pun masuk sebagai keuntungan.

Yang masih jadi pertanyaan terbuka dari laporan ini: mekanisme subsidi untuk UMKM di G Hillstand — siapa yang menanggung selisihnya — tidak dijelaskan sumber. Kalau penyelenggara event di Indonesia ingin mencontoh skema inklusi semacam ini, pertanyaan soal siapa yang membiayai selisihnya itulah yang harus dijawab lebih dulu, bukan cuma siapa yang berhak mendapat slot gratis.

Sumber & transparansiBerdasarkan laporan Detik Food ↗Fakta merujuk pada sumber tersebut; kesimpulan editorial adalah analisis BOOX.