BOOX Media
BOOX PULSE Intelijen Pasar

Ketika Cicilan Belanja Instan Berubah Jadi Modal Usaha

Riset LD FEB UI dan Kredivo Group menemukan lebih dari separuh kredit digital pada 2025 dipakai untuk kebutuhan produktif, bukan belanja konsumtif. Pergeseran ini menyingkap siapa sebenarnya yang mengandalkan paylater sebagai modal kerja.

Ilustrasi 3D sebuah jam pasir besar berlatar navy gelap; ruas atas berisi blok-blok kecil menyerupai modul kios yang tersangkut di leher sempit, ruas bawah hanya berisi sedikit keping emas tipis yang sudah jatuh longgar.
Ilustrasi konseptual: ketika tenor cicilan yang dirancang untuk ritme belanja cepat harus menampung siklus modal usaha yang jauh lebih panjang, alirannya tersendat di titik yang sama. Ilustrasi konseptual: BOOX Media, dibuat dengan bantuan AI

Kamis, 10 September 2026, dalam peluncuran Laporan Dampak Sosial dan Ekonomi Kredivo, Lembaga Demografi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (LD FEB UI) membuka data yang tidak biasa untuk produk yang selama ini identik dengan belanja online: 54,3% penggunaan kredit digital pada 2025 masuk kategori produktif, bukan konsumtif.

Angka itu datang dari kolaborasi riset LD FEB UI dengan Kredivo Group, salah satu penyedia paylater terbesar di Indonesia — layanan beli sekarang bayar nanti yang biasanya dipasang di halaman checkout e-commerce untuk mempercepat keputusan belanja. Wakil Kepala Bidang Penelitian dan Pelatihan LD FEB UI, Paksi Walandouw, menyebut kredit digital memang masih dipakai untuk kebutuhan sehari-hari, termasuk kebutuhan mendadak. Tapi ia menekankan penggunaannya tidak berhenti di situ.

Yang berubah bukan cuma persentasenya, tapi arah pergeserannya. Pada 2019, porsi kredit produktif sudah lebih tinggi, di angka 52,3%, sementara kredit konsumtif hanya 19,2% dan kategori lain-lain menyerap 28,5%. Pada 2025, konsumtif melonjak ke 41,7% dan kategori lain-lain menyusut tajam ke 4%, sementara produktif hanya naik tipis ke 54,3%. Dua kategori itu tumbuh berdampingan, dan yang tersisih adalah kategori yang dulunya paling besar.

Pertanyaannya bukan apakah kredit digital dipakai untuk usaha — datanya sudah menjawab itu. Pertanyaannya adalah apa yang terjadi ketika produk yang dirancang untuk siklus belanja mingguan dipakai untuk membiayai siklus usaha yang jauh lebih panjang dan tidak sepasti jadwal gajian.

Dari Mana Angka 54,3 Persen Itu Berasal

Riset LD FEB UI mendefinisikan kredit produktif sebagai pembiayaan untuk aktivitas yang menghasilkan pendapatan — income-generating activities, istilah yang dipakai peneliti untuk membedakannya dari sekadar konsumsi. Cakupannya luas: modal kerja usaha, investasi aset produktif, pendirian usaha baru, ekspansi bisnis, sampai pembelian mesin dan peralatan produksi. Definisi ini penting karena ia menjelaskan kenapa angkanya bisa setinggi itu tanpa harus menganggap semua pengguna paylater adalah pebisnis. Dari total pengakses kredit produktif, hampir separuhnya — 48% — menggunakan dananya untuk modal usaha. Sisanya terbagi ke dana pendidikan (26%), dana kesehatan (14%), dan biaya renovasi rumah (12%). Modal usaha bukan sekadar kategori terbesar; ia hampir dua kali lipat kategori kedua terbesar. Itu menunjukkan bahwa ketika orang memakai kredit digital untuk sesuatu yang produktif, kemungkinan besar yang mereka maksud memang menjalankan usaha, bukan membiayai keperluan lain yang kebetulan tercatat sebagai produktif.

Siapa yang Sebenarnya Diwakili Angka Ini?

