BOOX Media
BOOX PULSE Di Balik Bisnis

Uber Bilang PHK Ini Soal Manajemen, Karyawannya Bilang Soal AI

Uber memberhentikan sekitar 3.300 karyawan awal September ini dan menyebutnya sebagai pemangkasan lapisan manajemen. Enam mantan karyawan bercerita ke Business Insider bahwa AI sudah lebih dulu mengambil alih sebagian pekerjaan harian mereka.

IlustrasiMeja kerja kantor yang kosong dengan kursi terdorong ke belakang, laptop masih menyala menampilkan gelembung chat otomatis, badge berlogo Uber tergeletak di meja bersama cangkir kopi dan headset yang tidak terpakai.
Ilustrasi: meja kerja yang ditinggalkan, sementara sistemnya tetap berjalan. Ilustrasi konseptual: BOOX Media, dibuat dengan bantuan AI berdasarkan referensi visual Uber (identitas merek/logo perusahaan)

Awal September ini, Uber memberhentikan sekitar 3.300 karyawan. Dalam memo yang diumumkan CEO Dara Khosrowshahi, alasannya adalah memangkas "management layers" — lapisan manajemen, termasuk tim-tim kecil di mana seorang manajer cuma punya satu atau dua bawahan langsung. Kata AI tidak muncul sekali pun di memo itu.

Enam orang yang kena PHK dalam gelombang itu kemudian bicara ke Business Insider. Cerita mereka soal hari-hari terakhir bekerja di Uber punya nada berbeda dari memo Khosrowshahi: AI, kata mereka, sudah mengambil porsi yang makin besar dari pekerjaan sehari-hari — mulai dari membalas pesan customer service sampai menjawab pertanyaan rekan kerja di Slack.

Uber menolak memberi komentar untuk laporan itu. Yang tersisa adalah dua cerita yang berjalan sejajar tanpa pernah bertemu: satu dari memo yang menulis soal struktur organisasi, satu dari meja kerja yang sudah dikosongkan.

Genie di Slack, Glean di Chat Pelanggan

Di banyak kanal Slack internal Uber, ada chatbot bernama Genie. Menurut blog post perusahaan tahun lalu, Genie memberi "jawaban cepat dengan sitasi yang tepat dari dokumentasi internal Uber". Satu karyawan yang diwawancarai Business Insider bilang, chatbot ini sudah mengambil sebagian besar peran yang dulu dipegang manajer: menjawab pertanyaan soal kebijakan atau prosedur yang biasanya perlu ditanyakan ke atasan. "Kalau ada orang lain yang punya jawaban, dia akan membalas," kata karyawan itu. "Tapi biasanya yang membalas pertanyaan kami soal apa pun ya AI." Di sisi customer service, ceritanya mirip. Seorang mantan karyawan yang menangani keluhan pengemudi dan penumpang memakai Glean — tool serupa yang dilatih dari dokumen internal perusahaan — untuk menjawab permintaan bantuan. Jawabannya sering langsung disalin-tempel ke kolom chat. "Itu bukan yang seharusnya kami pakai," katanya, "tapi itu alat yang tersedia saat basis pengetahuan kami tidak jalan."

Dari 'Dinamit di Bawah Jembatan' sampai Rapat Klien

Salah satu karyawan yang di-PHK bercerita bahwa dalam pekan-pekan sebelum diberhentikan, ia memakai sebuah tool AI yang memangkas waktu pengerjaan tugasnya menjadi tinggal seperlima dari biasanya. "AI benar-benar terasa seperti dinamit di bawah jembatan buat banyak dari kami," katanya. Di divisi advertising, tekanannya datang dari manajer langsung. Karyawan di tim itu bilang mereka didorong memakai Gemini dan ChatGPT untuk menyiapkan pertemuan dengan klien. "Kami diminta memakai AI sepanjang waktu," katanya. "Itu bagian dari pekerjaan kami sehari-hari."

