Batam Mengincar 1,47 Gigawatt Data Center, Air Tidak Masuk Hitungan
BP Batam memetakan kapasitas data center di kawasannya hingga 1,47 gigawatt per September 2026. Satu risiko disebut dalam laporan itu, tapi belum punya aturan khusus yang mengaturnya.

Satu angka yang keluar dari pemetaan Badan Pengusahaan (BP) Batam bulan lalu cukup besar untuk jadi berita sendiri: 1,47 gigawatt (GW) kapasitas teknologi informasi (IT) untuk data center di Batam per September 2026, mencakup yang sudah beroperasi, yang sudah berkomitmen, maupun yang masih dalam pipeline atau rencana pengembangan.
Angka itu muncul di tengah ambisi pemerintah yang lebih besar: menjadikan Indonesia bukan sekadar pasar digital, melainkan basis produksi, inovasi, dan investasi digital di Asia Tenggara, menurut laporan Kontan Insight. Data center jadi salah satu tumpuan untuk mencapai target itu, dan Batam diposisikan sebagai salah satu gambaran besar dari peluang investasi tersebut.
Tapi di tengah laporan yang sama, ada satu kalimat yang tidak dibesarkan sama sekali: ekspansi data center berbasis AI berisiko meningkatkan tekanan terhadap sumber air apabila tidak disertai aturan khusus dan pengawasan yang memadai. Kalimat itu bukan insiden yang sudah terjadi — ia peringatan yang dilaporkan, berdiri sendiri, tanpa penjelasan lanjutan soal aturan air apa yang sudah ada dan mana yang belum.
Yang dihitung baru gigawatt
Pemetaan BP Batam yang dikutip Kontan Insight berbicara dalam satuan gigawatt kapasitas IT — ukuran yang dipakai industri untuk menggambarkan skala tenaga komputasi dan daya listrik yang dibutuhkan sebuah data center untuk beroperasi. Angka 1,47 GW ini menggabungkan tiga tahap sekaligus: fasilitas yang sudah berjalan, yang sudah ada komitmen investasinya, dan yang masih dalam pipeline. Laporan tidak merinci berapa gigawatt untuk tiap tahap, atau berapa yang berasal dari operator mana. Yang jelas ditampilkan hanya totalnya, dan total itu yang dipakai untuk menggambarkan besarnya peluang investasi di kawasan tersebut.
Satu kalimat peringatan, tanpa rincian
Laporan menyebut ekspansi data center berbasis AI berisiko meningkatkan tekanan terhadap sumber air apabila tidak disertai aturan khusus dan pengawasan yang memadai. Kalimat ini berdiri sendiri di tengah artikel, tanpa data konsumsi air, tanpa nama fasilitas yang dimaksud, dan tanpa penjelasan apakah Indonesia sudah punya atau belum punya aturan khusus soal air untuk data center saat ini. Materi yang tersedia tidak menyebutkan status regulasi itu secara eksplisit — jadi belum bisa dipastikan apakah ketiadaan aturan ini sudah terjadi atau baru berpotensi terjadi kalau pertumbuhan terus berlanjut tanpa pengawasan tambahan.
Kenapa air jadi soal untuk data center AI?
Data center berbasis AI dikenal membutuhkan sistem pendinginan yang lebih intensif dibanding infrastruktur komputasi konvensional, karena beban kerja chip AI menghasilkan panas yang lebih tinggi. Sebagian sistem pendinginan itu memakai air. Materi sumber tidak merinci teknologi pendinginan apa yang dipakai fasilitas-fasilitas di Batam, atau berapa volume air yang sudah terpakai sejauh ini — laporan hanya menyatakan risikonya, bukan angkanya. Kekhawatiran soal konsumsi air data center ini juga muncul di liputan-liputan lain belakangan, menunjukkan ini mulai jadi perhatian lintas media, meski belum ada satu sumber pun yang memberi angka pasti untuk kasus Indonesia.
Dua agenda yang berjalan di jalur berbeda
Ambisi menjadikan Indonesia basis produksi dan investasi digital Asia Tenggara berjalan di jalur kebijakan investasi dan infrastruktur telekomunikasi. Pengelolaan sumber daya air, kalau memang perlu diatur khusus untuk data center, biasanya berjalan di jalur regulasi lingkungan dan tata kelola air yang berbeda lembaganya. Laporan Kontan Insight menyandingkan keduanya dalam satu artikel, tapi tidak menjelaskan apakah dua jalur ini sudah saling terhubung lewat kebijakan tertentu di Batam atau di tingkat nasional. Yang tertulis hanya kebutuhan akan aturan khusus dan pengawasan yang memadai — frasa yang menyiratkan ketiadaan, tapi tidak menyatakannya secara langsung.
Angka 1,47 GW itu meyakinkan untuk investor yang membaca ukuran pasar, tapi tidak memberi tahu pembaca apa pun soal berapa banyak air yang dibutuhkan untuk menjalankan kapasitas sebesar itu. Ketimpangan ukuran ini yang perlu diperhatikan pelaku usaha di Batam dan kota lain yang mengincar status serupa: metrik yang dipublikasikan pemerintah dan BP Batam sejauh ini mengukur daya dan investasi, bukan dampaknya terhadap sumber daya kota yang dipakai bersama warga dan bisnis lain.
Bagi bisnis lokal yang bergantung pada pasokan air di kawasan yang sama — dari hotel sampai industri manufaktur — pertanyaan yang relevan bukan apakah data center akan datang, tapi siapa yang akan punya data konsumsi air mereka lebih dulu: operator data center, pemerintah daerah, atau justru tidak ada pihak yang memantaunya secara khusus. Laporan yang jadi sumber artikel ini tidak menjawab itu, dan ketidakjelasan itu sendiri yang jadi catatan penting.