Upah Penenun Sukarara Naik dari Rp25 Ribu Jadi Rp750 Ribu per Lembar — Begini Perubahan yang Terjadi
Sebelum punya galeri, penenun Kelompok Mina Tenun Lestari di Lombok bekerja sendiri-sendiri di rumah dan bergantung pada pengepul. Setelah Galeri Mina Tenun berdiri, upah per lembar kain naik puluhan kali lipat — dan angka itu menunjuk ke bagian mana dari rantai lama yang sebenarnya menahan harga.

Sebelum ada Galeri Mina Tenun, penenun di Kelompok Mina Tenun Lestari, Desa Sukarara, Lombok, menerima sekitar Rp25 ribu per lembar kain. Mereka bekerja sendiri-sendiri di rumah masing-masing, dengan fasilitas yang menurut CNN Indonesia belum tertata dengan baik.
Setelah galeri itu berdiri, upah yang diterima penenun bisa mencapai minimal sekitar Rp750 ribu per lembar — setelah dipotong modal kain. Sumber yang sama menyebut tiga kendala yang dihadapi penenun sebelumnya: nilai jual produk yang rendah, modal yang terbatas, dan ketergantungan pada pengepul.
Galeri Mina Tenun adalah bagian dari program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) Pertamina Patra Niaga Regional Jatimbalinus, dijalankan lewat Aviation Fuel Terminal (AFT) Bandara Internasional Lombok. Pertanyaannya bukan apakah upah naik — angkanya sudah tercatat — tapi bagian mana dari perubahan ini yang sebenarnya menyebabkan kenaikan itu.
Tiga kendala yang saling mengikat
CNN Indonesia menyebut tiga masalah yang dihadapi penenun Sukarara sebelum galeri berdiri: nilai jual produk yang rendah, modal yang terbatas, dan ketergantungan pada pengepul. Ketiganya bukan tiga masalah lepas yang bisa diselesaikan satu-satu. Penenun yang bergantung pada pengepul tidak punya posisi tawar untuk menaikkan harga jual, karena pengepul yang menentukan harga beli. Tanpa harga jual yang layak, penenun tidak punya modal untuk membeli bahan baku sendiri atau menyimpan stok — sehingga mereka kembali butuh pengepul untuk menyediakan modal di muka. Lingkaran ini yang membuat upah Rp25 ribu per lembar bisa bertahan lama meski kain yang dihasilkan sama-sama ditenun dengan tangan dan waktu yang sama.
Galeri sebagai titik jual langsung
Galeri Mina Tenun berfungsi sebagai tempat wisatawan lokal dan mancanegara membeli kain langsung dari kelompok penenun, sekaligus tempat mereka melihat proses pembuatannya. Posisi ini memotong satu lapis perantara dari rantai distribusi: penenun tidak lagi hanya menjual ke pengepul yang kemudian menjual lagi ke pembeli akhir, tapi punya saluran untuk bertemu pembeli akhir secara langsung. Kelompok Mina Tenun Lestari sendiri kini beranggotakan 22 orang, didominasi perempuan usia produktif, menurut CNN Indonesia. Program ini juga menyasar mantan Pekerja Migran Indonesia (PMI) yang kembali ke kampung halaman, dengan dukungan berupa akses bahan baku, motif, dan alat tenun gedogan.
Alat tenun yang menghasilkan listrik
Selain galeri, program Mina Tenun menghadirkan alat tenun bukan mesin (ATBM) yang dimodifikasi untuk menghasilkan energi listrik dari gerakan mekanis selama proses menenun. Listrik itu dipakai untuk mendukung pompa air dan sistem filtrasi, didukung pula oleh pembangkit listrik tenaga bayu dan tenaga surya lewat program TJSL yang sama. VP Community Involvement Development Pertamina Patra Niaga, Dian Hapsari Firasati, menyebut program ini dirancang untuk membuka akses ekonomi bagi perempuan penenun sekaligus memberi manfaat berupa akses air bersih bagi masyarakat sekitar. CNN Indonesia tidak merinci berapa besar dampak energi yang dihasilkan alat ini terhadap biaya produksi kain — sehingga belum ada dasar untuk menyebutnya sebagai sumber penghematan yang menaikkan upah penenun.
Pasar yang lebih luas lewat bazar dan Mandalika
Pertamina juga memfasilitasi produk tenun Sukarara untuk masuk ke bazar UMKM dan ajang berskala internasional, salah satunya Pertamina Grand Prix of Indonesia 2026 di Sirkuit Pertamina Mandalika. Produk yang dijual pun berkembang dari sekadar kain sarung menjadi pakaian, taplak meja, dan hiasan dinding, sebagian memakai serat nanas dan serat pisang sebagai material alternatif. Perluasan jenis produk ini sejalan dengan perluasan titik jual — keduanya sama-sama menambah jalur penenun untuk menjangkau pembeli tanpa melewati pengepul.
Materi yang tersedia menyebut tiga perubahan sekaligus — galeri sebagai titik jual langsung, alat tenun penghasil listrik, dan akses ke bazar serta Mandalika — tapi tidak merinci kontribusi masing-masing terhadap kenaikan upah dari Rp25 ribu menjadi Rp750 ribu per lembar. Pola yang terlihat dari urutan fakta yang disebutkan CNN Indonesia: galeri membuka jalur jual langsung ke wisatawan, yang berarti penenun tidak lagi sepenuhnya bergantung pada harga yang ditentukan pengepul. Alat tenun penghasil listrik, sejauh yang disebut sumber, dipakai untuk pompa air dan sistem filtrasi — bukan untuk mengurangi biaya produksi kain secara langsung.
Ini bukan berarti inovasi energinya tidak berguna; nilainya ada di tempat lain, pada akses air bersih bagi masyarakat sekitar. Tapi kalau pertanyaannya adalah kenapa upah penenun naik puluhan kali lipat, jawabannya lebih mungkin ada di perubahan siapa yang membeli kain itu, bukan di alat yang dipakai menenunnya. Angka Rp750 ribu per lembar juga disebut sebagai minimal — sumber tidak merinci rentang atasnya atau berapa banyak penenun yang sudah mencapai angka itu secara konsisten.