Riset ini tidak merinci profil pekerjaan atau skala usaha respondennya, jadi bagian ini adalah pembacaan BOOX, bukan kesimpulan dari LD FEB UI. Pola yang masuk akal untuk menjelaskan lonjakan kredit produktif lewat kredit digital adalah pelaku usaha mikro yang tidak punya jejak kredit di bank — belum pernah mengajukan pinjaman formal, tidak punya agunan, atau usahanya belum berbadan hukum sehingga sulit lolos syarat kredit usaha rakyat. Bagi kelompok ini, proses pengajuan paylater yang cepat dan tanpa jaminan menjadi jalan masuk paling realistis ke pembiayaan, terlepas dari fakta bahwa produk itu awalnya dirancang untuk mempercepat keputusan belanja, bukan menopang arus kas usaha. Kredit digital dalam kerangka ini mengisi celah yang selama ini ditinggalkan kredit usaha formal: bukan karena lebih murah atau lebih cocok, melainkan karena lebih bisa diakses.

Tenor Dirancang untuk Belanja, Bukan untuk Musim Usaha

Di sinilah ketegangan yang tidak muncul di data tapi layak dipikirkan pelaku usaha yang memakai produk ini. Paylater umumnya punya tenor pendek — jangka waktu cicilan yang biasanya dihitung dalam hitungan minggu sampai beberapa bulan — karena memang dirancang untuk pembelian yang nilainya bisa dilunasi dari gaji atau pemasukan rutin berikutnya. Siklus usaha mikro tidak selalu bergerak secepat itu. Modal kerja untuk stok bahan baku, misalnya, baru kembali menjadi uang tunai setelah barang terjual, dan itu bisa memakan waktu lebih panjang dari tenor cicilan yang tersedia. Ketika tenor lebih pendek dari siklus perputaran usaha, pelaku usaha menutup cicilan dari kas yang seharusnya dipakai untuk memutar barang berikutnya, bukan dari keuntungan usaha itu sendiri. Riset ini tidak mengukur seberapa sering situasi itu terjadi. Yang bisa dipastikan hanya bahwa produk dan kebutuhan penggunanya berjalan pada dua ritme yang berbeda, dan tidak semua pengguna menyadari perbedaan itu saat mengajukan pinjaman.

Cara Membaca Biaya Sebelum Memakainya sebagai Modal

Bagi pelaku usaha yang mempertimbangkan paylater sebagai sumber modal kerja, ada dua angka yang lebih penting daripada limit yang ditawarkan: tenor dan waktu perputaran usaha sendiri. Kalau tenor cicilan tiga bulan sementara siklus jual-beli barang baru selesai dalam empat bulan, cicilan bulan ketiga akan dibayar dari kas yang belum sempat berputar, bukan dari hasil penjualan yang dibiayai pinjaman itu. Biaya paylater juga umumnya dihitung per transaksi atau per bulan, berbeda dari bunga kredit usaha yang biasanya dihitung tahunan — perbandingan yang sering luput karena angkanya terlihat kecil per transaksi tapi terakumulasi kalau dipakai berulang untuk menutup modal kerja yang sama. Riset LD FEB UI menunjukkan bahwa fungsi kredit digital sudah bergeser ke arah produktif; ia tidak menyatakan bahwa produknya sudah dirancang ulang untuk fungsi itu. Dua hal itu berjalan pada waktu yang berbeda, dan pelaku usaha yang menyadarinya bisa memakai produk yang sama dengan risiko yang lebih terukur.

BOOX PERSPECTIVE

Data ini punya nilai justru karena datangnya dari dua arah yang independen: riset akademis LD FEB UI dan data internal penyedia paylater sendiri, dan keduanya menunjuk pola yang sama. Itu cukup untuk menyimpulkan sesuatu tentang pasar kredit digital secara umum, bukan sekadar performa satu perusahaan.

Yang belum dijawab riset ini, dan menurut kami justru bagian paling penting bagi pelaku usaha mikro, adalah soal kecocokan antara desain produk dan kebutuhan penggunanya. Paylater tumbuh dari logika checkout e-commerce: mempercepat keputusan beli dengan cicilan pendek yang dilunasi dari pemasukan rutin. Usaha mikro punya logika berbeda — kas masuk tidak selalu rutin, dan siklus modal kerja bisa lebih panjang dari tenor yang ditawarkan. Ketika satu produk dipakai untuk dua logika berbeda, risikonya bukan pada produknya, tapi pada asumsi penggunanya soal kapan uang itu harus sudah kembali.

Bagi pelaku usaha yang sudah terlanjur bergantung pada paylater untuk modal kerja, langkah paling murah bukan berhenti memakainya, melainkan memetakan ulang: berapa lama barang benar-benar berputar jadi uang, dan apakah tenor cicilan yang dipilih lebih pendek atau lebih panjang dari angka itu.

Sumber & transparansiBerdasarkan laporan CNBC Indonesia ↗Fakta merujuk pada sumber tersebut; kesimpulan editorial adalah analisis BOOX.