Sinyal yang Saling Bertentangan dari Dalam Perusahaan

Tidak semua bagian Uber mendorong ke arah yang sama. Beberapa karyawan mengaku manajer mereka justru mewanti-wanti soal pemakaian AI yang berlebihan. "Kami juga dapat arahan semacam, jangan pakai ChatGPT buat ngerjain tugas kamu," kata Kori X, bekas evaluation specialist di tim GenAI Uber. "Saya rasa mereka bingung sendiri, kenapa harus membayar orang-orang ini kalau mereka cuma pakai ChatGPT." Satu mantan karyawan lain bilang dia tidak merasa ditekan memakai AI sama sekali. Menurutnya, Uber mengambil pendekatan yang lebih terukur dibanding perusahaan teknologi lain — ada jam konsultasi soal AI, penjelasan soal apa yang bisa dan tidak bisa dilakukan AI, dan pembatasan pemakaian gambar hasil AI di komunikasi eksternal. Di paruh pertama tahun ini, Uber juga mulai memotong atau mengurangi kredit untuk layanan seperti Claude, menurut salah satu karyawan — sejalan dengan pernyataan eksekutif Uber saat itu bahwa perusahaan sudah menghabiskan anggaran Claude untuk setahun penuh dan belum melihat kenaikan produktivitas yang sepadan dengan biayanya.

Yang Disebut di Memo, Yang Disebut di Panggung

Dalam memo PHK, Khosrowshahi membingkai alasan pemangkasan sebagai soal struktur: ia ingin Uber punya lebih banyak "doers" dibanding manajer, dan menghapus "micro-team" di mana satu manajer cuma mengawasi satu atau dua orang. Sepekan kemudian, ia mengulang alasan yang sama dalam sebuah presentasi di konferensi industri. Tapi di panggung itu, Khosrowshahi menambahkan satu kalimat yang tidak ada di memo. Restrukturisasi ini, katanya, juga membuat Uber bisa memanfaatkan "tailwind nyata terkait produktivitas, entah itu dari AI atau teknologi produktivitas secara umum". Kalimat itu tidak menyebut AI sebagai alasan PHK, tapi menaruhnya persis di kalimat yang sama dengan alasan struktural yang sudah diumumkan sebelumnya.

BOOX PERSPECTIVE

Tidak ada bukti di sini bahwa AI menyebabkan Uber memberhentikan 3.300 orang. Yang ada adalah kesaksian enam mantan karyawan bahwa AI sudah mengambil porsi pekerjaan mereka jauh sebelum pengumuman itu, dan sebuah memo resmi yang memilih tidak menyebutnya sama sekali. Dua hal ini bisa sama-sama benar.

Yang menarik justru celahnya. Genie menjawab pertanyaan yang dulu perlu ditanyakan ke manajer. Glean menyusun jawaban customer service yang tinggal disalin. Satu tool memangkas waktu kerja jadi seperlima. Kalau porsi kerja semacam itu sudah berpindah ke sistem berbulan-bulan sebelum PHK, perusahaan tidak perlu menyebut AI di memo untuk AI tetap jadi bagian dari kalkulasi berapa banyak orang yang sebenarnya masih dibutuhkan.

Yang membuat situasi Uber berbeda dari sekadar 'PHK karena AI' adalah sinyal yang saling bertentangan di dalam perusahaan sendiri. Satu manajer mendorong pakai ChatGPT untuk menyiapkan rapat klien, manajer lain memperingatkan supaya karyawan tidak terlalu bergantung padanya. Uber sendiri sempat memotong kredit ke layanan seperti Claude pada paruh pertama tahun ini, setelah eksekutifnya mengaku belum melihat kenaikan produktivitas yang sepadan dengan anggaran yang sudah dihabiskan. Beberapa bulan kemudian, di panggung konferensi industri, Khosrowshahi menyebut AI sebagai salah satu 'tailwind' di balik restrukturisasi yang sama — restrukturisasi yang memberhentikan 3.300 orang itu.

Sumber & transparansiBerdasarkan laporan Business Insider ↗Fakta merujuk pada sumber tersebut; kesimpulan editorial adalah analisis BOOX.